Tim Siber Bela Anies Bikin Heboh tapi MUI DKI Bilang Cuma Contoh

Tim detikcom - detikNews
Selasa, 23 Nov 2021 06:54 WIB
Pembangunan Masjid At-Tabayyun menuai pro dan kontra. Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan pun sempat berdialog dengan warga yang kontra pembangunan masjid itu.
Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan. (Foto: Andhika Prasetia/Detikcom)
Jakarta -

Heboh wacana MUI DKI bentuk tim siber untuk bela ulama dan Gubernur Anies Baswedan. MUI DKI kini menyebut tim siber untuk membela Anies hanya sekadar contoh.

Ketua Bidang Infokom MUI DKI Jakarta Faiz Rafdi meluruskan soal tim siber tersebut. Dia menegaskan, pasukan siber MUI DKI tak khusus untuk membela Anies.

"Nggak ke sana kita, jadi memang belakangan agak blunder di media itu, waktu itu Ketum memberikan contoh dan beberapa pernyataan Ketum di wawancara-wawancara jelas, kami tidak menyebut khusus membela Pak Anies, tapi lebih kepada membela kalau ada kriminalisasi ulama yang tak sesuai koridor hukum," kata Ketua Bidang Infokom MUI DKI Jakarta Faiz Rafdi kepada wartawan, Senin (22/11/2021).

"Jadi prinsipnya sejalan dengan pemerintah, kalau konteksnya Ketum kan memberi contoh jika kebijakan Pemprov yang bagus tentu harus didukung jadi bukan membela Pak Anies, apalagi kaitannya dengan Presiden, jauh sekali," imbuhnya.

Dia menerangkan tim ini bukan seperti cyber army. Untuk penamaannya, Faiz menyebut masih ada usulan selain cyber army.

"Juga ada masukan dengan istilah mujahid digital, dai milenial, mujahid cyber, jadi bukan cyber army yang berkembang belakangan. Kami infokom menyambut baik karena latar belakangnya era medsos ini banyak info berseliweran yang tak bisa dikonfirmasi kebenarannya. Jadi lebih MUI bisa berperan menangkal hoax menebarkan informasi yang benar dan ini sejalan dengan fatwa MUI tentang haramnya buzzer bahwa membenarkan yang salah dan menyalahkan yang benar, di situ peran kita," jelas dia.

Faiz juga menegaskan program tim siber ini tidak masuk dalam proposal pengajuan hibah ke Pemprov DKI. Faiz menjelaskan dana hibah digunakan untuk program MUI yang sudah lama berjalan.

"Hibah itu misal digunakan untuk PDU PKU, itu gratis untuk yang tidak mampu kuliah, sekolah, itu disekolahin di PDU (Pendidikan Dasar Ulama), PKU (Pendidikan Kader Ulama) itu biayanya dari hibah itu, untuk fatwa tentu masa pandemi aja ada 14 fatwa, itu butuh biaya butuh kajian, kalau hibah itu untuk cyber kurang tepat," kata Faiz.

"Jadi intinya hibah itu sudah lama dan untuk program MUI DKI, makanya DPRD ketuk palu. Ini (tim siber) kan program baru, hibah program lama," imbuhnya.

Lantas dari mana sumber dana tim siber MUI DKI? Faiz mengatakan sumber dana tim siber masih dicari.

"Ini saja sudah mau laporan akhir tahun, kan harus laporan, ini program baru bulan kemarin. Justru dananya kita lagi cari sumbernya dari mana apakah swadaya atau dari mana kita belum pikirkan," kata dia.

MUI DKI Beberkan Tugas Tim Siber

Faiz membeberkan tupoksi dari tim 'cyber army'. Pasukan siber ini akan dilatih dan dipilih lewat proses seleksi.

"Tugas utamnya pembinaan literasi digital umat, meng-counter isu hoax, memberikan informasi islam rahmatan lil 'alamin," ujar Faiz kepada wartawan.

Faiz menyebut selama satu bulan tim siber bentukan MUI DKI ini akan dilatih lebih dulu. Dia belum bisa memastikan berapa orang yang akan dilibatkan dalam tim siber ini.

"Secara umum kami akan adakan pelatihan, memang di MUI ini yang background kemampuan menulis itu khusus di provinsi itu tidak banyak, bisa dihitung. Jadi kita pelatihan dulu lebih kepada literasi digital, kemampuan menelaah informasi dan sampai pada mendistribusikan informasi, nanti dari hasil pelatihan itu akan terseleksi siapa yang bisa diandalkan tim ini ke depan," jelas dia.

Adapun Faiz belum bisa memastikan cara pemantauan tim siber MUI DKI. Dia mengatakan akan mengundang pakar media sosial untuk merumuskan cara kerja tim siber itu.

"Karena saat itu yang gampang diingat itu cyber army, kemudian ketum berikan istilah seperti cyber army jadi bukan cyber army dan cyber army kan suat perusahaan yang bergerak di bidang cyber informasi, jauh dari sana. Ada usulan namanya mujahid digital, ada mujahid cyber ini masih kita godok mana yang soft, yang santun, yang tidak menghebohkan seperti cyber army," paparnya.

"Kita sudah punya akun resmi, nanti langkah berikutnya kita undang pakar medsos jadi supaya tim yang dibentuk komprehensif tidak hanya dari kepentingan MUI, tapi masyarakat umum dan bangsa, tentu kita akan undang para ahli, bentuk yang pas seperti apa," kata Faiz.

Simak video 'Ketegasan Mahfud-MUI soal Penangkapan Zain An Najah Cs':

[Gambas:Video 20detik]