Salam Hormat Eks Pegawai KPK ke Kapolri Meski Pilih Jalan Berbeda

Tim detikcom - detikNews
Selasa, 07 Des 2021 14:03 WIB
Sebanyak 52 eks pegawai KPK mengikuti sosialisasi pengangkatan ASN Polri hari ini. Novel Baswedan ikut serta ikut sosialisasi.
Novel Baswedan dkk di Mabes Polri (Andhika Prasetia/detikcom)
Jakarta -

Selepas polemik Tes Wawasan Kebangsaan (TWK), para mantan pegawai KPK menemui tikungan jalan. Sebagian di antaranya menyambut tangan Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo, sisanya memilih jalan berbeda.

Sejatinya ada 57 mantan pegawai KPK yang digaet Jenderal Sigit untuk menjadi aparatur sipil negara (ASN) di Korps Bhayangkara. Namun seorang di antaranya telah lebih dulu berpulang, yaitu Nanang Priyono.

Lalu 56 mantan pendekar antikorupsi di KPK itu--termasuk Novel Baswedan--memenuhi undangan Polri. Singkat cerita, 44 orang di antaranya, termasuk Novel Baswedan, menerima tawaran Polri, sedangkan 12 lainnya menolak.

"Ya 44 sudah oke semua. Yang tidak bersedia 12," ujar Kadiv Humas Polri Irjen Dedi Prasetyo kepada wartawan, Selasa (7/12/2021).

Selanjutnya 44 orang itu mengikuti uji kompetensi menjadi ASN Polri. Uji kompetensi tersebut bertujuan memetakan kemampuan Novel Baswedan dkk untuk nantinya ditempatkan sesuai dengan kemampuan masing-masing.

"Hanya mapping. Sesuai kompetensi untuk ditempatkan pada ruang jabatan yang sudah disiapkan. Nggak ada (untuk menentukan lulus atau tidak)," ujar Dedi.

Pilihan Sulit bagi Novel Baswedan

Di sisi lain Novel Baswedan sempat blak-blakan soal pilihannya kembali ke institusi Polri yang juga pernah menjadi 'rumahnya'. Menurut Novel, kembali ke pangkuan Korps Bhayangkara untuk menjadi ASN Polri merupakan pilihan sulit tapi harus dilakukan.

"Ya memang tadi saya katakan pilihannya sulit ya, tapi ketika melihat korupsi terjadi seperti tidak terus kemudian menjadi lebih baik dan upaya pemberantasan korupsi juga ternyata justru malah tidak, tidak semakin meningkat, tentu pilihannya mau berbuat atau tidak berbuat gitu," kata Novel Baswedan.

Novel menyadari upaya pemberantasan korupsi tanpa didukung dengan kewenangan akan sulit berjalan secara optimal. Karena itulah, Novel menerima tawaran menjadi ASN Polri di bidang pencegahan sebagai pilihan untuk memberantas korupsi.

"Saya juga merasa bahwa ketika tidak ada kewenangan, juga akan lebih sulit untuk melakukan upaya pemberantasan korupsi dengan lebih optimal, tapi ketika kewenangannya ada di pencegahan saya kira sementara ini pilihannya cuma itu," ungkapnya.

Lalu bagaimana untuk rekan-rekan Novel lainnya yang memilih jalan berbeda?

Tonton juga Video: Polri Buat Regulasi soal Perekrutan Eks Pegawai KPK

[Gambas:Video 20detik]