ADVERTISEMENT

Kendala Kejari Selidiki Korupsi Damkar Depok: Ada Saksi yang Meninggal

Nahda Rizki Utami - detikNews
Kamis, 30 Des 2021 19:29 WIB
Konferensi Pers Kejari Depok
Foto: Nahda Rizki Utami/detikcom
Depok -

Kepala Kejaksaan Negeri Depok, Sri Kuncoro mengungkapkan adanya kesulitan saat proses penyidikan kasus dugaan korupsi seragam, sepatu, dan gaji anggota Damkar Depok. Salah satunya karena ada saksi yang sudah meninggal dunia.

Kuncoro tidak menjelaskan lebih soal siapa saksi yang sudah meninggal. Kuncoro mengatakan saksi itu merupakan seorang pejabat yang mengetahui kasus dugaan korupsi seragam, sepatu, dan gaji anggota Damkar Depok.

"Terkait alat bukti, saksi, dan surat itu pun juga kita yang ada terkendala karena ada beberapa pejabat yang mungkin sebelumnya saat mengetahui ini, saat ini posisinya sudah meninggal dunia," ujar Kuncoro.

Kuncoro mengaku pihak kejaksaan kesulitan mendapatkan keterangan. Hal itu dikarenakan adanya saksi yang sudah meninggal.

"Sehingga kita kadang-kadang agak kesulitan mau menjelaskan ini karena tanya sini yang tahu si itu, yang ini nggak tahu ke si itu. Nah, si itunya sudah meninggal," jelas Kuncoro.

Tidak hanya itu, Kuncoro juga mengatakan adanya kesulitan lain dalam proses penyidikan kasus dugaan korupsi seragam, sepatu, dan gaji anggota Damkar Depok. Hal itu karena adanya dokumen yang masih harus diverifikasi.

"Ada beberapa dokumen, tidak semuanya, tapi ada beberapa dokumen yang masih tercecer yang masih perlu dicari dan kemudian masih belum diverifikasi juga dengan pihak-pihak lain," tutur Kuncoro.

2 Tersangka

Sebelumnya, Kejaksaan Negeri Depok menetapkan dua tersangka terkait kasus dugaan korupsi seragam, sepatu, dan gaji anggota Damkar Depok. Kasus ini ditingkatkan status penyidikannya menjadi dua klaster perkara.

"Kemarin kita sudah menetapkan sementara dua tersangka terkait kasus korupsi di Dinas Damkar Depok," kata Kepala Kejaksaan Negeri Depok Sri Kuncoro di Kejaksaan Negeri Depok, Kamis, (30/12/2021).

"Sebagaimana pernah kita rilis bahwa kita di akhir September kemarin meningkatkan status penyidikannya untuk dua klaster perkara," tambahnya.

Kuncoro mengatakan di klaster pertama terkait dengan perkara tindak pidana korupsi belanja seragam PDL dan sepatu PDL pada tahun anggaran 2017-2018. Tersangka berinisial AS merupakan pejabat pembuat komitmen dalam urusan pengadaan barang dan jasa di Dinas Damkar Depok.

Adapun sebagai aparatur sipil negara, AS menjabat Sekretaris Dinas Damkar Kota Depok. Kuncoro menegaskan saat ini AS sudah tidak menjabat di posisi itu. Lebih lanjut Kuncoro juga menjelaskan terkait kerugian dalam tindak pidana korupsi belanja seragam PDL dan sepatu PDL pada tahun anggaran 2017-2018. Kerugian itu mencapai Rp 250 juta.

Tersangka AS disangkakan Pasal 2 atau Pasal 3 UU No 31 Tahun 1999 juncto UU No 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 55 KUHP.

Sedangkan klaster kedua terkait tindak pidana korupsi pemotongan upah tenaga honorer tahun anggaran 2016-2020. Tersangka berinisial A menjabat sebagai Bendahara Pengeluaran Pembantu pada Dinas Damkar Depok.

Terakhir, Kuncoro menjelaskan estimasi kerugian akibat pemotongan gaji pegawai Dinas Damkar Kota Depok. Kerugian itu mencapai Rp 1,1 miliar.

Tersangka A disangkakan Pasal 2 atau Pasal 3 atau Pasal 9 UU No 31 Tahun 1999 juncto UU No 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.

(isa/isa)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT