Inspirasi

Kakek Sutrisno, Pria Kepala Delapan Sebatang Kara Menolak Minta-minta

Rifqi Mahdi Rizqullah - detikNews
Minggu, 30 Jan 2022 15:22 WIB
Sutrisno lansia semangat kerja, dulu menawarkan tenaganya di trotoar, kini berdagang buah. (Rifqi Mahdi Rizqullah/detikcom)
Sutrisno lansia semangat kerja, dulu menawarkan tenaganya di trotoar, kini berdagang buah. (Rifqi Mahdi Rizqullah/detikcom)
Jakarta -

Tinggal sebatang kara dan menjalani kehidupan sehari-hari sebagai pedagang buah dingin di usia menginjak 80 tahun, beginilah kisah inspiratif dari Sutrisno, warga Kalideres, Jakarta Barat. Dia tetap semangat bekerja di usia senja.

Diketahui Sutrisno awalnya pernah bekerja sebagai buruh lepas, semacam kuli sindang, tapi dia sendirian saja, menawarkan tenaganya sambil duduk di trotoar Blok M dengan membawa alat-alat berupa palu, sekop hingga gergaji. Kini dia memulai langkah baru mencari pundi-pundi penghasilan dari berdagang buah.

"Iya dulu saya sempat bekerja sebagai buruh harian lepas, namun semakin susah karena pandemi COVID-19. Saya berjualan buah dari tahun 2020 sampe sekarang ini," ujar pria 80 tahun tersebut kepada wartawan di kediamannya yang sederhana, Selasa (25/1/2022).

Sutrisno menuturkan bahwa ia sempat berhenti berdagang buah lantaran saat itu DKI Jakarta diguyur hujan lebat. Ia sempat balik ke pekerjaan sebelumnya untuk mengumpulkan modal sehingga ia dapat berdagang buah secara keliling kembali.

"Dari tahun 2020 di bulan September hujan terus sampe lebaran China (Imlek), saya istirahat sampai kehabisan modal. Beberapa bulan saya cari kerja dulu sana sini," ujar Sutrisno.

"Saya jualan buah lagi dari bulan Desember 2021 sampe Januari 2022 sekarang ini, sudah mulai berjualan buah. Bisa jualan buah karena sempat dapat pekerjaan untuk ngecat tembok dan dikasih Rp 500 ribu. Dari modal yang kekumpul itulah saya bisa jualan lagi sampai sekarang," ungkap Sutrisno gembira.

Ia menegaskan, walaupun di usianya yang tergolong lanjut usia, ia tetap berusaha untuk bekerja dan sangat menghindari dari sifat meminta-minta. Sutrisno mengaku pernah diberikan uang namun ia tolak karena menganggap tidak sesuai dengan prinsipnya.

"Saya Islam, Islam nggak pernah mengajarkan untuk mengemis. Lebih bagus tangan di atas daripada tangan di bawah, itu prinsip yang saya anut sampe sekarang. Saya pernah dikasih uang tanpa disuruh bekerja. Pasti saya tolak. Kayak udah nggak mampu banget jadinya (kalau diberi uang tanpa bekerja)," tegas Sutrisno.

Sutrisno, pekerja harian yang kehilangan pekerjaannya di tengah pandemi Corona (Instagram @bhimobirawa)Sutrisno pada 2020, saat masih menjajakan tenaganya sebagai kuli, di atas trotoar. Dia menolak diberi uang tanpa kerja, dia tidak mau menjadi pengemis. (Instagram @bhimobirawa)

Namun di tengah keterbatasannya, Sutrisno senang membantu orang lain. Ia meyakini bahwa ketika hidup sebagai manusia, artinya harus berguna pula kepada sesama manusia.

"Ada beberapa yang saya bantu. Ada yang saya suruh jual gorengan dan saya yang modalin. Ada juga tiga orang yang saya ajarkan bikin martabak mini. Saya tolongin kan buat membantu keluarganya juga. Manusia yang hidup itu harus berguna, yang barangkali bisa membantu orang lain."

Sutrisno sekarang hidup seorang diri. Ia berkata bahwa istrinya sudah meninggal. Tiga anaknya berada di luar kota dan sudah menjalani hidup dengan keluarga masing-masing.

"Saya di sini tinggal sendiri. Kalau anak saya di luar kota semua. Satu di Yogyakarta, satu di Cilacap, dan satu lagi di Sukabumi. Mereka masing-masing punya anak tiga, lucu ya jadi saya punya cucu sembilan," cerita Sutrisno, yang mengancik usia kepala delapan.

Simak juga 'Penjaga 'Terakhir' Warisan Gambang Kromong dari Tangerang':

[Gambas:Video 20detik]



(dnu/dnu)