Terjawab! 2 WNA Diisukan Kabur Karantina Ternyata Batal ke Indonesia

Yogi Ernes - detikNews
Kamis, 13 Jan 2022 16:34 WIB
Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes E Zulpan (Yogi-detikcom)
Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes E Zulpan (Yogi Ernes/detikcom)
Jakarta -

Polda Metro Jaya memberi penjelasan terkait 2 orang warga negara asing (WNA) yang sempat dikabarkan kabur dari karantina. Kedua WNA itu bukan kabur dari karantina, melainkan membatalkan penerbangannya ke Indonesia.

"Dua WNA kabur itu tidak benar, itu keliru, tidak ada. Kita hanya melakukan pemantauan," kata Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Zulpan kepada wartawan di Polda Metro Jaya, Jakarta, Kamis (13/1/2022).

Zulpan menjelaskan kedua WNA tersebut awalnya hendak melakukan perjalanan ke Indonesia melalui agen travel. Agen travel sudah menentukan hotel karantina untuk kedua WNA itu.

"WNA tersebut dari negaranya saya lupa. Dari negara mana dia akan menuju ke Indonesia melalui biro travel yang dia tuju dan juga sudah ditentukan hotelnya," katanya.

Kedua WNA tersebut ternyata membatalkan perjalanannya. Jadi saat dicek di hotel, keduanya tidak ada.

"Yang bersangkutan ini ternyata cancel dan tidak jadi berangkat, sehingga pada saat dicek di sini masih tercatat datanya. Nah itu yang ditemukan itu tidak ada itu, padahal yang sebetulnya mereka tidak jadi terbang ke Indonesia. Tidak jadi, cancel," papar Zulpan.

"Tapi data dari biro perjalanan dan data yang masuk ke Satgas namanya masih ada di hotel yang ditujunya masih ada. Nah itu sebenarnya temuan itu bukan WNA kabur, itu keliru ya," tambahnya.

Lebih lanjut, Zulpan mengatakan pengawasan kekarantinaan ada Satgas tersendiri. Adapun polisi dalam hal ini bertindak dalam ranah penegakan hukum.

"Jadi kepolisian akan melakukan langkah, satgas yang ada di hotel karena di hotel ada satgas yang mengawasi. Kalau kasatgas lapor ke kepolisian jika ada orang yang seharusnya karantina 7 hari tapi di hari kedua dan ketiga dia tidak terlihat maka akan dilaporkan ke kepolisian dan kepolisian yang akan melakukan penindakan hukum," paparnya.

(ygs/mea)