Terungkap Duduk Perkara 3 Siswa Tinggal Kelas 3 Kali di Kaltara

Tim detikcom - detikNews
Sabtu, 27 Nov 2021 22:03 WIB
Lecture room or School empty classroom with Student taking exams, writing examination for studying lessons in high school thailand, interior of secondary education, whiteboard. educational concept
Ilustrasi di sekolah (Foto: iStock)

Nilai-nilai pengetahuan ketiga siswa yang sering mendapat 100 pun terbukti saat tim melakukan wawancara dengan guru pendidikan agama Kristen yang diperbantukan di SDN 051 Tarakan, Dh. Guru PJOK yang juga menjadi pembina agama Kristen, Ibu D, turut mengakui itu.

"Ketika tim bertanya pendapat Dh selalu guru ketiga anak korban, dijawab anak-anak itu pintar, bahkan nilai-nilai pengetahuan sering mendapat 100 (nilai sempurna). Selain itu, ketiga anak korban juga berkelakuan baik dan sopan. Hal senada dikemukakan oleh Ibu D selaku pembina agama Kristen," ucap Retno.

Saat pengawasan di sekolah, ada beberapa usulan untuk solusi, di antaranya usulan dari Kepala LPMP Kalimantan Utara Jarwoko yang mengusulkan ketiga anak tetap diberikan pembelajaran agama dari guru agama Kristen, namun hanya aspek kognitif/pengetahuan dan aspek afektif/sikap.

Sedangkan aspek psikomotorik/praktik/keterampilan diserahkan kepada komunitas agama ketiga anak tersebut agar tidak ada lagi perdebatan soal akidah.

Selain itu, Kepala Dinas Pendidikan Kota Tarakan juga mengusulkan ketiga anak dinaikkan kelas. Namun, untuk keputusan yang tidak naik kelas yang ketiga, anak-anak harus mengikuti remedial terlebih dahulu untuk nilai yang tidak tuntas, yaitu nilai pendidikan agama saja, mengingat nilai mata pelajaran lain tuntas bahkan dengan nilai tinggi.

Bagaimanapun juga, Retno mengatakan usulan Kepala LPMP Kaltara dan Kepala Dinas Pendidikan Kota Tarakan justru menjadi tidak jelas penyelesaiannya saat FGD berlangsung pada Rabu (24/11) di kantor Wali Kota Tarakan. Pasalnya, para perwakilan SKPD yang hadir justru memiliki argumentasi yang mementahkan kedua rencana tersebut.

Usulan Hasil Cek Lapangan

Alhasil, Retno menyebut usulan yang ditawarkan sangat tidak berpihak pada kepentingan terbaik bagi anak. Berikut usulan dari FGD tim gabungan yang dimaksud Retno:

1. Kenaikan kelas bisa dilakukan jika ada surat rekomendasi dari Itjen Kemendikbud-Ristek yang memerintahkan agar sekolah menaikkan kelas ketiga anak korban. Padahal, kenaikan kelas merupakan kewenangan sekolah dan dewan guru.

Itjen Kemendikbud-Ristek dan KPAI tidak memiliki kewenangan menentukan naik kelas/tidaknya peserta didik. Selain itu, usulan kenaikan kelas justru dikemukakan sendiri oleh Kepala Dinas Pendidikan Kota Tarakan saat Tim gabungan pengawasan ke sekolah;

2. Kenaikan kelas dapat dilakukan dengan syarat tertentu, di antaranya cabut gugatan. Padahal pencabutan gugatan maupun rencana remedial untuk kenaikan kelas dapat dilakukan pihak sekolah dengan duduk bareng bersama pihak orang tua peserta didik dapat dibicarakan secara kekeluargaan, pendekatan untuk mencairkan suasana harus dilakukan semua pihak, bicara kepentingan terbaik bagi anak harus dengan nurani dan perspektif perlindungan anak;

3. Usulan perwakilan Inspektorat Tarakan menyatakan bahwa akar masalahnya adalah di keputusan Kementerian Agama yang memasukkan Saksi Yehuwa ke dalam pendidikan agama Kristen. Jadi yang bersangkutan mengusulkan agar Kemendikbud-Ristek dan KPAI bersurat kepada Kementerian Agama untuk mencabut keputusan tersebut, dan jika ingin Saksi Yehuwa diakomodasi, maka diminta Kemendikbud dan KPAI bersurat pada Presiden agar mengusulkan Saksi Yehuwa menjadi agama resmi negara yang ke-7.

Padahal semua usulan tersebut jelas bukan kewenangan Kemendikbud maupun KPAI. Usulan ini pun jelas menunjukkan bahwa penyelesaian masalah kakak-adik yang tidak naik kelas tiga kali sama sekali bukan didasarkan pada kepentingan terbaik bagi anak.

Retno menyayangkan penyelesaian kasus tiga siswa yang belum berpihak pada kepentingan anak ini. Dia pun meminta semua pihak memikirkan nasib ketiga anak ini.

"Oleh karena itu, sejatinya para pihak dalam mengambil keputusan harus mengedepankan kepentingan terbaik bagi ketiganya anak demi masa depan mereka yang masih panjang," pungkas Retno.


(drg/jbr)