10 Eks Pegawai KPK Tak Sambut Tawaran Kapolri Jadi ASN Polri

Wilda Hayatun Nufus - detikNews
Senin, 06 Des 2021 22:09 WIB
Gedung Mabes Polri
Gedung Mabes Polri (Ari Saputra/detikcom)
Jakarta -

Mantan penyidik senior KPK Novel Baswedan dan 43 mantan pegawai KPK menerima tawaran menjadi ASN Polri. Namun ada juga 10 mantan pegawai KPK lainnya yang memilih tak menerima tawaran itu. Siapa saja?

Diketahui, sejauh ini ada 10 orang yang tidak menerima tawaran Kapolri. Dari 10 orang itu, ada nama seperti Rasamala Aritonang, Ita Khoiriyah, Tri Artining Putri, Rieswin Rachwell, dan beberapa nama lain.

Mantan pegawai KPK Tri Artining Putri pun mengungkap alasannya tak menyambut tawaran itu. Putri menilai segala sesuatunya telah selesai ketika dia sudah tidak menjadi pegawai KPK.

"Aku dulu melamar dan diterima jadi pegawai KPK. Jadi ketika dipecat ya sudah," kata Putri kepada wartawan, Senin (6/12/2021).

"Toh kami sudah menempuh jalur hukum yang sesuai sama aturan yang berlaku," sambungnya.

Selanjutnya, mantan Staf Humas KPK, Ita Khoiriyah, mengungkap bahwa dia punya rencana untuk sekolah lagi dan membangun bisnis kue yang membutuhkan energi dan fokus secara khusus. Hal itulah yang menjadi dasar Ita tidak menerima tawaran pengangkatan khusus ASN Polri.

"Saya punya rencana sendiri ke depannya yang membutuhkan energi dan fokus secara khusus. Seperti rencana sekolah lagi dan membangun bisnis kue. Kedua hal tersebut kan butuh effort lebih yang saya pikir, agak sulit dan kurang optimal kalau saya menerima tawaran ASN Polri," kata Ita.

Wanita yang akrab disapa Tata ini menyebutkan sejatinya tidak ada yang salah dan benar dalam memilih tawaran sebagai ASN Polri. Tata menyebut yang perlu dilihat adalah kesungguhan Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo untuk merekrut mantan pegawai KPK. Hal itu, kata Tata, mematahkan label merah yang pernah disematkan oleh pimpinan KPK kepadanya dan teman-teman.

"Pada dasarnya tidak ada salah benar dalam memilih tawaran tersebut, yang ada kesiapan menghadapi konsekuensi saja. Buat saya tawaran serius dari Kapolri sudah sangat menggembirakan buat saya pribadi karena mematahkan secara langsung label merah yg pernah disematkan oleh Pimpinan KPK Alexander Marwata," ungkapnya.

Mantan penyelidik KPK Rieswin Rachwell yang tidak menerima tawaran menjadi ASN Polri pun turut angkat bicara. Rieswin tidak memilih tawaran menjadi ASN karena dia lebih memilih bebas di jalan lain dalam pemberantasan korupsi.

"Menurutku itu bukan solusi ya dari permasalahan TWK yang maladministratif dan melanggar HAM. Aku kan udah ikut seleksi dan lulus sebagai penyelidik KPK pada tahun 2017, jadi kalau karena TWK bermasalah aku disingkirkan ya udah itu sudah menjadi masa lalu. Aku lebih memilih untuk bebas saja di jalan lain untuk mengadvokasi pemberantasan korupsi," kata Rieswin.

Kendati demikian, Rieswin mengapresiasi setinggi-tingginya ajakan Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo untuk merekrut mantan pegawai KPK tanpa syarat. Hal itu, kata Rieswin, semakin membuktikan bahwa pelaksanaan tes wawasan kebangsaan (TWK) yang dibuat KPK untuk menyingkirkannya dan teman-teman.

"Tapi aku dan teman-teman apresiasi dan hormat setinggi-tingginya pada Polri dan juga Pak Kapolri yang sudah progresif dan mau merekrut teman-teman tanpa syarat mesti TWK aneh seperti yang kemarin itu, padahal kami sudah distigma tidak setia pada pancasila, UUD 1945 NKRI dan pemerintah via TWK. Artinya, kan terbukti kalau TWK itu memang dibikin khusus untuk menyingkirkan kami," ungkap Riswien.

Rieswin menyebut rekrutmen ini bukan solusi atas permasalahan TWK KPK. Untuk itu, pegawai yang tidak menerima tawaran ASN maupun yang menerima, akan tetap mengawal agar rekomendasi Ombudsman dan Komnas HAM terkait pelanggaran TWK KPK dilaksanakan.

"Rekrutmen ini tetap bukan solusi, karena itu aku dan teman-teman (baik yang gabung polri maupun tidak) akan terus mengawal agar rekomendasi ombudsman dan Komnas HAM terkait pelanggaran TWK ini dilaksanakan," kata Rieswin.

Dalam kesempatan yang sama, Mantan Kabag Perancangan dan Produk Hukum KPK Rasamala Aritonang pun menjadi salah seorang yang menolak tawaran ASN Polri. Rasamala menolak tawaran itu karena saat ini tengah fokus mengajar di Fakultas Hukum Universitas Parahyangan.

"Saya sekarang sudah mengajar di Fakultas Hukum Universitas Parahyangan itu juga bagian dedikasi saya di bidang hukum yang juga tentu ada tanggung jawab di situ yang tidak begitu saja ditinggalkan, itu sih lebih ke sana," kata Rasamala.

Rasamala mengapresiasi Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo yang telah mengajak mantan pegawai KPK untuk bergabung di kepolisian. Rasamala mendukung penuh teman-temannya yang menerima pinangan Kapolri untuk memberantas korupsi.

"Saya nggak (terima), gini, pertama, sebenarnya saya secara personal sangat mengapresiasi Pak Kapolri juga kepolisian yg sudah berupaya memfasilitasi supaya teman teman bisa beralih statusnya dan bisa bergabung di kepolisian itu yang pertama," kata Novel.

(whn/knv)