Pro-Kontra Meseum Holocaust hingga Komunitas Yahudi di Minahasa Buka Suara

Tim detikcom - detikNews
Minggu, 06 Feb 2022 09:56 WIB
Museum Holocaust Yahudi di Tondano, Minahasa, Sulut menuai penolakan dari berbagai pihak. Wagub Sulut, Steven Kandouw meresponsnya dengan mengatakan bahwa Sulut menjunjung tinggi toleransi.
Museum Holocaust Yahudi di Tondano, Minahasa, Sulut (20detik)
Jakarta -

Pembukaan Museum Holocaust Yahudi, di Tondano, Minahasa, Sulawesi Utara, memicu pro dan kontra di RI. Museum tersebut diminta untuk ditutup karena tak ada relevansi dengan RI, tapi ada yang menilai demi edukasi.

Pembukaan Museum Holocaust ini diumumkan Duta Besar Jerman untuk RI, Ina Lepel melalui Twitternya pada akhir Januari lalu. Lepel, dalam video yang diunggah, dia menyebut museum ini juga yang pertama di Asia Tenggara. Museum ini dibuka atas inisiatif komunitas Yahudi di Indonesia.

"Museum sejenis ini dibuka untuk pertama kalinya di Asia Tenggara atas inisiatif komunitas Yahudi di sini. Kita arus terus mengingat kejahatan luar biasa yang terjadi dalam Holocaust. Jika tidak, kita berisiko mengulangnya lagi. Namun, jika kita ingat, kita bisa menjadi sangat waspada dan langsung bertindak apabila muncul tanda-tanda kebencian rasisme dan anti-semitisme," tuturnya, Kamis Kamis (27/1/2022).

Lepel menilai museum yang didirikan ini sebagai perkembangan yang sangat baik. Khususnya bagi pemuda untuk proses pembelajaran sejarah.

"Pendirian museum ini merupakan perkembangan yang sangat baik, khususnya museum akan menyasar anak muda sebagai sebuah pengalaman pembelajaran. Saya sangat senang bisa mengunjungi museum ini," kata Lepel.

Desakan Ditutup

Wakil Ketua Dewan Pertimbangan (Wantim) Majelis Ulama Indonesia (MUI), Muhyiddin Junaidi, menyatakan pembangunan Museum Holocaust Yahudi di Sulawesi Utara merupakan pelanggaran nyata terhadap konstitusi. Muhyiddin meminta pemerintah menghancurkan bangunan museum tersebut.

"Pemerintah Indonesia harus segera mengambil tindakan tegas dan menghancurkan bangunan museum tersebut karena itu bentuk provokatif, tendensius, dan menimbulkan kegaduhan baru di tengah masyarakat," ujar Muhyiddin, Selasa (1/2).

Muhyiddin menilai pembangunan museum holocaust di Indonesia tidak penting. Dia justru menyarankan pemerintah untuk membangun museum kebiadaban penjajah Belanda.

"Adalah sangat tepat jika Indonesia membangun museum sejarah kebiadaban Israel terhadap bangsa Palestina di Jakarta sebagai bentuk solidaritas dan dukungan Indonesia atas perjuangan rakyat Palestina untuk meraih kemerdekaan dari Zionis yang terus mendapatkan aliran dana tanpa batas dari negara adi daya dan sekutunya," ujar Muhyiddin.

Sementara itu, Ketua DPP PKS Bukhori Yusuf meminta museum tersebut ditutup lantaran tidak memiliki relevansi dengan sejarah Indonesia. Anggota Komisi VIII DPR ini meminta pemerintah mempertimbangkan untuk menutup museum tersebut. Dia meyakini museum tersebut tidak begitu penting bagi Indonesia.

"Menurut saya, museum holocaust tidak memiliki relevansi dengan sejarah dan perjuangan kemerdekaan bangsa Indonesia. Tidak penting ada di negeri kita, baiknya ditutup saja," kata Bukhori saat dihubungi, Rabu (2/2).

Lebih lanjut, Bukhori menilai jika pemerintah tetap membiarkan pembangunan museum tersebut, berarti secara tidak langsung mengakui keberadaan bangsa Yahudi. Dia menyebut museum tersebut pertanda pembaiatan terhadap kemanusiaan dan penjajahan oleh bangsa Yahudi.