Ancaman Pelatih Biliar Lapor Polisi Usai Dijewer Gubsu Edy

Tim detikcom - detikNews
Jumat, 31 Des 2021 21:36 WIB
Pelatih Biliar PON Khoirudin (Choki) Aritonang Menangis Karena Malu Dijewer Gubsu Edy. (Ahmad Arfah/detikcom).
Pelatih Biliar PON Khoirudin (Choki) Aritonang Menangis karena Malu Dijewer Gubsu Edy. (Ahmad Arfah/detikcom)
Medan -

Pelatih tim biliar PON Sumatera Utara (Sumut), Khoirudin Aritonang atau Choki, mengancam akan melaporkan Gubsu Edy Rahmayadi seusai insiden jeweran. Batas waktu somasi itu telah habis, hingga kini Choki belum mendapat permintaan maaf dari Gubsu Edy.

Choki menumpahkan emosinya kala bicara dalam konferensi pers di Medan, Kamis (30/12/2021). Choki mengatakan anaknya juga merasakan malu akibat aksi Edy menjewer dia.

"Belum lagi kejadian, ada anak saya, merasakan malunya. Mohon maaf, cemana pun saya malu sekali, betul," kata Choki.

Choki mengatakan video saat dia dijewer itu viral di media sosial. Banyak masyarakat yang akhirnya mengenal dirinya sebagai orang yang dijewer Edy Rahmayadi.

"Ketika mau minum kopi aja, 'Abang yang dijewer gubernur itu kan, Bang'. Allahuakbar. Maunya kalaupun terkenal jangan gara-gara ini," katanya.

Jeweran Kuat

Choki mengaku Edy menjewernya dengan kuat. Dia juga menjelaskan awal mula dirinya dipanggil, dijewer lalu diusir Edy.

"Kejadian itu pada pukul 14.00 WIB lah mulai. Dari jadwal itu kan pukul 13.30 WIB. Molor, molor, akhirnya pukul 14.00 WIB dimulai kegiatan. Mulai dari laporan ketua KONI sampai langsung gubernur, ya kan," ucap Choki.

Choki mengatakan saat itu Edy menyampaikan beberapa hal tentang pembangunan. Di tengah acara, Edy memanggilnya maju karena disebut tidak tepuk tangan saat acara.

Somasi Gubsu

Pengacara Choki, Teguh Syuhada Lubis, menilai perbuatan yang dilakukan Edy Rahmayadi merupakan pelanggaran hukum. Edy mengatakan pihaknya sedang menyiapkan langkah hukum terhadap kasus ini.

"Dalam perspektif hukum, ada tindak perbuatan yang kami anggap merupakan pelanggaran hukum," kata Teguh.

Teguh mengatakan pihaknya juga akan menyampaikan peristiwa ini kepada Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) dan DPRD Sumut. Teguh mengatakan mereka melakukan ini agar peristiwa yang sama tidak terulang.