Peran Komnas Perempuan Pastikan Transportasi Online Aman untuk Wanita

Dea Duta Aulia - detikNews
Senin, 24 Jan 2022 15:25 WIB
Driver Grabcar Perempuan
Foto: dok. Grab Indonesia
Jakarta -

Mewujudkan transportasi online yang aman tentu bukan hal mudah. Kenyamanan dan kemudahan yang ditawarkan penyedia layanan ride-hailing tak lantas membuat layanan ini bebas risiko. Beberapa kasus kekerasan seksual pada penumpang perempuan dan mitra pengemudi masih kita jumpai, khususnya di perkotaan. Tingginya mobilitas masyarakat bahkan hingga malam hari memungkinkan terjadinya tindak kekerasan seksual.

"Perempuan masih menjadi kelompok yang sangat rentan terhadap tindak kekerasan fisik, psikis maupun kekerasan seksual seperti pencabulan dan pemerkosaan. Kekerasan seksual bahkan dilakukan dengan cara berkomentar tentang tubuh, bersiul, hingga menggoda," kata Komisioner Komnas Perempuan Veryanto Sitohang dalam keterangan tertulis, Senin (24/1/2022).

"Kekerasan seksual masih sering terjadi karena minimnya kesadaran dan pemahaman masyarakat, oleh karena itu perusahaan teknologi ride-hailing harus melakukan langkah serius melalui kebijakan dan kode etik pelayanan," sambungnya.

Very mengatakan ada sejumlah langkah strategis yang dilakukan untuk mencegah kekerasan seksual seperti penyusunan suatu kebijakan, pembekalan Tim Penanganan Kasus, hingga mengadakan pelatihan anti kekerasan seksual.

"Kami berharap transportasi online dapat memastikan perlindungan terhadap penumpang dan mitra pengemudi khususnya perempuan termasuk rasa aman terhindar dari kekerasan seksual," kata Very.

Komisioner Komnas Perempuan Veryanto SitohangKomisioner Komnas Perempuan Veryanto Sitohang Foto: dok. Grab

Sementara itu, Director of Central Public Affairs Tirza R. Munusamy mengatakan hal serupa. Tirza mengatakan, Grab yang menjalin kolaborasi dengan Komnas Perempuan berupaya untuk memberikan kenyamanan, keamanan, dan keselamatan para penumpang. Tiga hal tersebut prioritas utama dan telah diterapkan oleh Grab sejak awal berdiri.

Implementasinya, Grab memanfaatkan teknologi agar tiga hal tersebut dapat dirasakan oleh para penumpang dan mitra pengemudi.

"Sejak awal berdiri Grab menempatkan kenyamanan, keamanan dan keselamatan penumpang sebagai prioritas utama, untuk itu kami akan terus memperkuat protokol keamanan melalui teknologi pendukung keamanan pada aplikasi, seleksi mitra pengemudi secara ketat, pencegahan sejak dini dan penanganan melalui pembekalan dan pelatihan anti-kekerasan seksual," kata Tirza.

Ia juga mengatakan, selama menjalin kolaborasi dengan Komnas Perempuan, Grab mendapatkan masukan untuk bertindak dalam upaya memberi keselamatan bagi para penumpang dan pengemudi perempuan.

Masukan dari Komnas Perempuan itulah yang kemudian diimplementasikan oleh Grab melalui 40 kode etik mitra pengemudi GrabBike dan GrabCar.

"Masukan-masukan itulah yang menjadi acuan kami dalam membuat kebijakan dan kode etik, setidaknya ada 40 kode etik mitra pengemudi GrabBike dan GrabCar beserta dengan sanksi yang diterapkan jika melanggar, misalnya sopan santun dan etika berkendara dan keamanan penumpang," ujar Tirza.

Director of Central Public Affairs Tirza R. MunusamyDirector of Central Public Affairs Tirza R. Munusamy Foto: dok. Grab

Selain memanfaatkan teknologi untuk mencegah kejahatan, Tirza mengatakan, pihaknya juga begitu ketat dalam melakukan seleksi mitra pengemudi. Serta mitra pengemudi yang lulus seleksi lalu akan dibekali sejumlah ilmu untuk turut berkontribusi dalam mencegah kejahatan seksual.

"Seleksi mitra pengemudi yang ketat, pencegahan (melalui pembekalan dan pelatihan), serta sistem penanganan insiden yang berspektif korban," katanya.

Dari sisi pengemudi, Mitra Driver GrabCar, Kevin Tambalean mengakui, untuk diterima menjadi mitra harus memenuhi sejumlah persyaratan dari Grab. Tak hanya itu, pembekalan ilmu mengenai memberikan pelayanan terbaik kepada pengguna juga turut diberikan oleh Grab.

"Saya sudah 7 tahun jadi Grab driver. Saya bersyukur, karena untuk jadi mitra driver GrabCar itu susah banget, persyaratannya banyak dan ada beberapa tahapan, mulai dari periksa berkas-berkas, kendaraan saya juga diperiksa kelayakannya," katanya.

"Pas masuk ada pembekalan, topiknya banyak, termasuk pencegahan kekerasan seksual. Gak cuma, ada kode etik yang harus saya ikuti, ada sanksi juga kalo melanggar. Saya dapat rejeki dari penumpang, otomatis saya juga harus melindungi penumpang, apalagi perempuan. Ya sama aja kaya saya melindungi keluarga, ke penumpang juga gitu," imbuh Kevin.

Kevin mengatakan, dirinya juga mendapatkan pelatihan untuk bertahan diri ketika mengalami kekerasan.

"Nggak hanya itu aja, kita juga dilatih gimana caranya kalo ngalamin kekerasan, ada fitur Pusat Bantuan di aplikasi Grab, jadi penumpang dan driver terlindungi," tambah Kevin.

Menurutnya beragam pelatihan yang diterimanya begitu bermanfaat. Sebab pelatihan tersebut mengingatkan Kevin untuk selalu memberikan pelayanan terbaik bagi pelanggan.

"Bekerja menjadi pengemudi GrabCar itu gak gampang, ada kode etik dan sanksi tegas dari perusahaan. Jadi kita terus memberikan pelayanan terbaik supaya penumpang juga memberi review yang bagus, dan saya bisa terus mencari nafkah dari pekerjaan ini," ujarnya.

"Prinsipnya, kalo penumpang memilih pakai layanan GrabCar, mereka menaruh kepercayaan sama kita untuk bisa membawa mereka sampai ke tujuan dengan selamat, itu yang kita jaga, jangan sampai penumpang kecewa, apalagi sampai ada kekerasan," tutup Kevin.

(prf/ega)