Tangis Tertahan Munarman Saat Sampaikan Nota Keberatan

Tim detikcom - detikNews
Kamis, 16 Des 2021 09:00 WIB
Munarman selesai menjalani pemeriksaan sebagai saksi terkait kasus penculikan dan penganiayaan Ninoy Karundeng. Munarman tampak meninggalkan Polda Metro Jaya.
Munarman (Rifkianto Nugroho/detikcom)
Jakarta -

Munarman kemarin membacakan nota keberatannya di persidangan. Mantan Sekum FPI itu terdengar seperti menahan tangis saat mengawali pembacaan eksepsinya.

Persidangan Munarman itu digelar di PN Jakarta Timur, Kamis (16/12). Munarman mulanya mengaku merasa terzalimi selama 8 bulan terakhir.

"Selama 8 bulan saya dizalimi, penangkapan yang sewenang-wenang dengan tuduhan yang direkayasa melalui case building yang dikaitkan dengan peristiwa pidana pihak lain yang tidak ada hubungan kausalitas dengan saya. Semoga semua yang memfitnah saya melalui berbagai rekayasa yang sistematis tersebut mendapat azab dari Allah SWT," tutur dia sambil terisak.

Suara Munarman pun terdengar seperti menahan tangis. Namun belum diketahui apakah Munarman meneteskan air mata atau tidak dalam sidang karena ruang sidang Munarman tertutup. Para wartawan yang meliput hanya mendengarkan suara Munarman melalui pengeras suara yang disediakan pengadilan di depan ruang sidang.

Singgung Aksi 212

Keberatannya menyinggung aksi 212 pada Desember 2016. Munarman mengatakan peristiwa itu merupakan salah satu bukti yang dianggap menunjukkan bahwa dia bukan teroris.

"Dilihat dari rangkaian dakwaan, seolah-olah saya menggerakkan orang untuk melakukan terorisme adalah sungguh bertentangan fakta peristiwa. Dapat saya jelaskan fakta peristiwa saat ini adalah Desember 2016 saya jadi korlap aksi 211. Dalam acara tersebut hadir hampir seluruh pejabat tinggi negara ini, mulai Presiden, Wakil Presiden, Menko Polhukam, Panglima TNI, Kapolri, Pangdam, Kapolda, dan beberapa menteri lainnya, bahkan Kepala BNPT yang saat ini juga hadir," kata Munarman.

Menurut Munarman, jika dakwaan jaksa benar dia adalah teroris, aksi 212 saat itu tidak aman. Nyatanya, kata Munarman, aksi itu berlangsung damai.

"Kalaulah tuduhan yang disematkan pada saya itu benar untuk mempersiapkan terorisme, yaitu berupa menimbulkan suasana teror atau rasa takut terhadap orang secara meluas, atau untuk menimbulkan korban yang bersifat massal, melalui tindakan kekerasan, pembunuhan, atau penghilangan nyawa, perampasan kemerdekaan, pengeboman atau perusakan fasilitas publik lainnya, maka sudah dapat dipastikan bahwa seluruh pejabat tinggi yang hadir di Monas tanggal 2 Desember 2016 tersebut sudah pindah ke alam lain," ucapnya.

"Sebab, kesempatan tersebut kesempatan emas bagi orang yang otaknya otak teroris dan keji. Namun, faktanya, para pejabat tinggi negara aman dan baik-baik saja. Bahkan bisa menjabat terus hingga saat ini," lanjutnya.

Munarman mengatakan saat itu dia berdekatan dengan pejabat yang hadir. Sekali lagi dia mengatakan aksi itu adalah bukti bahwa dia bukan teroris.

Lebih lanjut Munarman juga mengaku sering mengunjungi gedung-gedung pemerintahan. Dia juga memiliki akses keluar-masuk di beberapa gedung pemerintahan sehingga itu juga dinilai sebagai bukti dia bukan teroris.

"Sejak 2016 hingga 2020, saya berkali-kali berkesempatan mengunjungi gedung-gedung petinggi negara, bertemu dengan para pejabat negara, dan semuanya berlangsung tanpa ada kejadian yang mengarah pada tindakan terorisme apa pun. Padahal akses saya terhadap gedung-gedung tersebut dan terhadap para pejabat yang saya temui terhitung tanpa halangan," ujar dia.

"Akal sehat orang waras sudah pasti melihat bahwa perkara a quo hanya dagelan. Sebab, bertentangan dengan logika akal sehat," tambahnya.

Simak Video 'Munarman Terisak-isak Bacakan Eksepsi: Saya Dizalimi!':

[Gambas:Video 20detik]