Puncak Omicron Februari Diprediksi Terjadi, Ini 4 Pernyataan Pemerintah

Tim detikcom - detikNews
Senin, 17 Jan 2022 17:41 WIB
Puncak Omicron Februari diprediksi bakal terjadi pada pertengahan Februari hingga awal Maret mendatang. Bagaimana persiapan pemerintah?
Puncak Omicron Februari Bakal Terjadi, Ini 4 Persiapan Pemerintah (Foto: Getty Images/iStockphoto/Teka77)
Jakarta -

Puncak Omicron Februari diprediksi bakal terjadi pada pertengahan Februari hingga awal Maret mendatang. Hal ini dikarenakan kasus Omicron di Indonesia tiap harinya kian bertambah.

Kementerian Kesehatan memprediksi, puncak Omicron Februari terjadi antara 35-65 hari. Kenaikan kasus pun akan terjadi cukup tinggi dan cepat.

Berikut pernyataan pemerintah tentang puncak Omicron Februari terjadi.

Puncak Omicron Februari: Masyarakat Diminta Tidak Panik

Puncak Omicron Februari disampaikan oleh Menko Marves Luhut Binsar Pandjaitan. Dia memprediksi, puncak Omicron terjadi pada Februari mendatang.

Hal ini berkaca dari pengalaman negara lain yang lebih dulu menghadapi puncak Omicron. Dari pengamatan yang ada, varian Omicron mencapai puncaknya dalam waktu 40 hari. Hal ini lebih cepat dibandingkan varian Delta.

Untuk menghadapi puncak Omicron Februari, dia meminta masyarakat agar waspada namun tidak panik. Pemerintah pun sudah menyiapkan strategi untuk menghadapi situasi tersebut.

"Berdasarkan berbagai data yang telah kami amati, berangkat dari trajectory kasus COVID-19 di Afrika Selatan puncak gelombang Omicron diperkirakan terjadi pada pertengahan Februari hingga awal Maret ini," kata Luhut dalam konferensi pers, Minggu (16/1/2022).

Dengan adanya puncak Omicron Februari, Luhut menegaskan pemerintah sudah melakukan langkah mitigasi agar peningkatan kasus Omicron dapat landau dibandingkan negara lainnya. Harapannya, kata dia, sistem kesehatan masyarakat tidak terbebani.

"Namun pemerintah akan melakukan berbagai langkah mitigasi agar peningkatan kasus yang terjadi lebih landai dibandingkan dengan negara lain, sehingga tidak membebani sistem kesehatan kita," ungkap Luhut.

Puncak Omicron Februari: Begini Strategi Pemerintah

Salah satu strategi yang dilakukan pemerintah untuk menghadapi puncak Omicron Indonesia yakni megetatkan prokes dan akselerasi vaksinasi. Tak hanya itu, pemerintah juga mengetatkan mobilitas, sehingga masyarakat tidak bepergian ke luar negeri.

"Berbagai langkah yang dilakukan adalah penegakan protokol kesehatan dan lagi-lagi akselerasi vaksinasi itu sangat penting. Dan pengetatan mobilitas akan kita menjadikan opsi terakhir untuk dilakukan. Tapi kami mengimbau kalau di kantor tidak perlu 100% ya tidak usah 100% yang hadir. Jadi diatur saja lihat situasinya apakah dibikin 75% untuk 2 minggu ke depan, itu saya kira bisa dilakukan oleh kantor masing-masing," tutur Luhut.

Puncak Omicron Februari: Transmisi Lokal Terjadi di Jakarta

Mengutip situs Kemenkes, berdasarkan situasi yang ada, Kemenkes menyampaikan 90 persen transmisi lokal varian Omicron terjadi di Jakarta. Oleh sebabnya, pemerintah menyiapkan strategi khusus guna mengantisipasi lonjakan kasus pada puncak Omicron Februari nanti.

"Kita memang harus mempersiapkan khusus DKI Jakarta sebagai medan perang pertama menghadapi Omicron ini. Kita harus memastikan di kita bisa menanganinya perang menghadapi Omicron di DKI Jakarta ini," ujar Menteri Kesehetan Budi Gunadi Sadikin.

Di sisi lain, sambungnya, pemerintah turut mengetatkan prokes yang didukung oleh implementasi PeduliLindungi. Untuk menghadapi puncak Omicron Februari pula, upaya testing dan tracing diperkuat dengan melibatkan TNI/Polri.

Untuk menghadapi puncak Omicron Februari, pemerintah bakal menggencarkan vaksinasi booster. Simak informasi lengkapnya di halaman berikutnya.