Polri Prediksi Hoax-Black Campaign Bermunculan Jelang Tahun Politik 2024

Adhyasta Dirgantara - detikNews
Selasa, 11 Jan 2022 19:26 WIB
Kadiv Humas Polri, Irjen Dedi Prasetyo
Kadiv Humas Polri Irjen Dedi Prasetyo (Foto: Dok. Polri)
Jakarta -

Polri mulai mendeteksi adanya eskalasi menjelang tahun politik di 2024. Polri memprediksi hoax hingga black campaign mulai bermunculan sejak tahun ini hingga 2024.

"Pengalaman tahun 2019, dan di 2022, kami sudah merasakan situasi yang kami pernah rasakan di 2019 yang lalu, di mana eskalasinya sudah mulai agak ada peningkatan. Posisinya mendekati tahun-tahun politik atau mendekati pesta demokrasi di 2024. Meskipun masih beberapa tahun lagi, tapi isu-isu yang berkembang ini sudah mulai mengarah ke sana," ujar Kadiv Humas Polri Irjen Dedi Prasetyo dalam diskusi virtual, Selasa (11/1/2022).

Dedi menjelaskan, pada 2019, Polri banyak menghadapi hoax, perang informasi, hingga black campaign. Dedi menyebut ada sekitar 170 juta pengguna media sosial (medsos) yang memerlukan literasi supaya tidak mudah terpancing berita bohong.

"Di 2019, pengalaman kami memang terjadi perang informasi, perang survei, politik identitas, black campaign, negative campaign, hoax, ini menjadi tantangan kita bersama," tuturnya.

"Data kita, 170 juta pengguna medsos aktif ini perlu literasi-literasi dalam rangka untuk meluruskan informasi, konten berita yang boleh dikatakan sangat lemah verifikasi dari sumber, sehingga muncul hoax tersebut. Perang psikologis, money politics, dan perang IT, sudah seperti itu," sambung Dedi.

Dedi menjelaskan, mulai tahun ini sampai 2024, hal serupa yang terjadi pada 2019 akan terulang. Diketahui, pemilu akan digelar pada 2024.

"Prediksi kami tahun 2022 sampai menjelang 2024, situasi-situasi seperti itu akan muncul kembali," ucapnya.

Sementara itu, Dedi membeberkan Polri akan melakukan antisipasi terhadap hoax yang diprediksi banyak terjadi ke depan. Dia berharap masyarakat Indonesia tidak mudah terprovokasi oleh orang-orang yang ingin memecah belah bangsa.

"Langkah-langkah antisipasi dari perspektif kami, kita ketahui dengan kebersamaan, meningkatkan persatuan dan kesatuan, menyadari Indonesia bangsa yang besar, terdiri dari suku agama bahasa yang sangat banyak. Jangan sampai terprovokasi oleh orang-orang yang ingin memecah belah bangsa ini," imbuh Dedi.

(drg/isa)