Ayah Saya Hibahkan Rumah ke Ibu Tiri, Apakah Boleh Secara Hukum Islam?

Andi Saputra - detikNews
Jumat, 11 Feb 2022 08:41 WIB
Ilustrasi rumah
Ilustrasi rumah (Foto: Getty Images/iStockphoto/BrianAJackson)
Jakarta -

Permasalahan rumah tangga salah satunya adalah harta bersama, baik berupa harta bergerak atau tidak bergerak. Terutama terkait bila ada pergeseran hak kepemilikan. Salah satunya dialami pembaca detik's Advocate.

Hal itu menjadi pertanyaan pembaca detik's Advocate yang dikirim ke email: redaksi@detik.com dan di-cc ke andi.saputra@detik.com:

Selamat Pagi,
Nama saya Ferdy, masalah yang ingin saya tanyakan terkait hukum hibah rumah ke ibu tiri.

Ibu saya sudah meninggal, lalu ayah saya menikah lagi.
Saat ini ayah saya ingin memberikan rumah yang saat ini ditempati kepada ibu tiri saya, apakah hal tersebut dimungkinkan dalam hukum Islam?

Bila memungkinkan, bagaimana caranya dan berapa biayanya?

Informasi tambahan,
1. Rumah tersebut dibeli saat Ibu saya masih hidup.
2. Saya dan keluarga tidak ada masalah dengan niat ayah tersebut

Terima kasih

Untuk menjawab masalah di atas, tim detik's Advocate meminta pendapat hukum dari advokat Abdul Hamim Jauzie. Saat ini Abdul Hamim Jauzie juga masuk bursa anggota Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI). Berikut jawaban lengkapnya:

Yang Terhormat Pak Ferdy,

Dalam pertanyaan yang Bapak sampaikan, diketahui bahwa rumah berstatus sebagai harta bersama karena dibeli oleh ayah dan ibu Pak Ferdy saat masih hidup.

Menurut hukum, rumah tersebut harus dibagi dua terlebih dahulu antara Bapak dan Ibu. Kemudian bagian Ibu yang menjadi harta warisan yang harus diwariskan kepada ayah, Pak Ferdy dan ahli waris lainnya jika ada.

Jika Pak Ferdy tidak keberatan dengan hibah yang dilakukan ayah kepada isteri barunya atau Ibu Tiri Pak Ferdy, maka pada dasarnya tidak ada persoalan hukum lagi. Namun demikian, agar di kemudian hari tidak ada masalah hukum, maka sebaiknya dibuatkan kesepakatan atas pembagian waris. Cukup dengan keterangan waris yang dibuat di kelurahan setempat.

Setelah harta warisan ibu, yakni 50 persen dari rumah tersebut dibagi kepada ahli waris, kemudian ahli waris yang mendapatkan warisan menghibahkan kepada ayah Pak Ferdy. Sehingga seluruh harta warisan menjadi sah secara hukum milik ayah Pak Ferdy.

Kompilasi Hukum Islam (KHI) Pasal 171 huruf g menyebutkan bahwa 'hibah adalah pemberian suatu benda secara sukarela dan tanpa imbalan dari seseorang kepada orang lain yang masih hidup untuk dimiliki'.

Berpedoman pada KHI Pasal 171 huruf g tersebut, dan karena rumah sudah sah secara hukum milik ayah Pak Ferdy, maka bisa dihibahkan kepada siapa saja termasuk Ibu Tiri Pak Ferdy.

Hibah atas benda tidak bergerak, dalam hal ini adalah tanah dan bangunan di atasnya atau rumah, maka harus dilakukan di hadapan PPAT (Pejabat Pembuat Akta Tanah)/atau PPAT sementara (camat). Sedangkan besarnya biaya, atau PPAT dengan PPAT lainnya berbeda-beda. PPAT biasanya memperhatikan luas tanah dan Nilai Jual Objek Pajak atau NJOP atas rumah yang akan dihibahkan.

Semoga bermanfaat buat Pak Ferdy.

Salam,

Abdul Hamim Jauzie
Advokat Publik

Lihat juga video 'Bisakah Anak Hasil Nikah Siri Dapat Warisan?':

[Gambas:Video 20detik]