ADVERTISEMENT

HNW Minta Museum Holocaust Ditutup agar Tak Ganggu Kerukunan Beragama

Erika Dyah - detikNews
Minggu, 06 Feb 2022 20:51 WIB
HNW
Foto: MPR
Jakarta -

Wakil Ketua MPR RI, Hidayat Nur Wahid (HNW) menyoroti dukungan terhadap berdirinya Museum Holocaust di Tondano, Minahasa, Sulawesi Utara. Ia mengkritisi museum yang berdiri pada 27 Januari 2022 lalu di kawasan yang mayoritas penduduknya beragam Kristiani ini.

Ia mengatakan Presiden RI Joko Widodo serta Pemerintah dan Parlemen RI dengan tegas mendukung kemerdekaan Palestina dari penjajahan Israel. Oleh karena itu, ia menilai Bupati Minahasa semestinya tidak mendukung berdirinya Museum Holocaust di Tondano.

Menurutnya, kehadiran museum ini sangat erat dengan whitewashing penjarahan dan penjajahan Israel terhadap Palestina. Termasuk terhadap warga Palestina yang beragama Kristiani.

Anggota Komisi VIII DPR RI ini mengingatkan agar semua pihak lebih serius menjaga kerukunan antar umat beragama di Indonesia. Salah satunya, dengan tidak terjebak manuver pihak Israel dalam menutupi tindak kejahatannya terhadap rakyat Palestina dengan beragam latar agamanya, baik kalangan Muslim maupun Kristen.

"Di tengah kesadaran kolektif masyarakat internasional, membela Palestina dari teror dan penjajahan Israel terhadap bangsa Palestina baik yang beragama Islam maupun Kristiani. Beberapa lembaga internasional, bahkan menyebut Israel mempraktikkan politik apartheid terhadap bangsa Palestina baik Muslim maupun Kristiani," ujar Hidayat dalam keterangannya, Minggu (6/2/2022).

Hidayat menjelaskan lembaga-lembaga internasional, seperti UN ESCWA, Human Rights Watch, dan Amnesty Internasional, dengan tegas menyatakan Israel menjalankan penjajahan juga memberlakukan sistem apartheid. Israel menjadikan Yahudi sebagai warga utama dan mendiskriminasi warga Muslim dan Kristen di Palestina hingga menjadi warga kelas dua.

Diketahui, bangsa Palestina dipecah belah, komunitas mereka tercerai-berai; ada yang di kawasan pendudukan Israel, di Tepi Barat, maupun dalam isolasi di Gaza. Hingga saat ini, sekitar 50% dari Muslim Palestina juga diaspora menyebar di berbagai negara dan benua. Demikian juga warga Kristiani Palestina.

Tak hanya itu, lanjutnya, zionis Israel juga menyasar warga Kristiani Palestina. Hingga pada tahun 1948, saat penjarahan itu memproklamasikan negara Israel, sekitar 50.000-an warga Kristiani Palestina terusir dari Palestina.

Sebanyak 50% kekayaan mereka dirampas oleh penjajah zionis Israel. Kejahatan Israel terhadap warga Palestina, baik Muslim maupun Kristiani pun terus berlanjut, hingga pada tahun 1967 tak kurang dari 55.000 warga Kristiani Palestina bermigrasi ke Amerika Serikat.

Hidayat menerangkan banyak juga di antara mereka yang menjadi diaspora di Amerika Selatan. Bahkan, menurut Wali Kota Betlehem, penduduk Kristiani di Betlehem mengalami penurunan drastis akibat penjanjahan Israel.

Pada 1948 saat berdirinya negara penjajah Israel, 86% penduduk Betlehem adalah Warga Palestina Kristiani. Namun di tahun 2012, warga Kristiani penduduk Betlehem tinggal 12% di tengah mayoritas mutlak penjajah Israel.

Menanggapi sejarah tersebut, Hidayat menilai wajar jika di antara pejuang kemerdekaan Palestina terdapat tokoh dari kalangan Kristiani, seperti George Habash yang merupakan pendiri Front Rakyat untuk Pembebasan Palestina, juga Nayef Hawatmeh.

Ia mengatakan para tokoh tersebut bersama Pejuang Palestina Muslim melawan penjajahan zionis Israel yang telah merusak suasana kehidupan beragama yang damai dan toleran di antara warga Palestina. Tak hanya itu, menurutnya zionis juga menghadirkan teror, penjarahan, serta penjajahan terhadap warga Palestina baik Muslim maupun Kristiani.

Selain kejahatan kemanusiaan zionis Israel terhadap Masjid Al-Aqsa dan rumah-rumah peribadatan dari kalangan umat Islam, zionis Israel juga melakukan kejahatan keagamaan terhadap warga Kristiani Palestina.

Klik halaman selanjutnya >>



ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT