Roket China Bakal Jatuh Tak Terkendali ke Bumi, di Mana?

BBC Indonesia - detikNews
Jumat, 07 Mei 2021 12:00 WIB
Roket Long March 5B diluncurkan dari Wenchang, China pada 29 April (CCTV via Reuters)
Jakarta -

Sebuah roket peluncur China yang saat ini sedang mengorbit Bumi bakal kembali memasuki atmosfer tanpa kendali dan para ilmuwan tidak tahu di mana ia akan mendarat.

Sejak 1990, tidak ada benda buatan manusia seberat lebih dari 10 ton yang sengaja dibiarkan di orbit untuk jatuh kembali ke Bumi tanpa kendali. Namun dalam beberapa hari ke depan, roket Long March 5B seberat 21 ton akan menjadi salah satu peluncur terbesar yang berbuat demikian.

Dengan lebar lima meter dan panjang 30 meter, roket itu digunakan untuk membawa modul untuk stasiun luar angkasa baru China ke orbit pada akhir April. Sekarang ia bergerak dengan kecepatan sekitar 27.600 km/jam dalam orbit jatuh menuju Bumi.

Baca juga:

Koresponden sains BBC, Jonathan Amos, mengatakan roket tersebut bergerak di zona yang membentang 41 derajat ke utara dan selatan khatulistiwa - mencakup New York, Istanbul dan Beijing di utara serta Wellington dan Cile di selatan.

Dia berkata: "Jika Anda tinggal di utara atau selatan zona ini, ia tidak akan menimpa Anda, dan jika Anda tinggal di dalam zona itu, dekat dengan ekuator, kemungkinan ada sesuatu yang jatuh sangat, sangat kecil 70 % dari Bumi tertutup lautan jadi jika ada [puing-puing] yang selamat dari roket yang terbakar ketika jatuh ke bumi, kemungkinan besar ia akan berakhir di air."

Long March 5B

Roket Long March 5B membawa modul inti stasiun ruang angkasa milik China, Tianhe. (Getty Images)

Pada Mei 2020 - terakhir kali roket Long March 5B diluncurkan dari China - puing-puing dilaporkan jatuh di desa-desa di Pantai Gading Afrika Barat, termasuk pipa logam sepanjang 12 meter, meskipun tidak ada yang terluka.

Para ilmuwan memperkirakan roket itu akan jatuh pada 10 Mei, dengan marjin kesalahan kurang-lebih dua hari, dan kemungkinan besar mereka tidak akan tahu persis lokasi pendaratan roket itu sampai satu jam sebelumnya.

Sebuah peta bernama AstriaGraph, yang didanai oleh pemerintah AS, memungkinkan pelacakan semua objek buatan manusia di luar angkasa sekitar 26.000 benda.

Profesor Moriba Jah, seorang insinyur kedirgantaraan dari University of Texas yang mengerjakan proyek tersebut, mengatakan: "Ukuran benda-benda itu berkisar dari telepon pintar hingga stasiun luar angkasa dan mungkin 3.500 dari mereka adalah satelit yang masih berfungsi, sisanya adalah sampah."

Peta AstriaGraph

Graph didanai oleh pemerintah AS untuk memantau semua benda buatan manusia di ruang angkasa. (AstriaGraph/Moriba JahAstria)

Dengan maraknya eksplorasi ruang angkasa di paruh kedua abad ke-20, jumlah puing-puing ruang angkasa semakin meningkat dan bisa menjadi ancaman bagi satelit yang masih berfungsi. Ada sekitar 200 benda besar, termasuk potongan-potongan roket tua, yang berpotensi menjadi "bom waktu", menurut Profesor Jah.

"Satelit yang menyediakan layanan seperti posisi, navigasi dan waktu, transaksi keuangan, peringatan cuaca, bisa kapan saja tertabrak salah satu sampah ini dan kemudian berhenti berfungsi. Jadi dampaknya akan signifikan bagi umat manusia jika kita kehilangan sebagian sumber daya berbasis ruang angkasa ini. "

Roket Long March 5B China dapat ditemukan di AstriaGraph, dengan sebutan CZ-5B.

Ia mengitari Bumi setiap 90 menit sekali, tetapi sulit untuk memperkirakan lintasan roket yang jatuh karena ada banyak variabel dan perhitungan yang perlu dilakukan.

Jadi untuk saat ini, para ilmuwan hanya memantau penurunannya, mengantisipasi kedatangannya kembali dalam waktu dekat.

(ita/ita)