ADVERTISEMENT

Inspirasi

Perjalanan Hidup Coki Tobing, Dermawan Ratusan Kaki Palsu

Marteen Ronaldo Pakpahan - detikNews
Minggu, 06 Feb 2022 18:02 WIB
Bekasi -

Coki Tobing adalah pria dermawan yang menyumbang kaki-kaki palsu bagi mereka yang membutuhkan. Belakangan, dia sempat viral karena memberi bantuan kaki palsu untuk sopir ojek online (ojol). Coki adalah pengusaha. Perjalanan hidupnya membuat dia ikhlas berbuat baik untuk orang lain.

Coki Tobing adalah CEO Delivering Dream (DREAM), perusahaan pembuat prostesis dan ortosis, atau alat bantu untuk disabilitas, bentuknya termasuk kaki palsu dan tangan palsu. detikcom mengunjungi bengkel DREAM di bilangan Grand Galaxy City, Bekasi Selatan, Kamis (3/2/2022).

Disuguhkannya air mineral kepada saya dengan ramah. Pria berjaket hitam dan bercelana jeans dihadapan saya inilah Coki Tobing. Kami tak melepas masker, menjaga protokol kesehatan di era pandemi COVID-19 yang belum berakhir. Dia mulai bercerita soal alasan dia sering memberi bantuan untuk disabilitas yang membutuhkan kaki palsu, tanpa meminta bayaran.

"Jadi saya mengapa memberikan bantuan ini, karena dulu juga saya sudah diberikan bantuan untuk sekolah," kata Coki. Sudah ratusan kaki palsu dia berikan untuk disabilitas yang benar-benar membutuhkan.

Coki Tobing pembuat kaki palsu (prostesis dan ortosis). (Dok pribadi Coki Tobing)Kaki palsu (prostesis dan ortosis) karya Coki Tobing. (Marteen Ronaldo Pakpahan/detikcom)

Coki lahir di Bekasi, 6 Agustus 1981. Pria usia kepala empat ini sudah dikarunia satu anak, dan juga istrinya tengah mengandung anak keduanya saat ini. Usahanya dalam bidang prostesis dan ortosis memang diniatkan mencari profit, namun latar belakangnya dalam meraih pendidikan hingga bisa menjalankan usaha ini membuatnya ingat orang-orang yang membutuhkan bantuan.

"Sebelum sekolah, hidup saya sangat hancur dan berantakan lah, hingga akhirnya saya sekolah dengan membangun bisnis hingga berjalan dengan baik," kata Coki.

Tahun 1998, Coki masuk Atma Jaya mengambil pendidikan Teknik Mesin. Kuliahnya hampir selesai, tapi sayang sekali dia harus berhenti pada tahun 2002. Dia drop-out (DO) dari universitas itu.

"Karena orang tua bangkrut secara ekonomi. Itu membuat saya harus ngamen di bus-bus, jadi kurir juga," kata Coki.

"Pada saat itu ayah saya sempat masuk penjara karena permasalahan hukum, jadi ya sempat berantakan lah. Itu semua membuat saya menjadi mengerti akan hidup susah," lanjutnya.

Namun kuliah yang terhenti itu tidak sia-sia. Dia mendapat ilmu teknik mesin sehingga bisa diterima kuliah kembali di Jakarta School of Prostetic and Orthotic pada 2009 dan lulus pada 2013. Dia bisa melanjutkan kuliah karena mendapat beasiswa dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI dan Nippon Foundation.

Coki Tobing pembuat kaki palsu (prostesis dan ortosis). (Dok pribadi Coki Tobing)Coki Tobing pembuat kaki palsu (prostesis dan ortosis). (Dok pribadi Coki Tobing)

Karena punya pengalaman hidup yang penuh perjuangan, dia bisa berempati dengan orang yang hidup susah. Misalnya, Pak Herry sopir ojol disabilitas yang dia bantu pada pekan lalu itu. Pak Herry berjuang sendiri membangun kaki palsu dari knalpot sepeda motor. Tentu itu adalah kaki palsu tidak standar dan tidak aman untuk Pak Herry sendiri, maka Coki ikhlas membantu, gratis.

"Motivasi saya sederhana untuk membuat kaki palsu itu, karena saya pernah hancur, saya pernah hidup yang berantakan, dan sampai suatu ketika saya mendapatkan sekolah gratis dan saya bangun bisnis," paparnya.

Disabilitas yang dia bantu adalah disabilitas yang gigih berjuang hidup namun tidak mampu secara ekonomi. Disabilitas produktif adalah golongan yang dia nilai butuh bantuannya.

Dia memulai bisnis kaki palsu, tangan palsu, dan ortosis sejak 2013. Harga kaki palsu bikinannya sekitar jutaan rupiah. Bahan prostesis dan ortosis bikinannya adalah poly propylene, plastik, stainless steel, karet, hingga titanium. Harga juga bervariasi.

"Untuk harga kaki palsu bawah lutut Rp 15 juta, sedangkan kaki palsu atas lutut Rp 25 juta," kata dia.

Sebagian keuntungan yang dia dapatkan dari usahanya ini dia sisihkan untuk membantu orang. Dia merasa bertanggung jawab terhadap nasib kaum disabilitas yang kurang mampu.

"Jadi saya mengapa memberikan bantuan ini, karena dulu juga saya sudah diberikan bantuan untuk sekolah dan saya rasa juga saya memiliki skil untuk membantu teman-teman disabilitas," kata dia.

(dnu/dnu)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT