Akan Long March ke Kantor Amnesty, Pengungsi Afghanistan Kumpul di IRTI

Wildan Noviansah - detikNews
Rabu, 19 Jan 2022 10:43 WIB
Pengungsi Hazara dan pengungsi Afghanistan berkumpul di depan IRTI Monas, Jakpus. Massa tersebut nantinya akan demonstrasi di Amnesty Internasional, Menteng. (Wildan N/detikcom)
Pengungsi Hazara dan pengungsi Afghanistan berkumpul di depan IRTI Monas, Jakpus. Massa tersebut nantinya akan demonstrasi di Amnesty International, Menteng. (Wildan N/detikcom)
Jakarta -

Pengungsi Hazara dan pengungsi Afghanistan berkumpul di depan IRTI Monas, Jakarta Pusat (Jakpus). Massa tersebut nantinya akan demonstrasi di Amnesty International, Menteng, Jakpus.

Pantauan detikcom di lokasi, Rabu (19/1/2022) pukul 09.40 WIB, massa sudah mulai berdatangan untuk melakukan aksi damai.

Tampak mereka tengah berdiskusi terkait tuntutan dan juga aspirasi yang akan disampaikan. Diketahui mereka akan long march dari Taman Monas ke Amnesty International.

Salah satu koordinator aksi, Mohammad Yasin Alemi, mengatakan rencananya massa akan bergerak menuju Amnesty International pada pukul 10.00 WIB.

"Kita berangkat pukul 10.00 WIB, menunggu yang lain," kata Yasin kepada detikcom.

Yasin mengatakan aksi ini dilakukan untuk memperjuangkan keadilan dan hak asasi manusia bagi para pengungsi Afghanistan di Indonesia.

Pengungsi Hazara dan pengungsi Afghanistan berkumpul di depan IRTI Monas, Jakpus. Massa tersebut nantinya akan demonstrasi di Amnesty Internasional, Menteng. (Wildan N/detikcom)Pengungsi Hazara dan pengungsi Afghanistan berkumpul di depan IRTI Monas, Jakpus. Massa tersebut nantinya akan demonstrasi di Amnesty International, Menteng. (Wildan N/detikcom)

"Berjuang untuk keadilan, dan hak asasi manusia. Kami telah lelah dan frustrasi sehingga kami menyuarakannya. Kami pengungsi untuk keluar dari situasi kami saat ini," ujarnya.

"Selama hampir satu dekade, hak asasi manusia para pengungsi dilanggar, dan para pengungsi tidak memiliki hak atas pendidikan, pekerjaan atau kebebasan," imbuhnya.

Aksi unjuk rasa ini juga menyinggung soal kematian diam-diam pada pengungsi Afghanistan. Menurutnya, hal tersebut sebagai bentuk kelalaian International Organization od Migration (IOM) di Indonesia dan United Nations High Commissioner for Refugees (UNCHR).

"Karena kelalaian IOM dan UNHCR, lebih dari 100 kasus bunuh diri dan bakar diri telah dilakukan, dan 14 di antaranya berhasil melakukan bunuh diri," kata dia.

Dengan dilakukan aksi ini, Yasin berharap pemerintah Indonesia bisa mendengar suara dan menghentikan penderitaan yang mereka alami.

"Kami para pengungsi menyerukan ini kepada pemerintah Indonesia, organisasi hak asasi manusia, PBB untuk urusan pengungsi serta untuk memperjelas penderitaan para pengungsi miskin ini, untuk menyelamatkan kami dari ketidakpastian ini," katanya.

(jbr/jbr)