Risma Minta Kabareskrim Atensi Kasus Remaja Putri di Malang Dianiaya-Dilecehkan

Adhyasta Dirgantara - detikNews
Selasa, 23 Nov 2021 21:13 WIB
Menteri Sosial (Mensos) Tri Rismaharini memberikan keterangan pers di Kantor Kementrian Sosial, Jakarta, Kamis (18/11/2021). Mensos Risma mengungkapkan, sebanyak 31.624 aparatur sipil negara (ASN) terinidikasi menerima bantuan sosial (bansos). Risma mendapatkan data ini setelah Kementerian Sosial melakukan verifikasi data penerima bansos.
Menteri Sosial (Mensos) Tri Rismaharini (Risma) (Agung Pambudhy/detikcom)
Jakarta -

Menteri Sosial (Mensos) Tri Rismaharini (Risma) meminta Kabareskrim Polri Komjen Agus Andrianto memberi perhatian khusus atau atensi terhadap kasus penganiayaan dan pelecehan remaja putri di Kota Malang. Saat ini, kasus tersebut telah ditangani oleh Polresta Malang Kota.

"Kami diminta Ibu Menteri Sosial untuk menyampaikan surat laporan kepada Kabareskrim untuk memberikan perhatian khusus terhadap laporan atau kasus yang terjadi di Malang, terhadap anak korban yang merupakan penghuni panti asuhan," ujar Plt Kepala Biro Hukum Kemensos, Evy Flamboyan, saat ditemui di Gedung Bareskrim Polri, Jakarta Selatan, Selasa (23/11/2021).

Evy mengatakan kepolisian memberikan respons yang baik sejauh ini. Menurutnya, Polresta Malang Kota juga sudah bergerak untuk melakukan penegakan hukum.

"Respons polisi sampai saat ini alhamdulillah baik, tadi kami berkoordinasi. Dan teman-teman di Polres Malang sendiri saat ini sudah melakukan upaya penegakan hukum, sudah ada saksi-saksi yang dipanggil, 10 orang ya saksi yang dipanggil," tuturnya.

Adapun Evy mengklaim kasus ini sempat tak kunjung diusut oleh kepolisian tadi pagi. Namun, sekitar pukul 12 siang, polisi sudah mulai bergerak.

Evy menepis anggapan bahwa polisi lambat dalam merespons dugaan penganiayaan dan pelecehan terhadap anak ini. Kedatangan Kemensos ke Bareskrim, kata Evy, supaya kasus ini lebih diperhatikan.

"Kita tidak melihat seperti itu (polisi lambat respons). Kita hanya ingin mendorong saja agar ini lebih diperhatikan. Biar terkoordinasi, masing-masing katakanlah, antara pemerintah dan aparat penegak hukum, bersinergi," jelas Evy.

Sementara itu, Evy mengungkapkan kondisi terkini korban. Evy mengatakan korban trauma.

"Anak itu mengalami trauma sehingga memerlukan rehabilitasi sosial dan perhatian khusus," imbuhnya.

Sebelumnya, polisi menangkap 10 orang terkait pelecehan dan penganiayaan terhadap remaja putri di Kota Malang. Dari pemeriksaan, sementara terungkap motif di balik aksi keji tersebut.

Dari 10 orang yang ditangkap tersebut, dua merupakan pasangan suami-istri dari pernikahan siri. Sang pria atau suami diduga kuat sebagai pelaku pelecehan seksual terhadap korban.

"Motif yang memicu kejadian tersebut adalah kekesalan dari para pelaku yang merupakan teman dari istri pelaku pelecehan. Setelah sang istri mengetahui suaminya tidur dengan perempuan lain (korban)," ujar Kasat Reskrim Polresta Malang Kota Kompol Tinton Yudha Riambodo kepada wartawan, Selasa (23/11).

Tinton menyebut pelaku merupakan pasangan suami-istri tergolong anak-anak karena pernikahan mereka dilakukan secara agama atau siri.

"Meski menikah, status pelaku masih anak-anak karena pernikahannya siri atau secara agama. Dengan begitu, kami harus memberikan perlindungan sesuai perundang-undangan selama penanganan kasus ini, baik korban maupun para pelaku," sebutnya.

Terpisah Kapolresta Malang Kota AKBP Budi Hermanto menambahkan, pemeriksaan terhadap para pelaku masih berjalan. Karena statusnya masih di bawah umur, penanganan melibatkan psikolog, Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A), serta Balai Pemasyarakatan atau Bapas.

"Karena statusnya di bawah umur, kami melibatkan psikolog, P2TP2A, dan Bapas dalam penanganan kasus tersebut," imbuhnya.

Menurut Budi Hermanto, sepuluh orang itu ditangkap karena memiliki dugaan kuat terkait dalam tindak pidana kekerasan serta dugaan pelecehan seksual terhadap korban yang masih di bawah umur tersebut.

(drg/dwia)