Prabowo-Ganjar-Anies Pimpin Survei Capres, Mungkinkah Hasilnya Berubah?

Firda Cynthia Anggrainy Al Djokya - detikNews
Minggu, 05 Des 2021 22:49 WIB
Diskusi Mungkinkah Capres Teratas Versi Survei Berubah
Diskusi 'Mungkinkah Capres Teratas Versi Survei Berubah' (Foto: Firda Cynthia/detikcom)

Arief juga menyoroti fenomena bahwa sosok presiden berasal dari suku Jawa tak bisa dielakkan. Menurutnya, sosok Anies dan Sandiaga berpeluang kecil menjadi capres karena tak berasal dari kalangan orang Jawa.

"Saya bukan enggak percaya berbagai survei. Saya sangat percaya lembaga survei yang dikaji, tetapi saya juga percaya tentang kata-kata leluhur orang Jawa dan harus Jawa presiden Indonesia. Itu nggak bisa Sandiaga, bukan Jawa. Anies setengah Jawa, setengah timur tengah," ujarnya.

Terlebih, kata dia, pemilih dari orang Jawa cukup banyak. Sehingga, orang Jawa akan memilih calon presiden yang berasal dari kalangannya.

"Presiden itu orang Jawa kita nggak bisa mengelak ya bahwa yang namanya orang Jawa paling banyak. Orang Jawa ini pilihannya pasti ke orang Jawa," tambahnya.

Pandangan Arief tersebut ditimpali oleh Politikus NasDem, Irma Suryani Chaniago. Dia meyakini bahwa sosok presiden tak harus berasal dari suku tertentu. Menurutnya, pandangan Arief yang menyebut hanya orang Jawa yang bisa menjadi presiden justru akan mencelakai orang Jawa.

"Indonesia ini bukan milik orang Jawa, itu yang harus Arief paham. Indonesia itu bukan milik orang Jawa, Indonesia milik seluruh rakyat Indonesia, dari Sabang sampai Merauke. Enggak boleh mendikotomi orang Jawa," ujar Irma.

"(Presiden) harus orang Jawa ini nanti akan mencelakai orang Jawa sendiri, seolah-olah orang Jawa menjajah Indonesia. Itu nggak boleh terus disampaikan kepada publik," imbuhnya.

212 Disebut Ditinggalkan Gerindra

Kembali lagi ke Arief, dia menyebut elektabilitas Prabowo saat maju pilpres 2019 tak lepas dari gelombang dukungan Gerakan 212. Namun, menurutnya, Gerindra kini malah tampak meninggalkan pendukung dari kelompok militan itu.

"Kenapa sekarang Gerindra dan PKS tidak terlalu di depan terhadap gerakan 212? Kalau dari Gerindra mungkin hanya dari Fadli Zon. Itulah politik, habis manis sepah dibuang. Jadi kalau kawan-kawan 212 ini habis manis sepah dibuang. Artinya itulah politik. Dipakai saat ada gunanya. Nah, kalau sudah koalisi ya takut dong mendukung 212," ujarnya.

"Kalau kita lihat dari jejak digital kan memang tidak ada dukungan dari Partai Gerindra terhadap gerakan 212. Padahal 212 itu bukan saja mendukung Mas Anies Baswedan tapi juga mendukung Prabowo-Sandi. Habis-habisan mereka mendukung kan," kata dia.

Di sisi lain, Irma membantah Anies telah menggunakan politik identitas karena dibekingi gerakan 212 pada pilkada DKI Jakarta 2017 lalu. Ia mengklaim Anies sebetulnya merupakan seorang nasionalis.

"Memang kemarin, Anies ini kan cuma dicomot oleh 212 kemudian dia diposisikan seolah-olah dia bagian dari 212. Padahal, saya kenal Anies, lho. Saya kenal Anies karena dia deklarator ormas NasDem. Anies bukan orang yang seperti itu. Dia seorang nasionalis sebenarnya," kata Irma.

Meski begitu, ia mengakui strategi politik identitas yang digunakan Anies harus dilakukan untuk memenangi pilkada DKI saat itu.

"Tapi karena kebutuhan kemarin, kebutuhan dia juga untuk menang, ya diambil itu politik identitas yang mendukung dia sebegitu kuatnya di pilkada DKI itu terpaksa harus diambil," sambungnya.


(lir/lir)