Saat Ketua MA Bicara tentang Karpet Ruang Kerja Seharga Rp 1 Miliar

Wildan Noviansyah - detikNews
Rabu, 29 Des 2021 13:13 WIB
Mahkamah Agung
Refleksi akhir tahun MA (Wildan/detikcom)
Jakarta -

Ketua Mahkamah Agung (MA) Prof Syarifuddin angkat bicara soal pengadaan karpet ruang kerjanya yang disebut-sebut mencapai angka Rp 1 miliar. Anggaran itu diungkap oleh Masyarakat Anti Korupsi Indonesia (MAKI).

"Dari mana itu dapat berita, kok karpet mahal begitu. Saya tidak tahu karpet kalau sebegitu harganya kayak apa tebalnya. Saya lihat karpet di tempat saya biasa saja," kata Syarifuddin dalam acara refleksi akhir tahun MA 2021 di gedung MA, Jalan Medan Merdeka Utara, Jakarta Pusat, Rabu (29/12/2021).

Syarifuddin mengatakan berita terkait anggaran karpet sebesar Rp 1 miliar tidaklah benar. Dia menambahkan anggaran tersebut merupakan jumlah total dari pemeliharaan sarana dan prasarana di Mahkamah Agung.

"Yang benar tidak begitu. Saya merasa karpet saya biasa saja. Mungkin kalau begitu saya harus buka sepatu ini masuknya. Sayang kita. Atau mungkin untuk kasur tidur," kata Syarifuddin dengan tertawa.

"Ternyata yang diberitakan sekian itu, semua pemeliharaan MA ini, termasuk MA pusat, termasuk di diklat. Nah untuk itu semua. Bukan untuk di karpet itu," imbuh mantan Wakil Ketua MA Bidang Yudisial itu.

Syarifuddin mengatakan isu tersebut merupakan bentuk kesalahpahaman. Untuk mengatasi hal serupa, ke depannya pihaknya akan lebih transparan terkait anggaran di MA.

"Mungkin tadi betul, apa yang disampaikan untuk lebih transparansi, sehingga tidak terjadi miss seperti itu lagi. Nanti kawan-kawan bisa tahu ini untuk apa ini berapa, anggaran bukan rahasia, untuk kita bersama. Nanti transparan dan akuntabel," beber Syarifuddin.

Karpet miliaran rupiah itu diungkap MAKI yang menyatakan MA membuat pagu anggaran Rp 9,4 miliar untuk membeli karpet ruang kerja Ketua MA. Meski akhirnya dibeli dengan harga Rp 1 miliar, MAKI menyayangkan proyek tersebut.

"Menyayangkan proyek tersebut karena terkesan mewah pada saat rakyat sedang prihatin COVID-19," kata Koordinator MAKI Boyamin Saiman kepada wartawan, Jumat (27/8/2021).

Meski pagu karpet Rp 9,4 miliar tidak terealisasi, angka Rp 1 miliar dinilai MAKI masih terlalu mahal. Terlebih, karpet itu dipakai di ruang orang nomor satu lembaga yudikatif, sehingga, menurut Boyamin, seharusnya penuh dengan simbol keteladanan dan kesederhanaan.

"Memohon untuk tidak terulang lagi proyek-proyek yang terkesan mewah karena MA adalah simbol dan keadilan, sehingga diperlukan teladan untuk sederhana sebagai perwujudan empati kepada kesejahteraan rakyat yang belum terwujud," ucap Boyamin.

(asp/asp)