Sudirman Said: RI Harusnya Tingkatkan Kemampuan Riset, Bukan Mengurangi

Tim detikcom - detikNews
Senin, 03 Jan 2022 14:07 WIB
Sudirman Said Dok Istimewa
Sudirman Said (Dok Istimewa)
Jakarta -

Sudirman Said berbicara terkait Lembaga Biologi Molekuler (LBM) Eijkman yang melebur dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Dia menyebut pembentukan BRIN yang memerlukan transisi dengan melebur Eijkman tetap harus merangkul para ilmuwan dari Eijkman.

"Menurut hemat saya, mengelola para saintis, para ilmuwan, para periset tidak sesederhana mengelola birokrasi pada umumnya. Karena yang sedang kita urus adalah aset ilmu pengetahuan, aset wawasan pengalaman dan simpanan sumber-sumber pengetahuan yang sangat bernilai strategis," kata Sudirman Said kepada wartawan, Senin (3/1/2022).

Dia mengatakan prioritas utama harus diberikan pada bagaimana menyimpan, mengamankan aset berupa ilmu pengetahuan maupun pengalaman para periset Eijkman. Menurutnya, ada prinsip dalam satu bidang ilmu pengetahuan bahwa substansi itu harus mengalahkan formalitas.

"Meskipun secara regulasi birokrasi BRIN itu mengharuskan penataan-penataan, tetapi substansi bahwa para periset itu memiliki pengetahuan dan pengalaman tetap harus menjadi perhatian utama," ucapnya.

Lebih lanjut, Sudirman Said merasa prihatin atas 120 lebih ilmuwan Eijkman harus kehilangan pekerjaan gara-gara dileburnya Eijkman ke dalam BRIN. Sebab, kata dia, negara yang sedang berkembang seperti Indonesia akan membutuhkan begitu banyak ilmuwan di semua bidang. Oleh sebab itu, yang harus dilakukan Indonesia adalah memperbanyak ilmuwan, bukan kemudian mengurangi atau menelantarkan para ilmuwan.

Sudirman mengatakan, dari laporan LIPI, jumlah rasio antara jumlah penduduk dan peneliti Indonesia ini masih sangat rendah bahkan dibandingkan negara-negara di ASEAN. Kini, jumlah peneliti di Indonesia itu masih 1.071 orang per sejuta penduduk.

"Bandingkan dengan Malaysia yang sudah mencapai 2.590 orang per sejuta penduduk atau Singapura yang sudah mencapai 7.000 peneliti per sejuta penduduk dan Korea Selatan yang sudah mencapai 8.000 peneliti per sejuta penduduk, Indonesia masih jauh tertinggal," ujarnya.

Tak hanya jumlah peneliti, dari sisi dokumen penelitian terindeks internasional atau global indeks, Indonesia merupakan negara yang indeksnya paling rendah. Hingga 2020, hanya ada 212 ribu dokumen penelitian terindeks global.

"Bandingkan dengan Thailand yang sudah mencapai 223 ribu, kemudian Singapura 352 ribu dokumen, Malaysia 368 dokumen, sementara kalau kita lihat negara yang lebih maju Korea Selatan 1.307.000 dokumen penelitian terindeks global, atau Jepang yang sudah mencapai 3.074.000 dokumen," jelasnya.

Menurutnya, angka-angka di atas menunjukkan bahwa di bidang penelitian dan riset maupun inovasi, Indonesia masih harus bekerja keras. Oleh karena itu, tidak pada tempatnya apabila lembaga-lembaga yang sudah menghasilkan begitu banyak penelitian maupun inovasi, seperti Eijkman, tidak dilanjutkan keberadaannya atau orang-orang yang di dalamnya yang merupakan pilar dari eksistensi dari Eijkman harus mengalami nasib kehilangan peran atau kehilangan pekerjaan.

"Jadi keprihatinan kita adalah bukannya memperbanyak jumlah ilmuwan tapi ilmuwan yang ada pun diperlakukan tidak sebagaimana mestinya. Mudah-mudahan akan ada jalan keluar dari suasana ini," imbuhnya.

Lihat juga video 'Dipilih Jokowi Jadi Kepala BRIN, Siapa Laksana Tri Handoko?':

[Gambas:Video 20detik]



(fas/fjp)