Polisi Larang Pengungsi Afghanistan Long March ke Kantor Amnesty di Menteng

Wildan Noviansah - detikNews
Rabu, 19 Jan 2022 12:06 WIB
Polisi melarang pengungsi Afghanistan long march ke kantor Amnesty di Menteng, Jakpus
Polisi larang pengungsi Afghanistan long march ke kantor Amnesty di Menteng, Jakpus. (Wildan/detikcom)
Jakarta -

Polres Metro Jakarta Pusat melarang massa aksi dari pengungsi Hazara dan pengungsi Afghanistan untuk melakukan long march ke kantor Amnesty International di Menteng, Jakarta Pusat. Sebab, hal tersebut dapat mengganggu ketertiban masyarakat.

"Dengan kamu long march, kamu mengganggu masyarakat," kata Kabaops Polres Metro Jakarta Pusat, AKBP Saufi Salamun, saat berdiskusi dengan perwakilan pengungsi, di IRTI Monas, Jakarta Pusat, Rabu (19/1/2022).

Salamun mengatakan pihaknya mendapatkan kabar bahwa pihak Amnesty tidak bisa menemui para pengungsi secara langsung karena sedang work from home (WFH). Solusinya, pertemuan akan dilakukan secara virtual.

"Kami sudah koordinasi dengan Amnesty tapi tidak di tempat, karena mereka WFH. Ini kan saya pilihan, mereka mau menerima tetapi tidak bisa tatap muka, dia mau Zoom Meeting dengan kalian," ucapnya.

Menyikapi hal itu, salah satu perwakilan pengungsi bernama Rahima mengatakan pihaknya akan ingin tetap long march menuju kantor Amnesty International.

"Kita sudah sampaikan ke masyarakat pengungsi, mereka tetap mau jalan kaki. Karena ini sudah 10 tahun tidak ada yang peduli, tidak ada yang bertanggung jawab," ujar Rahima.

"Kita ini semua sudah sakit jiwa, mereka tidak bisa tumbuh lagi. Kita tetap mau keluarkan keluhan kita," tambahnya.

Hingga pukul 11.22 WIB, para pengungsi itu masih tertahan di IRTI Monas. Sementara itu, terlihat juga beberapa petugas kepolisian berjaga di sana.

Seperti diketahui, pengungsi Hazara dan pengungsi Afghanistan berkumpul di depan IRTI Monas, Jakarta Pusat. Massa tersebut nantinya akan berdemonstrasi di Amnesty International, Menteng, Jakpus.

Salah satu koordinator aksi, Mohammad Yasin Alemi, Yasin mengatakan aksi ini dilakukan untuk memperjuangkan keadilan dan hak asasi manusia bagi para pengungsi Afghanistan di Indonesia. Dengan dilakukan aksi ini, Yasin berharap pemerintah Indonesia bisa mendengar suara dan menghentikan penderitaan yang mereka alami.

Aksi unjuk rasa ini juga menyinggung soal kematian diam-diam pada pengungsi Afghanistan. Menurutnya, hal tersebut sebagai bentuk kelalaian International Organization od Migration (IOM) di Indonesia dan United Nations High Commissioner for Refugees (UNCHR).

(fas/fas)