ADVERTISEMENT

Fakta di Kasus Penadah Motor Curian ABG Bekasi Diduga Buronan Densus

Tim detikcom - detikNews
Minggu, 06 Feb 2022 22:17 WIB
Dua terduga teroris ditangkap polisi karena menjadi penadah motor curian bocah A (13) dan B (14) di Bekasi
Foto: Dua terduga teroris ditangkap polisi karena menjadi penadah motor curian bocah A (13) dan B (14) di Bekasi (Dok.Polsek Tarumajaya)

A Pernah Ditangkap Polisi

A tak merasa kapok. Pasalnya, A sebelumnya pernah ditangkap polisi terkait kasus serupa. Kala itu ia dibebaskan kejaksaan dan dikembalikan ke orang tuanya.

"Si pelaku itu si A ini adalah orang yang dua bulan lalu saya tangkap juga, kasusnya ranmor juga, prosesnya masih berjalan. Nah ketika kita sudah limpahin ke kejaksaan, jadi petunjuk jaksa penuntut umum dikembalikan ke orang tuanya untuk pengawasan tidak ditahan oleh jaksa. Ternyata dia malah bermain lagi, akhirnya kita memproses," tutur Edy.

A kini dibawa ke Rumah Penitipan Anak di Jakarta Timur. Pihak kepolisian masih menunggu petunjuk jaksa terkait nasib A.

"Ya kita lihat petunjuk jaksa, karena semua kan tergantung jaksa kalau saya kemarin itu kita titipkan di daerah Cipayung, Jakarta Timur itu tempat penitipan anak, jadi nggak saya kembalikan ke orang tuanya, karena saya tahu track record-nya dia gitu," ujar Edy.

Satu Penadah Eks Napi Teroris

Fakta baru terungkap dalam kasus pencurian tersebut. MAQ, satu orang penadah ternyata merupakan eks napi terorisme.

MAQ diketahui sempat tergabung dalam jaringan MIT Poso. Dia berperan sebagai perakit senjata.

"MAQ itu mantan napi kasus terorisme kelompok MIT Poso, sedangkan S kawannya MAQ. Dia perakit senjata," tutur Kabag Banops Densus 88, Minggu (6/2/2022).

MAQ ditangkap pada tahun 2016 dan bebas tahun 2020. Aswin berkata, pihaknya tidak terlibat dalam penanganan perkara kasus MAQ di Polsek Tarumajaya.

"Bukan buronan. Kasus ini pidana, bukan perkara terorisme. Saat ini Densus 88 tidak terlibat penanganannya," papar Aswin.

Lebih lanjut, Aswin menyebut MAQ masih dalam masa monitoring deradikalisasi. Keterlibatan S terkait terorisme juga masih didalami lebih jauh.

"Jadi kita kan memang punya program untuk monitoring mantan napi ya untuk program deradikalisasi gitu, ya, reintegrasi ke masyarakat, sebenernya dia masih dalam proses monitoring juga itu. (S) Kalau sampai sekarang kita nggak bisa bilang nggak ada nggak bisa bilang ada gitu, ya," tegas Aswin.

"Kita justru menunggu kalau dari penyidik. Penyidik yang menyidik itu memiliki informasi nanti keterkaitan mereka dengan aktivitas lain bukan sekadar cuman curi motor gitu, baru nanti," imbuhnya.


(rak/rak)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT