Terungkap Duduk Perkara 3 Siswa Tinggal Kelas 3 Kali di Kaltara

Tim detikcom - detikNews
Sabtu, 27 Nov 2021 22:03 WIB
Lecture room or School empty classroom with Student taking exams, writing examination for studying lessons in high school thailand, interior of secondary education, whiteboard. educational concept
Ilustrasi di sekolah (Foto: iStock)

Kemudian, Retno membeberkan alasan kenapa ketiga siswa itu tidak naik kelas 3 tahun berturut-turut. Tim pemantau mendapat informasi ketiga anak itu pindah agama dari Kristen Protestan ke Saksi Yehuwa pada 2018.

Secara kebetulan, tidak naik kelas pertama adalah pada tahun ajaran 2018/2019, ketiga anak sempat dikeluarkan dari sekolah selama sekitar 3 bulan lamanya. Alasan tidak naik pertama adalah absensi tidak memenuhi syarat, ada sekitar 90 hari ketiga anak dianggap tidak hadir tanpa keterangan. Padahal mereka tidak hadir karena sempat dikeluarkan dari sekolah selama 3 bulan.

"Keputusan Pengadilan TUN memenangkan gugatan atas nama ketiga anak tersebut, keputusan PTUN dalam kasus tidak naik kelas yang pertama kali ini sudah inkrah," ungkap Retno.

Duduk Perkara 3 Siswa Tak Naik Kelas 3 Kali

Pada tahun ajaran 2019/2020, ketiga anak itu kembali tidak naik kelas untuk kedua kalinya. Ketiga siswa ini tidak naik kelas karena mereka mendapat nilai 0 di mata pelajaran agama.

Mereka mendapat nilai nol karena ketiganya tidak mendapatkan pelajaran agama. Sekolah beralasan tidak ada guru agama untuk Saksi Yehuwa, padahal Saksi Yehuwa oleh Kementerian Agama dimasukkan dalam bagian pendidikan agama Kristen. Jadi, seharusnya ketiga anak berhak mendapatkan pendidikan agama Kristen di sekolahnya.

"Keputusan Pengadilan TUN pada tingkat pertama dimenangkan oleh ketiga anak tersebut, namun Dinas Pendidikan Kota Tarakan banding dan memenangkan pengadilan banding. Pihak penggugat kemudian melakukan kasasi dan keputusan kasasi belum ada. Artinya belum inkrah hingga November 2021," papar Retno.

Sementara itu, kasus tidak naik kelas yang ketiga kalinya terjadi pada tahun ajaran 2020/2021. Mereka tidak naik kelas karena nilai agama yang tidak tuntas, walau nilai seluruh mata pelajaran yang lain sangat bagus.

Temuan tim gabungan, ketiga anak mengaku mengikuti semua proses pembelajaran pendidikan agama Kristen di sekolahnya. Mereka selalu mengerjakan semua tugas yang diberikan, termasuk ujiannya.

Bahkan nilai-nilai pengetahuannya selalu tinggi nilainya. Namun, saat nilai praktik, ketiga anak tidak bersedia menyanyikan lagu rohani yang ditentukan gurunya karena bertentangan dengan akidahnya, dan meminta bisa mengganti lagu yang sesuai dengan akidahnya.

"Kasus tidak naik kelas yang ketiga kalinya juga digugat ke Pengadilan TUN, pengajuan perkara baru dilakukan pada Oktober 2021. Saat ini masih dalam proses persidangan," jelas Retno.

Simak berita selengkapnya di halaman selanjutnya.