Bobby Perintahkan Anak Buah Angkut Tumpukan Tanah Bikin Macet di Simalingkar

ADVERTISEMENT

Bobby Perintahkan Anak Buah Angkut Tumpukan Tanah Bikin Macet di Simalingkar

Datuk Haris Molana - detikNews
Senin, 20 Des 2021 16:15 WIB
Tumpukan tanah galian di Simalingkar Medan bikin macet (Datuk-detikcom)
Tumpukan tanah galian di Simalingkar Medan bikin macet. (Datuk/detikcom)
Medan -

Warga di Simalingkar, Medan, mengeluhkan tumpukan tanah proyek drainase di pinggir jalan yang membuat macet karena tak diangkut. Wali Kota Medan Bobby Nasution memerintahkan anak buahnya segera mengangkut tumpukan tanah itu.

"Ini sudah capek saya bilang sama PU. Begitu dikeruk itu langsung diangkat. Kemarin juga hujan berapa hari berturut-turut. Itu kalau dikerok masuk lagi," kata Bobby di Medan, Senin (20/12/2021).

Dia juga menyebut ada proyek yang malah dikerjakan saat hujan. Bobby mengaku telah menegur anak buahnya gara-gara masalah tersebut.

"Ada juga pengerjaan kemarin saya lihat lagi hujan lagi gerimis malah dikerjain. Ini menjadi teguran bagi saya kepada mereka," sebut Bobby.

Bobby kemudian berjanji bakal membersihkan tumpukan tanah itu. Dia mengatakan bakal memerintahkan anak buahnya membersihkan tumpukan tanah dari jalanan di Simalingkar hari ini.

"Nanti, hari ini saya minta bersihkan," ujar Bobby.

Sebelumnya, warga di Simalingkar, Medan, mengeluhkan tanah galian yang menumpuk di pinggir jalan. Warga mengeluh karena tumpukan tanah itu membuat macet serta menyulitkan aktivitas warga.

Pantauan detikcom di Jalan Karet Raya, Simalingkar, Medan, pukul 15.00 WIB, Senin (20/12), tanah sisa galian proyek drainase itu terlihat bertumpuk di pinggir jalan.

Tumpukan tanah dan lubang galian proyek drainase itu membuat sejumlah warga tak bisa keluar-masuk rumah atau toko. Kemacetan juga terjadi karena jalanan yang semakin sempit.

"Memang dampaknya itu besar, besarnya itu di kita. Ini memang untuk bersama tapi maksudnya kita kan jualan, kita cari pendapatan harian, kalau dibuat kayak gini, kami ini rasa, kok ini tanah ditutup di depan. Kami keluar aja nggak bisa. Jangankan mau cari makan, keluar aja kek nggak dikasih. Emangnya di sini nggak ada orang hidup, ada yang hidup. Kami jualan pendapatan kami harian," kata salah satu pedagang, Utak.

(dhm/haf)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT