Bicara RUU TPKS, Komika Ini Curhat ke Puan Takut Tiap Naik Angkot

Dea Duta Aulia - detikNews
Kamis, 13 Jan 2022 19:06 WIB
Komika Sakdiyah Maruf di jumpa pers virtual LIFEs 2021
Foto: dok. Istimewa
Jakarta -

Ketua Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI Puan Maharani menerima audiensi dari perwakilan masyarakat, akademisi, hingga aktivis perempuan terkait Rancangan Undang-Undang Tindak Pidana Kekerasan Seksual (RUU TPKS) di Kompleks Parlemen Senayan beberapa waktu lalu.

"Ini (pembahasan RUU TPKS) maju mundur, sampai akhirnya kejadian-kejadian di akhir-akhir ini membuka mata kita semua bahwa sudah harus ada satu payung hukum yang kemudian bisa menjaga, mengayomi, serta membuat rasa aman bagi kita. Artinya negara hadir," kata Puan dalam keterangan tertulis, Jumat (14/1/2022).

Puan menegaskan pihaknya akan terus berupaya untuk mengesahkan RUU TPKS. RUU TPKS ini juga akan diagendakan untuk disahkan sebagai RUU usulan inisiatif DPR RI dalam rapat Paripurna pada 18 Januari 2022 mendatang.

"Insyaallah tanggal 18 Januari, hari Selasa depan, kami DPR, dalam Rapur akan datang akan segera mengesahkan RUU TPKS menjadi RUU inisiatif DPR RI," kata Puan.

Sementara itu, seorang perwakilan masyarakat sekaligus Komika Sakdiyah Ma'ruf turut menyampaikan aspirasinya di hadapan Ketua DPR RI.

Sakdiyah mengatakan untuk menjadi seorang pegiat seni sekaligus perempuan tidak lah mudah di dunia hiburan. Menurutnya, para pegiat seni khususnya perempuan kerap mendapatkan stigmatisasi dari masyarakat. Imbasnya stigmatisasi ini bisa menghambat banyak perempuan untuk berkarya.

"Seorang perempuan untuk tampil di panggung saja itu halangannya sedemikian besar. Stigmatisasi itu luar biasa, Bu. Bukan hanya tubuh, suara juga dianggap aurat," kata Sakdiyah.

Sakdiyah juga menyampaikan perempuan apapun latar belakang dan profesinya tidak pernah bisa lepas dari bayang-bayang kekerasan, khususnya kekerasan seksual.

"Setiap hari yang namanya naik kendaraan umum ya, Bu ya, itu mikir lho, Bu. Ini gimana caranya kira-kira kalau terjadi sesuatu? Kalau saya lompat dari motor itu selamat enggak? Gitu lho. Ini pengalaman yang kita hadapi sehari-hari," kata Sakdiyah.

Ia juga meminta agar DPR RI segera mengesahkan RUU TPKS. Sebab RUU TPKS tidak hanya dapat menjatuhi pidana terhadap pelaku kejahatan seksual saja. Namun, RUU TPKS juga bisa menjadi cara untuk melakukan pencegahan, perlindungan, dan pemulihan hak bagi korban kekerasan seksual.

"Safe space (ruang aman) bagi perempuan untuk berkarya, bersuara menyampaikan aspirasi, menyampaikan kreativitas. Itulah mengapa kami semua ini menilai urgensi RUU TPKS ini untuk segera disahkan," ujarnya.

Hal senada juga disampaikan oleh sutradara TV commercial dan music video Renny Fernandez. Ia mengatakan banyak kelompok masyarakat yang resah dan gelisah karena aksi kejahatan seksual makin marak terjadi.

"Fenomena dan kegelisahan pengesahan RUU TPKS ini bukan hanya di kalangan perempuan-perempuan yang hadir di sini, tapi juga ada di kalangan pegiat-pegiat sosial media khususnya influencer sudah mulai bersuara dan juga anak muda mulai gelisah dengan belum disahkannya RUU TPKS," kata Renny.

Ia juga meminta dan mendukung Ketua DPR RI untuk terus memperjuangkan agar RUU TPKS segera disahkan.

"Mbak Puan sebagai perwakilan perempuan yang ada di parlemen dan juga sebagai ketua DPR, saya di sini untuk mendukung mbak Puan. Ratusan orang menandatangani supaya RUU TPKS ini segera disahkan. Siapa yang tidak mau ini disahkan, berhadapan dengan kita hari ini. Semangat, mbak Puan," imbuhnya.

Manager Campaign Change.org Dhenok Pratiwi yang hadir dalam acara tersebut juga mengungkapkan, saat ini, banyak masyarakat yang ingin agar RUU TPKS segera disahkan. Pihaknya mencatat hingga saat ini sudah ada 1,3 juta suara yang konsisten untuk melakukan gerakan melawan kekerasan seksual.

"Kami berharap agar dengan disahkannya RUU TPKS ini gerakan melawan kekerasan seksual ini bisa mengepakkan sayapnya lebih tinggi lagi," tutup Dhenok.

(ncm/ega)