BNPB Jelaskan Situasi Prokes Pengungsi Terdampak Erupsi Semeru

Wilda Hayatun Nufus - detikNews
Minggu, 05 Des 2021 20:15 WIB
semeru erupsi pengungsi
Foto: Pengungsi erupsi Gunung Semeru (Muhammad Aminudin/detikcom)
Jakarta -

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menjelaskan perihal penerapan protokol kesehatan COVID-19 masyarakat yang berada di lokasi pengungsian akibat erupsi Gunung Semeru. BNPB menyadari ada suatu kondisi di mana pengungsi tidak bisa menjaga jarak secara ketat dengan pengungsi lainnya.

"Salah satu hal yang menjadi perhatian Bapak Kepala BNPB, Bapak Letjen TNI Suharyanto adalah tetap penegakan protokol disiplin kesehatan di lokasi bencana. Ini sudah beliau sampaikan sejak kunjungan di Sintang Kalbar dan di Kalteng dua minggu yang lalu, ada mungkin kondisi-kondisi yang membuat kita tidak bisa secara ketat nantinya seperti menjaga jarak dan lain-lain," kata Pelaksana Tugas (Plt) Kapusdatin BNPB Abdul Muhari dalam jumpa pers secara daring, Minggu (5/12/2021).

Kendati demikian, Abdul menerangkan BNPB sudah menyediakan handsanitizer untuk masyarakat yang berada di lokasi bencana itu. Pihaknya juga mengimbau masyarakat untuk tetap memakai masker sebagai langkah untuk mencegah penularan virus Corona.

"Tetapi BNPB sudah mendukung ketersediaan handsanitizer di lokasi dan hal yang paling minimal yang kita akan coba untuk sampaikan nanti dan akan coba kita imbau untuk masyarakat hal yang paling minimal adalah memakai masker, ini mungkin yang menjadi perhatian dan juga akan disampaikan nantinya oleh Bapak Kepala BNPB di lokasi kejadian," ujarnya.

BNPB sejak awal telah mengirimkan 20 ribu masker kepada pengungsi erupsi Gunung Semeru. Abdul memastikan ketersediaan masker juga sudah disiapkan di Jakarta jika diperlukan.

"Dukungan untuk penyediaan masker sudah kita dorong, BNPB sudah mengirim 20 ribu masker untuk tahap awal dan juga jika diperlukan kita sudah sampaikan ketersediaannya di logistik kita di Jakarta bisa kita dorong termasuk juga dari Pemprov Jatim, dari PMI juga saya melihat ada dukungan masker dan organisasi relawan lainnya," kata Abdul.

Abdul menambahkan sarana prasarana kesehatan di lokasi bencana sudah disediakan. Pihaknya akan terus mendorong masyarakat untuk tetap memakai masker agar terhindar dari virus Corona dan penyakit ISPA.

"Jadi untuk sarana prasarana kesehatan sudah kita sediakan, memang mungkin nanti secara persuasif masyarakat kita dorong untuk bisa paling tidak bisa menggunakan masker selama kondisi bencana ini, karena tidak hanya untuk COVID tetapi juga untuk mencegah ISPA karena partikel debu masih sangat tinggi di lokasi kejadian," kata Abdul.

Diketahui, warga terdampak erupsi Gunung Semeru terus bertambah. Sore ini, tercatat ada 5.205 jiwa masyarakat yang terdampak.

"Untuk jumlah masyarakat terdampak artinya jumlah masyarakat yang terdampak, baik itu awan panas, guguran di 2 kecamatan, kemudian masyarakat terdampak debu vulkanik di 8 kecamatan itu, total 5.205 jiwa," kata Abdul.

Dari lima ribu lebih warga yang terdampak itu, 1.300 orang di antaranya telah mengungsi. Jumlah warga yang mengungsi ini didapatkan langsung dari Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto yang tengah berada di lokasi.

"Dengan 1.300 orang di pengungsian ini juga bertambah dari rilis yang kita keluarkan tadi siang sejumlah 902. 1300 orang ini merupakan informasi juga langsung dari Kepala BNPB dari lokasi terdapat di Kabupaten Lumajang," ujarnya.

Kemudian, dari ribuan warga terdampak tersebut, 9 orang di antaranya masih dalam proses pendataan status korban. Sebab, BNPB hingga kini belum menerima informasi pasti mengenai 9 orang tersebut.

"Dari jumlah tersebut masih ada 9 jiwa yang saat ini masih dalam proses pendataan status korban, apakah hilang atau korban meninggal, ini masih dalam pendataan. Kita belum menerima informasi yang detailnya seperti tadi disampaikan oleh bapak," kata Abdul.

Saat ini, jumlah korban jiwa juga bertambah. Per pukul 17.30 WIB, ada 14 orang yang menjadi korban erupsi Gunung Semeru.

"Pukul 17 30 ini jumlah korban meninggal dunia terdata hingga saat ini berjumlah 14 orang," ungkapnya.

Sementara, untuk korban luka saat ini berjumlah 56 orang. 35 orang di antaranya luka berat, dan 21 orang luka ringan.

"Kemudian untuk perkembangan data korban luka berat di rumah sakit Dr Haryoto itu berjumlah 8 orang, RSUD Pasirian 16 orang, RS Bhayangkara ada 3 orang, Puskesmas Penanggal 8 orang dengan total korban luka berat 35 orang. Adapun untuk luka ringan itu berjumlah 21 orang sehingga jumlah total korban korban luka itu berjumlah 56 orang," tutur Abdul.

(whn/dhn)