Tanggul Tak Jebol tapi Tetap Kena Rob, Tanah Jakarta Turun Makin Parah?

Rolando Fransiscus Sihombing - detikNews
Minggu, 05 Des 2021 05:28 WIB
Sejumlah pedagang dan pekerja melintasi kawasan yang terendam air rob di Lodan Ancol, Jakarta Utara, Sabtu (4/12). Pantauan di lapangan terlihat sejumlah pedagang tetap berjualan mencari nafkah.
Banjir rob di Jakarta Utara (Pradita Utama/detikcom)
Jakarta -

Wilayah Pelabuhan Sunda Kelapa hingga Muara Angke, Jakarta Utara (Jakut), mengalami banjir rob. Tanggul laut yang menahan banjir rob tak jebol, hal ini dinilai menjadi pertanyaan besar.

Pakar tata kota Universitas Trisakti, Yayat Supriyatna, menilai banjir rob yang kerap terjadi di wilayah Jakut menjadi pertanyaan besar. Dua hal terkait pertanyaan itu adalah soal penurunan muka tanah dan semakin tingginya air laut.

"Kalau tanggulnya sudah ada, kemudian artinya sudah ada upaya-upaya untuk pencegahan rob itu tidak masuk ke Jakarta, pelabuhan atau sekitarnya, itu berarti sudah ada upaya teknis. Tapi kalau misalnya dia sampai lama, itu pertanyaan besar," kata Yayat kepada wartawan, Sabtu (4/12/2021).

"Apakah daerah itu sudah semakin parah penurunan permukaan tanahnya? Kedua, ini persoalan sudah terjadi kenaikan pasang laut yang semakin tinggi atau tidak?" imbuhnya.

Jika masalah banjir rob tidak bisa diselesaikan atau dikendalikan dengan tanggul yang ada di Jakut, maka ada potensi pelabuhan atau kawasan permukiman tidak akan berfungsi lagi.

"Ini tanda-tanda dulu, ini bukan menakut-nakutkan ini, harusnya diperhatikan tanda-tanda jika lebih dari beberapa hari semakin parah, tidak surut-surut, itu menjadi kewaspadaan buat kita," ujarnya.

Pengamat Tata Kota Universitas Trisakti  -- Pengamat tata kota dari Universitas Trisakti Yayat Supriatna dalam sebuah diskusi di Jakarta, Jumay (22/4/2016)Pakar tata kota dari Universitas Trisakti, Yayat Supriatna, dalam sebuah diskusi di Jakarta, Jumat (22/4/2016). (Ari Saputra/detikcom)

Banjir rob belakangan terjadi di Jalan RE Martadinata, Pelabuhan Sunda Kelapa, hingga Muara Angke. Menurut Yayat, peristiwa ini menjadi peringatan soal penurunan muka tanah.

"Memang yang harus diwaspadai adalah jika peristiwa ini menjadi petanda bahwa penurunan tanahnya semakin parah, pasang lautnya makin tinggi, ya ini menjadi peringatan. Ini terjadi bukan di wilayah yang katakanlah pesisir yang tidak padat penduduk, tapi ini di sentra ekonomi, pelabuhan, permukiman, angkutan barang," ucapnya.

Lantas apa saran Yayat terkait peristiwa ini? Yayat mendorong adanya investigasi mendalam, sehingga pertanyaan yang timbul dapat terjawab.

"Dari peristiwa ini tolong lakukan investigasi, lakukan kajian yang mendalam, lihat penyebab dan peristiwanya, dengan mencatat, mendalami, kemudian mengamati. Kemudian ada laporan bahwa kondisi ini memang akan terus terjadi atau tidak?" sebut Yayat.

Selain itu, Yayat juga menyarakan Pemprov DKI Jakarta merangkul ahli hingga lembaga lain jika tak mampu tangani banjir rob di Jakut. Sebab, banjir di Jakut dapat menimbulkan kerugian besar karena wilayah tersebut penggerak roda ekonomi.

"Kalau Pemprov DKI tidak bisa bekerja sendiri, ajaklah dari berbagai perguruan tinggi, atau para ahli, atau lembaga negara lainnya untuk sama-sama mengamati. Apakah betul peristiwa ini terjadi di musim penghujan, kalau banjir rob itu kan tidak lihat hujan, tapi kenapa ini agak lebih parah ini," imbuhnya.

Simak selengkapnya, di halaman selanjutnya:

Saksikan Video 'Banjir Rob Terjang Lodan Dalam Jakut, 900 KK Terdampak':

[Gambas:Video 20detik]