KSP Respons PKS: Utang RI Cukup Besar tapi Masih Terkendali

Kanavino Ahmad Rizqo - detikNews
Jumat, 31 Des 2021 17:34 WIB
Ketua Tim Monitoring dan Evaluasi Pemulihan Ekonomi Nasional (Monev PEN) Kantor Staf Presiden Edy Priyono
Edy Priyono (Dok. KSP)
Jakarta -

Kantor Staf Presiden (KSP) merespons sorotan PKS terkait Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang ditaksir akan mewariskan utang lebih dari Rp 7.000 triliun. KSP menyatakan utang Indonesia memang cukup besar tapi masih terkendali.

"Utang kita memang cukup besar, tetapi masih terkendali, dikelola secara hati-hati, aman, dan produktif. Kita perlu tahu bahwa utang itu bersumber dari defisit anggaran. Defisit anggaran terjadi karena belanja negara lebih besar daripada penerimaannya. Belanja kita besar, karena ingin melakukan akselerasi pembangunan," kata Tenaga Ahli Utama KSP Edy Priyono lewat pesan singkat, Jumat (31/12/2021).

"Kalau tidak berutang, artinya tidak ada defisit anggaran, sebenarnya bisa saja. Kita sesuaikan saja belanja kita dengan penerimaan negara, tapi dengan cara seperti itu pembangunan tidak dapat diakselerasi. Jadi utang itu justru terjadi karena kita ingin mengakselerasi pembangunan," sambung Edy.

Edy menjelaskan, kondisi utang Indonesia sebenarnya relatif membaik hingga pandemi COVID-19 datang. Hal itu berdampak pada penerimaan negara yang anjlok, sedangkan di sisi lain kebutuhan belanja lebih besar, khususnya untuk mengatasi COVID-19.

"Tak terelakkan, defisit membesar, dan harus dibiayai dengan utang. Situasi pelan-pelan akan membaik jika COVID semakin terkendali. Kondisi defisit/utang 2021 lebih baik daripada 2020, dan diharapkan akan terus membaik 2022 dan seterusnya," ujar Edy.

Selain itu, Edy memaparkan mengenai sebagian besar utang dalam bentuk Surat Berharga Negara (SBN) dalam rupiah. Menurut dia, risiko hal tersebut jauh lebih rendah.

"Artinya, risikonya jauh lebih rendah dibandingkan kalau kita membiayai defisit anggaran dengan pinjaman LN (dalam valuta asing)," ujar Edy.

Lebih lanjut Edy menjelaskan upaya pemerintah dalam mengatasi masalah defisit anggaran dan utang. Upaya dilakukan dari sisi penerimaan dan sisi belanja.

"Dari sisi penerimaan, pemerintah terus berupaya meningkatkan penerimaan, khususnya dari pajak. Sedangkan dari sisi belanja, pemerintah terus berusaha meningkatkan kualitas belanja, agar setiap rupiah uang negara digunakan untuk membiayai kegiatan-kegiatan yang produktif atau dirasakan manfaatnya oleh masyarakat," ujar Edy.