Serikat Mahasiswa Muslimin Diminta Bentuk Koperasi Syariah

Jihaan Khoirunnisaa - detikNews
Senin, 17 Jan 2022 21:42 WIB
MPR RI
Foto: dok. MPR RI
Jakarta -

Ketua MPR RI Bambang Soesatyo (Bamsoet) mendorong Serikat Mahasiswa Muslimin Indonesia (SEMMI) untuk melahirkan koperasi syariah yang bergerak di bidang simpanan, pembiayaan, dan investasi berdasarkan penerapan sistem bagi hasil (syariah).

Koperasi tersebut dinilainya dapat berkontribusi dalam mengembangkan potensi ekonomi syariah yang mencapai Rp 2,937 triliun berdasarkan laporan State of the Global Islamic Economy 2020/21.

"Besarnya potensi ekonomi syariah tidak lepas dari jumlah pemeluk Islam di Indonesia yang mencapai 87,2 persen dari populasi. Terlebih Indonesia juga telah naik ke peringkat 4 dari peringkat 5 dunia untuk pengembangan keuangan syariah setelah Malaysia, Saudi Arabia dan Uni Emirat Arab. Sementara, aset keuangan syariah di Indonesia menempati peringkat 7 dunia dengan total aset sebesar USD 99 miliar," ujar Bamsoet dalam keterangannya, Senin (17/1/2022).

Usai menerima pengurus SEMMI, di Jakarta hari ini, Ketua DPR RI ke-20 yang juga mantan Ketua Komisi III DPR RI Bidang Hukum & Keamanan ini menjelaskan, banyaknya pondok pesantren (ponpes) juga menjadi penguat sekaligus motor penggerak yang bisa dimanfaatkan dalam pengembangan koperasi syariah. Bamsoet mengatakan berdasarkan data Kementerian Agama, tercatat jumlah Ponpes di Indonesia pada 2020 mencapai 28.194, dengan 44,2 persen di antaranya disebut memiliki potensi ekonomi.

"Untuk mengakomodasi kemandirian pesantren, Kementerian Agama melalui Direktorat Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Kementerian Agama (Direktorat PD Pontren) pada tahun 2020 telah menyusun Peta Jalan Kemandirian Pesantren. Menunjuk secara bertahap sejumlah pesantren untuk didorong menjadi pesantren mandiri. Untuk lima tahun pertama, dirumuskan 100 pesantren menjadi piloting pada tahun 2021, lalu 500 pesantren di 2022 serta masing-masing 1.500 pesantren pada 2023 dan 2024," jelas Bamsoet.

Kepala Badan Hubungan Penegakan Hukum, Keamanan dan Pertahanan KADIN Indonesia ini menekankan, memajukan penduduk muslim melalui berbagai produk maupun industri berbasis syariah bukanlah untuk memusuhi penduduk agama lain. Melainkan sebagai alternatif jalan keluar atas kondisi dunia yang sudah carut marut akibat terlalu lama dirundung kapitalisme dan liberalisme. Sehingga menjadikan si kaya semakin melejit, sementara di sisi lainnya si miskin semakin terhimpit.

"Wajah dunia tidak boleh lagi didominasi pertentangan antara kaya dengan miskin. Melainkan harus diubah menjadi saling tolong-menolong, solidaritas antar manusia, yang memberikan kesempatan kepada siapa pun menggapai kesejahteraan dan kemakmuran," pungkas Bamsoet.

(prf/ega)