Boric Generasi Milenial Jadi Presiden Cile, Apa yang Bisa RI Pelajari?

Lisye Sri Rahayu - detikNews
Kamis, 30 Des 2021 16:43 WIB
Chiles President elect Gabriel Boric, of the
Gabriel Boric (Foto: AP Photo/Luis Hidalgo)
Jakarta -

Gabriel Boric (35) terpilih menjadi presiden termuda Cile mengalahkan calon presiden sayap kanan, Jose Antonio Kast. Boric dinilai memiliki tantangan dalam mengejar pertumbuhan ekonomi, mengurangi ketimpangan demi mencapai kemakmuran rakyat Cile.

"Pelajaran yang paling penting apa yang kita lihat di Cile setelah lebih 200 tahun merdeka. Bahwa tidak hanya dapat mengejar pertumbuhan semata saja dalam kerangka untuk mencapai kemakmuran," kata Direktur Eksekutif Megawati Institute, Arif Budimanta dalam diskusi virtual bertajuk 'Fenomena Demokrasi/Politik di Chile: Terpilihnya Presiden Milenial Gabriel Boric' yang digelar oleh Megawati Institute, Kamis (30/12/2021).

Arif mengatakan rakyat Cile saat ini mengharapkan keadilan dalam mendongkrak pertumbuhan ekonomi. Keadilan itu, kata Arif, di antaranya adalah pemerataan kesempatan untuk memperoleh akses pendidikan hingga layanan publik yang baik.

"Tetapi kalau melihat pengalaman kolonialisme yang ada di Cile maka kemudian yang diharapkan oleh rakyat Cile adalah keadilan yang diutamakan untuk kemudian mendongkrak pertumbuhan ekonomi. Nah keadilan dalam hal ini adalah pemerataan kesempatan, pemerataan kesempatan dalam mendapatkan akses ekonomi. Misal tanah, modal, pendidikan maupun publik services yang lainnya," ujarnya.

Salah satu program Boric, kata Arif adalah perbaikan dana pensiun untuk warganya. Dia menyebut Boric harus mengatur ulang dana pensiun yang saat ini dinilai belum mencukupi.

"Dalam konteks kerakyatan tadi itu karena aktivitas pensiun diatur secara privat di sana rata-rata para pensiun itu 130-150 USD per bulan dan itu sangat tidak mencukupi untuk menjalankan kehidupan yang layak. Maka kemudian agenda dari Boric dalam pemerintahannya adalah mengatur ulang masalah yang terkait dengan pensiun ini. Sehingga kemudian di hari tua, para masyarakat di Cile tidak berada di dalam kesulitan hidup ataupun terlantar," katanya.

Direktur Eksekutif Megawati Institute, Arif BudimantaDirektur Eksekutif Megawati Institute, Arif Budimanta (Foto: Tangkapan layar)

Pengurangan Jam Kerja Buruh

Sementara itu, Peneliti Sigmaphi, Reno Koconegoro mengatakan ada beberapa agenda yang menjadi tantangan Boric ke depannya dalam memimpin Cile. Agenda itu adalah memperbaiki ketimpangan hingga mengurangi jam kerja bagi buruh.

"Agenda Boric ke depan ada beberapa yang perlu kita highlight misalnya dengan garis ideologinya tentu kita tahu memperbaiki ketimpangan, hal-hal sosial. Tetapi secara teknikal dia juga menurunkan jam kerja dari sebelumnya 45 jam menjadi 40 jam. Artinya ada relaksasi bagi para buruh di Cile. Ke depan di bawah kepemimpinan Boric," kata Reno.

Selain itu, Boric juga disebut berkomitmen untuk memblokir pertambangan yang kontroversial di Cile. Reno menyebut tantangan Boric juga ada pada memperbaiki sistem pendidikan.

"Boric juga berkomitmen memblokir proyek-proyek pertambangan yang kontroversial yang dinilai menghancurkan kehidupan masyarakat dan lingkungan. Kemudian skema hutang pendidikan juga akan dibatalkan tentu saja uangnya juga diperoleh dari pajak dari kelompok super kaya," jelas dia.

"Dalam merespons perubahan iklim dia juga memiliki komitmen untuk meningkatkan investasi hijau. Terakhir akan berkomitmen untuk penyusunan konstitusi yang lebih progresif dan partisipatif," lanjutnya.

Lihat juga video saat 'Indonesia-Cile Tingkatkan Kerja Sama Perdagangan':

[Gambas:Video 20detik]