LaNyalla Sebut Arah Perjalanan RI Tak Sesuai Cita-cita Pendiri Bangsa

Yudistira Imandiar - detikNews
Jumat, 14 Jan 2022 15:50 WIB
Ketua DPD RI, AA LaNyalla Mahmud Mattalitti
Foto: Dok. DPD RI
Jakarta -

Ketua DPD RI, AA LaNyalla Mahmud Mattalitti menyebut Indonesia saat ini terjerumus dalam kubangan liberalisme kapitalistik. Menurutnya, hal ini tak sesuai dengan cita-cita luhur kelahiran bangsa Indonesia, yaitu keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Dia menilai para pendiri bangsa akan menangis jika tahu arah perjalanan Indonesia saat ini. Hal itu dikatakan LaNyalla saat menyampaikan keynote speech pada acara Sekolah Pimpinan HMI dengan tema 'Genealogi Kepemimpinan Bangsa Menuju Era Emas 2045' Pengurus Besar HMI, Kamis (13/1).

Hadir pada kesempatan itu Ketua Umum PB HMI Raihan Airatama, Ketua Pelaksana Pimpinan Sekolah HMI Heno Angkotasan, Sekretaris Pelaksana Pimpinan Sekolah HMI Ali Yusuf Siregar dan para peserta Sekolah Pimpinan HMI.

LaNyalla pun menjelaskan genealogi merupakan suatu cabang ilmu yang mempelajari asal usul sejarah dan warisan budaya suatu bangsa.

"Jika kita berbicara tentang genealogi kepemimpinan bangsa, sudah tentu kita harus membedah bagaimana bangsa ini lahir dan menjadi sebuah negara," ujar LaNyalla dalam keterangan tertulis, Jumat (14/1/2022).

Untuk melihat lebih dekat cita-cita para pendiri bangsa, LaNyalla membuka rekaman beberapa percakapan para pendiri bangsa dalam sidang-sidang BPUPKI dan PPKI. Ia mengulas, Muhammad Yamin dengan tegas mengatakan Negara Rakyat Indonesia adalah Pemerintahan Syuriyah, pemerintahan yang didasarkan atas permusyawaratan antarorang berilmu dan berakal sehat yang dipilih atas faham perwakilan.

"Sementara Ki Bagoes Hadikoesoemo mengatakan bahwa kita harus mempersatukan pendapat-pendapat yang bertentangan, sehingga menjadi bulat," imbuh LaNyalla.

Sementara itu, lanjut LaNyalla, Mr Soepomo meyampaikan bahwa pengangkatan pemimpin negara itu hendaknya janganlah diturut cara pilihan menurut sistem demokrasi barat, yang menyamakan manusia satu sama lain, seperti angka-angka belaka yang semuanya sama harganya.

Lalu, sambung LaNyalla, Bung Karno memungkasi dengan mengatakan, kalau mencari demokrasi, hendaknya bukan demokrasi barat, tetapi permusyawaratan yang memberi hidup, yang mampu mendatangkan kesejahteraan sosial.

"Itulah sebagian pemikiran para pendiri bangsa yang berada dalam suasana kebatinan yang sama. Pemikiran-pemikiran jernih tersebut lahir karena mereka merasakan bagaimana menjadi bangsa yang terjajah," tutur LaNyalla.