Ini 2 Faktor yang Bikin BOR RS di DKI Naik 19 Persen Sepekan Terakhir

Rolando Fransiscus Sihombing - detikNews
Senin, 17 Jan 2022 07:16 WIB
Petugas kesehatan memeriksa alat kesehatan di ruang IGD Rumah Sakit Darurat Penanganan COVID-19 Wisma Atlet Kemayoran, Jakarta, Senin (23/3/2020). Rumah Sakit Darurat Penanganan COVID-19 Wisma Atlet Kemayoran itu siap digunakan untuk menangani 3.000 pasien. ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A/Pool/aww.
Ilustrasi (ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A)
Jakarta -

Wakil Gubernur DKI Jakarta, Ahmad Riza Patria, menyebut tingkat keterisian tempat tidur atau bed occupancy rate (BOR) di 140 rumah sakit rujukan COVID-19 DKI Jakarta meningkat jadi 19%, sedangkan BOR ICU 5%. Dinkes DKI Jakarta menyebut kenaikan BOR rumah sakit sudah berjalan selama seminggu terakhir.

"Kurang lebih sekitar seminggu lah ya, enam-lima hari terakhir," kata Kabid P2P Dinkes DKI Jakarta, Dwi Oktavia kepada wartawan, Minggu (16/1/2022).

Dwi Oktavia menjelaskan bahwa kenaikan BOR rumah sakit COVID-19 di Jakarta karena dua faktor. Kedua faktor tersebut karena pasien COVID-19 meningkat dan pasien varian Omicron yang dirujuk ke rumah sakit.

"Sekarang ini kita masih, kemarin itu kan semua kasus dari PPLN (pelaku perjalanan luar negeri) yang positif dari tempat karantina dilanjutkan isolasi di rumah sakit, mayoritas kasusnya ada di rumah sakit, sehingga apapun gejalanya," ujar Dwi.

"Kalau pada periode Juli-Agustus sebelumnya, sebenarnya rumah sakit untuk gejala sedang dan berat, saat ini di awal masa awal Omicron memang ada kebijakan untuk terutama yang probable dan confirm Omicron di rumah sakit, sehingga BOR di rumah sakit tentu terjadi meningkat juga. Kemudian jadi ada kontribusi dari faktor tadi," sambungnya.

Dinkes DKI Jakarta mengakui memang adanya peningkatan kasus Corona di Ibu Kota. Kenaikan kasus baik Omicron yang terkonfirmasi dan probable, hingga kasus lokal.

"Selain kasus COVID-19-nya memang meningkat, tanpa melihat varian, kasus COVID-nya memang meningkat, baik pelaku perjalanan maupun di kasus lokal," ucap.

Dwi mengatakan yang dilakukan Dinkes DKI Jakarta terpenting saat ini adalah melacak dari kasus Corona dan kasus varian seperti Omicron. Sebab, keduanya memberi dampak kepada BOR rumah sakit COVID-19 di Jakarta.

"Iya, kemungkinan dari sebagian kasus yang ditemukan adalah Omicron baik dalam kasus yang probable maupun yang sudah diketahui Omicron. Tapi intinya pada saat kita temukan COVID-19, kita tidak perlu berpikir dia Omicron atau bukan, yang penting begitu ketemu kasus COVID-19 orangnya isolasi, terus kemudian di-tracing sekitarnya, orang yang punya riwayat bersama dengan pasien yang baru ketahuan positif COVID itu kan di-tracing, intinya di situ," sebutnya.

Simak selengkapnya, di halaman selanjutnya:

Saksikan Video 'Keterisian RS di DKI Meningkat dari Hari ke Hari':

[Gambas:Video 20detik]