ADVERTISEMENT

40 Tahun Krisis Air Bersih, Warga Muara Angke Tagih Janji Anies!

Wildan Noviansah - detikNews
Rabu, 23 Feb 2022 16:31 WIB
Sejumlah warga Muara Angke melakukan aksi unjuk rasa di depan Balai Kota DKI Jakarta, Selasa (22/2). Aksi ini bertujuan meminta Gubernur Anies Baswedan memberikan bantuan fasilitas air bersih bagi warga pesisir Muara Angke.
Sejumlah warga Muara Angke melakukan aksi unjuk rasa di depan Balai Kota DKI Jakarta, Selasa (22/2). (Pradita Utama/detikcom)
Jakarta -

Warga Muara Angke, Jakarta Utara (Jakut), mengeluhkan masalah krisis air bersih. Masalah ini disebut sudah terjadi selama 40 tahun.

Warga yang juga Ketua Koperasi Konsumen Eceng Maju Sejahtera, Muslimin (41), mengatakan krisis air bersih sudah berlangsung sejak era '80-an. Diketahui saat ini krisis tersebut terjadi di tiga wilayah, yakni Blok Limbah, Blok Eceng, dan Blok Empang.

"Di kawasan Muara Angke sendiri tiga kampung yang mengalami keluhan tidak ada sama sekali pelayanan air bersih, baik sistem pipanisasi ataupun master meter," kata Muslimin saat dihubungi, Rabu (23/2/2022).

"Tahun '80-an sampai sekarang," imbuhnya.

Muslimin mengatakan selama ini warga menggantungkan kebutuhan air dari jeriken yang dibeli. Dia mengatakan harga yang ditawarkan bervariasi, tergantung jarak tempat penjualan.

"Jadi kita di Muara Angke, di kompleks kan punya instalasi pipanisasi. Jadi yang punya master meter di sana. Mereka membuat gerobak lalu diisi jeriken, diisi air, dan dijual ke kami," kata dia.

"Terus jaraknya lumayan jauh makanya harganya bervariasi ada yang Rp 4.000, Rp 5.000 bahkan ada yang Rp 7.000 semakin jauh harganya semakin lumayan," sambung Muslimin.

Rp 1 Juta Per Bulan Beli Air

Muslimin menambahkan, dalam satu bulan, warga Muara Angke harus mengeluarkan uang kurang-lebih Rp 1 juta untuk membeli air dalam memenuhi keperluannya, mulai dari minum hingga mandi.

"Kita dipaksa jadi orang kaya, karena kebutuhan air untuk konsumsi bahkan mandi harus mengeluarkan uang itu di atas Rp 1 juta per bulan," ujarnya.

Muslimin menuturkan Pemprov DKI Jakarta sudah merencanakan pembangunan program pipaniasi di wilayahnya tiga tahun lalu. Namun hingga kini program tersebut tak kunjung direalisasikan.

"Jadi awalnya pihak pemerintah akan bangun sistem pipanisasi disini. Itu yang kami tidak pernah bergerak selama ini. Mereka bilang dengan alasan bahwa wilayah kami ini akan ada penataan kampung bahasanya. Tapi ini kan air kebutuhan dasar yang tidak bisa ditunda," keluh Muslimin.

"Kalau memang sistem pipanisasi ini tidak kunjung terjadi, apa kami juga harus menunggu untuk mengkonsumsi air? Atau menggunakan air yang tidak layak," lanjut dia.

Simak selengkapnya di halaman berikutnya.

Simak juga Video: Muara Baru Krisis Air Bersih, Wagub Riza: Lapor ke Kelurahan!

[Gambas:Video 20detik]



ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT