ADVERTISEMENT

Refleksi 2 Tahun Pandemi, Menko PMK Beberkan Tren COVID Makin Rendah

Isal Mawardi - detikNews
Selasa, 28 Des 2021 10:58 WIB
Menko PMK Muhadjir Effendy di Universitas Gunadarma, Depok, Jawa Barat, Minggu (6/6/2021).
Foto: Menko PMK Muhadjir Effendy (Rakha/detikcom)
Jakarta -

Menko PMK Muhadjir Effendy membeberkan tren COVID-19 yang makin rendah di Indonesia. Kasus positif COVID di Tanah Air terus melandai 3 bulan terakhir.

"(Kondisi) Covid sekarang menunjukkan suasana perbaikan semakin baik, bisa dilihat tren kasus harian nasional terus melandai 3 bulan terakhir, dalam 2 minggu terakhir Covid baru semakin rendah rata-rata berkisar 90-250 kasus per hari," ujar Muhadjir Effendy dalam webminar Refleksi 2 Tahun Pandemi dalam tema 'Peran dan Kontribusi Muhammadiyah dalam Penanganan Pandemi Covid-19', Selasa (28/12/2021).

Muhadjir mengatakan tren positivity rate juga semakin rendah yakni hanya sekitar 0,1 atau 0,2% pada minggu lalu. Hal ini jauh berbeda dengan kondisi pada minggu dan bulan yang sama pada tahun lalu, yakni positivity ratenya 13,6%.

"Berarti (pada Desember 2020) dari 100 orang yang diperiksa di laboratorium ditemukan 13-14 orang yang positif, bukan positif hamil ya, namun pada saat ini dari 100 orang yang diperiksa laboratorium testing, hanya 0,1 atau 0,2 (persen), atau 1-2 (orang) positif per 1000 orang, ini kondisi yang harus kita syukuri, kita berada dalam kondisi yang menurut saya paling rendah mungkin di dunia," jelas Muhadjir.

Sementara, Ketum PP Muhammadiyah Haedar Nasir, juga bercerita mengenai refleksi 2 tahun pandemi Corona di Indonesia. Kala pandemi terjadi di Indonesia, kata Haedar, terjadi perbedaan pendapat yang sangat tinggi terkait pandangan agama soal musibah.

"Ketika Covid melanda dunia dan bangsa, betapa musibah besar ini selain membawa berita besar dimana selain korban yang terkonfirmasi positif yang luar biasa besar di tingkat internasional, tapi di negeri kita banyak dialektika problem dan berbagai kepentingan dan pandangan. Tidak mudah kita cari titik temunya dan disaat kita menghadapi musibah betapa persoalan seperti ini menjadi bagian yang melekat dengan musibah itu sendiri," jelasnya.

Salah satu yang disinggung Haedar, terkait ibadah di rumah. Haedar bercerita adaptasi kebijakan ibadah di rumah melalui proses yang panjang.

"Bagaimana kita adaptasi beribadah di rumah memerlukan proses panjang, sampai ada yang mengklaim atau beranggapan muhamadiyah cenderung terlalu rasional, mengikuti mengikuti mazhab who dalam beribadah, padahal kita mahzabnya rasullullah," kata Haedar.

Simak juga 'Obat Covid-19 Molnupiravir Bisa Digunakan Awal Januari Setelah Dapat Izin BPOM':

[Gambas:Video 20detik]



(isa/imk)


ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT