Sidang Kasus Km 50

Cekcok Jaksa Vs Briptu Fikri Pecah soal Siapa Tembak Laskar FPI

Yulida Medistiara - detikNews
Selasa, 07 Des 2021 19:05 WIB
Briptu Fikri Ramadhan di sidang PN Jaksel
Terdakwa Briptu Fikri Ramadhan (Foto: Yulida/detikcom)
Jakarta -

Terdakwa Briptu Fikri Ramadhan mengaku tidak tahu siapa yang menarik pelatuk senjatanya ketika sedang terjadi perebutan senjata dengan anggota laskar FPI di dalam mobil. Terjadi perdebatan di dalam sidang hingga akhirnya Briptu Fikri mencabut BAP terkait adanya perbedaan keterangan di sidang dan di BAP, hingga akhirnya jaksa akan menghadirkan saksi verbalisan untuk menguji kesaksian Briptu Fikri.

Awalnya Briptu Fikri duduk bersama seorang anggota laskar FPI di kursi tengah, sedangkan tiga anggota laskar FPI duduk di kursi belakang. Saat itu dia mengaku sedang menginterogasi para korban sambil memeriksa handphone, namun tiba-tiba diserang oleh para korban ada yang mencekiknya dan ada yang berusaha merebut senjatanya.

Kemudian Briptu Fikri berteriak meminta tolong karena senjatanya mau direbut oleh anggota laskar FPI yang duduk di sampingnya, sementara lehernya dalam kondisi tercekik. Lalu terdakwa lainnya Ipda Elwira langsung menembak anggota laskar FPI yang duduk di samping terdakwa Briptu Fikri.

Selanjutnya dalam waktu singkat, anggota laskar FPI yang berada di tengah belakang berupaya mengambil senjata itu sehingga Elwira kembali menembakkan senjatanya. Kemudian di belakang Briptu Fikri masih ada dua anggota laskar FPI lainnya yang berusaha merebut senjata itu dari tangan Fikri.

Fikri mengatakan insiden itu berlangsung sangat cepat kurang dari 5 menit, saat tangannya ditarik ke belakang oleh anggota laskar FPI yang berada di belakang kanan sambil berupaya merebut senjata itu, sementara lehernya masih tercekik oleh korban yang berada di belakang Briptu Fikri. Akan tetapi Briptu Fikri mengatakan kedua orang di belakang tersebut berupaya untuk melepaskan senjatanya, tetapi tiba-tiba saat perebutan tersebut terdengar suara letusan, namun Briptu Fikri tidak tahu siapa yang menarik pelatuknya.

"Saya tidak melakukan penembakan, tapi saya nggak tahu siapa yang memasukkan jarinya ke dalam trigger, namun pada akhirnya memang saya temukan ada yang tertembak," kata Briptu Fikri dalam sidang pemeriksaan saksi untuk terdakwa Ipda Yusmin Ohorella di PN Jaksel, Jl Ampera Raya, Jakarta Selatan, Selasa (7/12/2021).

Jaksa lalu mempertanyakan mengapa bisa ada hasil visum yang menunjukkan luka tembakan itu tepat di dada korban. Namun Briptu Fikri mengaku tidak tahu karena saat senjata itu mengenai korban, dia tidak sadar.

"Saya tidak bisa menjelaskan karena saya pun tidak jelas saya ke arah mana, tidak bisa saya jelaskan. Kalau saya jelaskan berarti saya dalam keadaan sadar," kata Briptu Fikri.

Jaksa merespons bahwa penjelasan Fikri itu merupakan haknya bahwa faktanya ditemukan hasil visum tepat di dada kiri korban yang mengenai objek vital. Jaksa juga mempertanyakan perbedaan keterangan terdakwa Briptu Fikri di BAP penyidik dengan keterangan di persidangan.

Dalam sidang itu jaksa menjelaskan BAP terdakwa, yang berbunyi:

"Di mana senjata tidak sepenuhnya atas penguasaan saya, saya berusaha mempertahankan dengan melakukan tembakan kepada 2 anggota FPI atas nama Suci Kadafi Putra 3 kali dan terhadap M Reza 2 kali".

Merespons hal itu, hakim juga mempertanyakan soal perbedaan keterangan Briptu Fikri di persidangan saat diperiksa sebagai saksi maupun di BAP penyidikan. Briptu Fikri mengaku keterangan yang dia sampaikan ke penyidik sama seperti yang di persidangan, sedangkan ia menduga penyidik salah mengartikan pernyataannya saat diperiksa.

"Siap, Yang Mulia, pada saat penyidik itu memeriksa saya, penyidik itu menanyakan bahwasannya ini senjata senjata saya, jadi mungkin yang dimaksud penyidik saya yang melakukan penembakan, tapi kalau secara nyata saya tidak melihat," kata Briptu Fikri.

Fikri mengaku ketika terjadi perebutan senjata itu dia tidak dalam menengok ke belakang karena kondisi lehernya dicekik. Namun ia menyebut terjadi tarik-menarik senjata dengan korban hingga akhirnya dia menyebut ada tangan korban yang masuk dan menekan pelatuk tersebut. Ia mengatakan senjata tersebut berjenis otomatis.

"Di situ baru saya ketahui bahwasanya ada peluru yang mengenai korban pasca kejadian itu. Saya pun tidak tahu ada berapa peluru yang masuk," ujar Briptu Fikri.

"Ketika yang terakhir itu, tangannya sudah tidak lagi merampas senjata saya, dan saya merasa sudah tidak ada lagi pegangan terhadap senjata baru saya memastikan untuk berbalik badan, berbalik badan memastikan bahwasanya saya mengamankan senjata yang saya lihat sudah ada (yang tak berdaya) di situ," katanya.

Sementara itu, jaksa meminta izin kepada hakim agar dihadirkan saksi verbalisan yaitu penyidik yang memeriksa terdakwa saat di kepolisian. Pengacara terdakwa, Otto Hasibuan awalnya menjelaskan keberatan dengan saksi verbalisan karena tidak ada di BAP pemeriksaan sebelumnya, namun hakim menetapkan mengizinkan jaksa untuk menghadirkan saksi verbalisan untuk mempertanyakan sepanjang apakah terdakwa saat diperiksa mengalami tekanan atau tidak.

"Silakan dihadirkan pada persidangan," kata Ketua Majelis Hakim.

Diketahui, Ipda M Yusmin Ohorella dan Briptu Fikri Ramadhan didakwa melakukan pembunuhan dan penganiayaan yang menyebabkan kematian dalam kasus Km 50. Kedua polisi itu sebenarnya didakwa bersama seorang lagi, yaitu Ipda Elwira Priadi, tetapi yang bersangkutan sudah meninggal dunia karena kecelakaan.

"Bahwa akibat perbuatan Terdakwa (Ipda Yusmin) bersama-sama dengan Briptu Fikri Ramadhan serta Ipda Elwira Priadi (almarhum) mengakibatkan meninggalnya Luthfi Hakim, Akhmad Sofyan, M Reza, dan M Suci Khadavi Poetra," ucap jaksa saat membacakan surat dakwaan di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan (PN Jaksel), Senin (18/10/2021).

Simak Video: Sidang Km 50, Alasan Polisi Tak Borgol Eks Laskar FPI Jadi Pembahasan

[Gambas:Video 20detik]



(yld/dhn)