Nurdin Halid Siap Tampung Ganjar, Golkar Untung atau Buntung?

Tim detikcom - detikNews
Kamis, 18 Nov 2021 16:23 WIB
Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo bersama Menko Perekonomian Airlangga Hartarto terlihat kompak naik ojol saat hadiri acara di Klaten.
Airlangga Hartarto dan Ganjar Pranowo (Achmad Syauqi/detikcom)
Jakarta -

Pernyataan salah satu Wakil Ketua Umum Partai Golkar Nurdin Halid yang siap menampung Ganjar Pranowo menuai pro-kontra. Kalau menampung Ganjar, Golkar untung atau buntung?

"Jika Golkar melepas Airlangga dan merekrut Ganjar, maka Golkar bisa buntung," kata Direktur Eksekutif Institute for Democracy and Strategic Affairs (Indostrategic) Ahmad Khoirul Umam kepada wartawan, Kamis (18/11/2021).

Menurut dia, Ganjar bisa menjadi sumber perpecahan Partai Golkar. Faksi-faksi lama diprediksi bisa bangkit melawan.

Langkah menampung Ganjar juga bisa menyebabkan konflik antarpartai. Citra Golkar juga bisa buruk di mata rekan-rekan koalisi Presiden Jokowi.

"Karena, langkah itu akan memicu konflik internal Golkar yang akan membangkitkan faksi-faksi lama yang sempat diredam pasca Kongres Golkar 2 tahun lalu," kata Umam.

"Kedua, Golkar akan berhadapan dengan PDIP sebagai rumah asal Ganjar, dan Golkar akan dicap menjegal kawan seiring, menggunting dalam lipatan. Hal itu tidak akan berhenti di level komunikasi politik saja, tapi akan sampai pada 'keselamatan politik' masing-masing," kata Umam.

Posisi Ganjar memang jauh mengungguli Airlangga Hartarto di sejumlah survei dini Pilpres 2024, terlebih kurang dari satu tahun Indonesia memasuki tahun politik. Menurut Umam, Airlangga punya pekerjaan rumah besar untuk mendongkrak elektabilitasnya.

"Acara menggandengkan Airlangga-Ganjar sebenarnya merupakan strategi marketing politik Golkar untuk meningkatkan nilai tawar Airlangga dan Golkar," kata Umam.

Dosen Universitas Paramadina, Ahmad Khoirul Umam (Dok. Pribadi).Dosen Universitas Paramadina, Ahmad Khoirul Umam. (Dok. Pribadi)

Umam memberi tips jika memang Airlangga ingin berkompetisi menjadi RI-1. Jika elektabilitas pribadi mentok segitu-segitu saja, Airlangga disarankan membesarkan elektabilitas Partai Golkar.

"Sekarang yang bisa dilakukan, jika elektabilitas Airlangga memang tidak naik, maka Airlangga sebaiknya fokus saja untuk membesarkan elektabilitas Golkar. Jika elektabilitas Golkar tinggi, Airlangga bisa menungganginya untuk bargaining position di level Pilpres. Namun jika Airlangga juga kesulitan untuk menaikkan elektabilitas Golkar, maka kepemimpinannya berpotensi dikoreksi pasca-Pemilu 2024 mendatang," ujar Umam.

Lihat juga Video: Survei DTS: Ganjar di Atas Prabowo, Jokowi Tak Direstui 3 Periode

[Gambas:Video 20detik]



(gbr/tor)