PD Minta Surat Terbuka Korban Pelecehan Seksual di Kampus Ditanggapi Serius!

Eva Safitri - detikNews
Selasa, 23 Nov 2021 08:37 WIB
Anggota Komisi X DPR RI dari Fraksi Partai Demokrat, Bramantyo Suwondo.
Anggota Komisi X DPR RI dari Fraksi Partai Demokrat, Bramantyo Suwondo. (Foto: Dok. Pribadi)
Jakarta -

Anggota Komisi X DPR Fraksi Partai Demokrat Bramantyo Suwondo turut menyoroti surat terbuka dari korban pelecehan seksual di sebuah kampus negeri untuk Mendikbudristek Nadiem Makarim. Bramantyo menilai surat terbuka itu menjadi bukti betapa pentingnya payung hukum untuk penanganan kekerasan seksual di institusi pendidikan.

"Ini membuktikan bahwa payung hukum mengenai pencegahan dan penanganan kekerasan seksual sangat dibutuhkan. Sudah banyak sekali kasus kekerasan seksual yang terjadi, salah satunya di institusi pendidikan, yang tidak dapat dicegah maupun ditangani dikarenakan kurangnya landasan hukum," kata Bramantyo, kepada wartawan, Senin (22/11/2021).

Dia berharap institusi pendidikan untuk menanggapi secara serius setiap laporan terkait kekerasan seksual tersebut. Bramantyo mengatakan perlunya ada investigasi mendalam.

"Saya juga tentu berharap institusi-institusi pendidikan menanggapi dengan serius laporan-laporan kekerasan seksual di lingkungannya, melakukan investigasi serta menaruh pelaku yang terbukti melakukan kekerasan seksual bertanggung jawab akan tindakannya," ucapnya.

Menurutnya, institusi pendidikan merupakan tempat penting untuk menimba ilmu. Sehingga harus menjadi tempat ternyaman bagi peserta didik dan tenaga pengajar.

"Institusi pendidikan, dari dasar hingga pendidikan tinggi, harus menjadi tempat yang aman dan nyaman bagi peserta didik untuk menimba ilmu. Institusi pendidikan juga harus menjadi tempat yang aman dan nyaman bagi pendidik dan tenaga pendidik," ucapnya.

Surat Terbuka untuk Nadiem

Sebelumnya, surat terbuka untuk Nadiem itu viral di Twitter. Dalam surat itu, dia memperkenalkan diri sebagai orang yang bekerja sebagai tenaga kependidikan di sebuah kampus negeri. Dia merasa senang dengan adanya Permendikbud Nomor 30 Tahun 2021 Tentang Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual (PPKS). Namun, dia sedih aturan tersebut belum ada ketika ia menjadi korban pelecehan seksual.

"Saya perempuan dan saya adalah tenaga kependidikan di salah satu fakultas ilmu sosial di kampus negeri yang membawa nama negara kita. Saya sedih sekaligus senang dengan adanya Permendikbud No. 30 Tahun 2021. Saya sedih karena saat saya mengalami sexual harrasment Mas Menteri belum menjabat sehingga belum ada peraturan ini," tulisnya seperti dikutip detikcom, Senin (22/11/2021).

Dia bercerita soal pengalamannya menjadi korban pelecehan seksual selama bekerja. Dia mencontohkan bentuk pelecehan tersebut seperti gurauan soal alat kelamin, gurauan mesum hingga gurauan ajakan untuk berhubungan intim.

Pengalaman ini pun berdampak kepada kondisi mentalnya. Ia mengalami trauma hingga harus berobat ke psikiater dan mengkonsumsi obat.

Trauma tersebut akhirnya berdampak kepada kondisi mental dan fisiknya. Ia bahkan sempat mengalami relapse (kambuh) yang membuatnya sesak napas hingga dilarikan ke UGD.

Lihat juga video 'Dugaan Pelecehan Dekan Terhadap Mahasiswi Unri yang Bikin Geger!':

[Gambas:Video 20detik]



(eva/zak)