Profesor Geoteknik Nilai Sumur Resapan Jakarta Kurang Efektif Serap Air

Danu Damarjati - detikNews
Selasa, 14 Des 2021 19:41 WIB
Sumur resapan di Lebak Bulus, Jaksel, dikeluhkan pengguna jalan. Pasalnya, pengendara mesti melintas agak ke tengah jalan demi menghindari sumur resapan.
Foto ilustrasi sumur resapan. (Andhika Prasetia/detikcom)
Jakarta -

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta yang dipimpin Gubernur Anies Baswedan tengah mengerjakan sumur resapan di puluhan ribu titik dalam Ibu Kota. Ahli tanah (geoteknik) menilai sumur resapan itu kurang efektif menyerap air.

"Efektivitas sumur resapan seperti yang dibangun DKI saat ini amat kurang karena tidak diperhitungkannya hubungan antara kecepatan turunan hujan versus lambatnya air tersebut meresap ke dalam tanah," kata Profesor Chaidir Anwar Makarim kepada detikcom, Selasa (14/12/2021).

Profesor Chaidir Makarim adalah ahli geoteknik dari Teknik Sipil Universitas Tarumanagara. Geoteknik adalah cabang teknik sipil yang mempelajari material bumi menggunakan prinsip mekanisme tanah dan batuan, yang bertujuan mendapatkan solusi atas permasalahan teknis.

Prof Chaidir Anwar Makarim (Sumber: Situs Universitas Tarumanegara)Prof Chaidir Anwar Makarim (Sumber: Situs Universitas Tarumanegara)

Menurut Prof Chaidir Makarim, tanah di Jakarta berjenis tanah merah dengan koefisien permeabilitas (k) yang spesifik. Permeabilitas adalah kemampuan suatu materi dalam meloloskan partikel dengan menembusnya (menyerap). Koefisien permeabilitas tanah merah Jakarta adalah k=0,0001 sampai 0,00000001 cm/detik. Genangan terjadi karena lambatnya air meresap ke dalam tanah Jakarta.

"Kekurangefektifan sumur resapan yang sekarang digunakan antara lain karena, pertama, dinding tabung beton tidak diperlukan karena ini mengurangi daya serap sistem," ujar Chaidir Makarim.

Memang, sumur resapan punya material buis beton sebagai dinding sumurnya. Kedalamannya 2,75 meter meskipun bervariasi antara lokasi satu dan lokasi lainnya. Namun, dinding sumur berupa beton seperti itu mengurangi kemampuan tanah menyerap air. Selain itu, pembangunan mengganggu kepentingan mobilitas warga.

"Menempatkan tabung resapan beton di jalan raya mengganggu lalu lintas dan amat mungkin mengganggu peraturan tentang konstruksi jalan raya itu sendiri," ujarnya.

Chaidir berpendapat istilah 'sumur' dalam 'sumur resapan' sendiri kurang tepat karena sumur mengacu pada kedalaman (deposit) permukaan air tanah, bukan penyimpanan (storage) sebagaimana dimaksudkan dalam pembangunan sumur resapan. Meski begitu, sumur resapan memang bisa mengurangi banjir dan genangan.

"Mengurangi banjir? Bisa asal volume depositnya maksimal," ujar Chaidir.

(dnu/aik)