Begini Sepak Terjang Novel Baswedan Dkk yang Kini Perkuat Polri

Tim detikcom - detikNews
Rabu, 08 Des 2021 06:57 WIB
Sebanyak 52 eks pegawai KPK mengikuti sosialisasi pengangkatan ASN Polri hari ini. Novel Baswedan ikut serta ikut sosialisasi.
Sejumlah eks pegawai KPK saat mengikuti sosialisasi pengangkatan ASN Polri (Foto: Andhika Prasetia/detikcom)

Para mantan pegawai KPK yang kini bergabung ke Polri itu bukanlah orang-orang bermasalah sehingga dikeluarkan dari KPK. Mereka meyakini sengaja disingkirkan oleh Pimpinan KPK saat ini dengan modus Tes Wawasan Kebangsaan (TWK).

Ambil contoh paling nyata yaitu Novel Baswedan. Berkarier di KPK sejak 2014 Novel turut andil dalam sejumlah kasus besar hingga saat ini. Beberapa kasus besar pernah ia tangani antara lain kasus proyek simulator SIM, korupsi Wisma Atlet, korupsi e-KTP, kasus suap eks Sekretaris MA Nurhadi, hingga kasus suap eks Ketua MK Akil Mochtar.

Selain itu, Novel terlibat dalam operasi tangkap tangan atau OTT 'kelas menteri'. Terakhir dia ikut dalam OTT KPK terhadap dua menteri yakni Edhy Prabowo dan Juliari P Batubara.

"Tentunya tidak semua hal bisa saya jelaskan dan tidak semuanya bisa saya sampaikan ke publik ya. Tapi, terlepas dari itu semua, seharusnya, ketika menangani suatu perkara itu, tidak ada interest, tidak ada kepentingan apa pun," kata Novel dalam sebuah diskusi daring, Kamis (10/12/2020).

"Kita hanya melihat dari kepentingan penegakan hukum dan dilakukan dengan objektif dan profesional," imbuh Novel.

Sebanyak 52 eks pegawai KPK mengikuti sosialisasi pengangkatan ASN Polri hari ini. Novel Baswedan ikut serta ikut sosialisasi.Sebanyak 52 eks pegawai KPK saat mengikuti sosialisasi pengangkatan ASN Polri (Foto: Andhika Prasetia/detikcom)

Seorang lagi mantan pegawai KPK yang kini memperkuat Polri yaitu Harun Al Rasyid, yang dikenal sebagai raja OTT. Julukan itu disebut Harun Al Rasyid didapatnya dari Firli Bahuri, yang kini menjabat Ketua KPK.

Cerita itu disampaikan Harun Al Rasyid dalam tayangan di kanal YouTube Najwa Shihab yang diunggah pada 28 Mei 2021. Kala itu, menurut Harun, Firli bertugas sebagai Deputi Penindakan KPK saat memberikan julukan 'raja OTT' kepadanya.

"Saya punya hubungan yang lebih khusus kalau dengan Firli. Jadi, ketika dia jadi deputi, saya dijuluki sama Firli itu raja OTT karena OTT terbanyak itu adalah pada saat Firli jadi deputi, 2018," kata Harun pada Najwa.

"Waktu itu 29 OTT," imbuh Harun.

Ada lagi sosok lain yaitu M Praswad Nugraha. Sebelumnya mendapat amanah di KPK sebagai penyidik.

Dia salah satu penyidik senior yang dimiliki KPK tetapi malah disingkirkan. Terakhir Praswad membongkar perkara suap di balik dana bantuan sosial atau bansos penanganan pandemi COVID-19 yang menjerat Juliari Batubara selaku Menteri Sosial (Mensos) kala itu.

Menyusul kemudian ada nama Giri Suprapdiono. Sebelumnya di KPK sebagai Direktur Sosialisasi dan Kampanye Antikorupsi, Giri mengabdi sejak 2005. Ironisnya Giri kerap menjadi narasumber tentang wawasan kebangsaan dan antikorupsi di SESKOAD, Lemhanas, Sespim Polri dan Intelstrat BIN dan ITB tapi disebut tak lulus TWK.

Dan tak lupa tentunya adalah Ambarita Damanik, Rizka Anungnata, dan Yudi Purnomo. Damanik salah satu penyidik senior yang kerap luput dari sorotan kamera. Tak heran, tugasnya sebagai penyidik memang bukan untuk diumbar.

Terakhir Damanik bersama Rizka, Yudi, dan Novel membongkar makelar perkara di internal KPK sendiri. Waduh!

Adalah kasus suap yang menjerat AKP Stepanus Robin Pattuju, penyidik KPK yang berasal dari Polri. AKP Robin merupakan penyidik baru KPK dari Polri yang baru bertugas sekitar 2 tahun tapi ulahnya tak main-main.

Robin diketahui menerima suap dari sejumlah pihak termasuk salah satunya adalah nama besar yaitu Azis Syamsuddin selaku Wakil Ketua DPR. Belakangan Azis Syamsuddin juga dijerat sebagai tersangka.

Dengan prestasi mentereng tentu menjadi jaminan bagi Polri yang kini menaungi mereka. Namun ngomong-ngomong, Novel dulu pernah memuji Jenderal Sigit. Apa katanya?