HNW Minta Generasi Muda Pahami Sejarah Perjuangan Para Pahlawan

Angga Laraspati - detikNews
Minggu, 14 Nov 2021 21:10 WIB
HNW Minta Generasi Muda Pahami Sejarah Perjuangan Pahlawan
Foto: Dok. MPR RI
Jakarta -

Wakil Ketua MPR Hidayat Nur Wahid (HNW) mengajak masyarakat khususnya generasi muda mengingat dan mempelajari sejarah perjuangan para pahlawan. Salah satu caranya adalah dengan mengenal dan mendalami benda-benda peninggalan para pahlawan.

Seperti rumah pengasingan yang digunakan penjajah untuk mengisolir dan memutus hubungan para pejuang dengan pejuang lainnya. Salah satu rumah pengasingan itu adalah Pesanggrahan Wisma Menumbing, Muntok, Bangka Barat, Kepulauan Bangka Belitung.

Di tempat tersebut, Bung Karno, pernah menjalani masa sunyi sebagai tahanan politik. Selain Soekarno, Belanda juga menempatkan Bung Hatta (wakil presiden), Agus Salim (menteri luar negeri), RS Soerjadarma (kepala angkatan udara), Sutan Sjahrir (mantan perdana menteri), MR Asaat (ketua KNIP) dan AG Pringgodigdo (Mensesneg), di rumah pengasingan tersebut.

"Dengan mempelajari serta mengenali benda-benda sejarah peninggalan para pejuang, kita dapat merasakan betapa berat perjuangan dan pengorbanan mereka dalam merebut serta mempertahankan kemerdekaan. Sehingga kita bisa menghargai dan menghormati pengorbanan para pejuang. Dan melanjutkan semangat mereka mengisi kemerdekaan," kata HNW dalam keterangannya, Minggu (14/11/2021).

Pernyataan itu disampaikan Hidayat Nur Wahid secara daring pada Sosialisasi Empat Pilar MPR RI, kerja sama MPR dengan Pengurus Wilayah Partai Keadilan Sejahtera Provinsi Bangka Belitung. Acara tersebut berlangsung di Aula Kantor Walikota Pangkal Pinang.

HNW melanjutkan salah satu perjuangan berat yang dihadapi para bapak dan ibu pendiri bangsa saat itu adalah ketika mereka dihadapkan pada pertanyaan apakah dasar dan ideologi negara yang akan digunakan, setelah memproklamasikan NKRI.

Pertanyaan yang muncul pada sidang pertama BPUPK, itu langsung menimbulkan friksi di antara dua kelompok yaitu kelompok Nasionalis religius (Islam) yang diwakili Ki Bagus Hadikusumo, Anwar Ahmad Sanusi, Abdul Halim dan Wahid Hasyim menyebut dasar dan ideologi yang akan dipakai adalah agama Islam. Karena di alam demokrasi, sangat wajar jika kelompok mayoritas yang memimpin.

"Pendapat itu ditentang oleh kelompok nasionalis kebangsaan. Soekarno, Moh. Hatta Soepomo dan Moh. Yamin, berpendapat, Indonesia adalah bangsa yang majemuk. Bagusnya, dasar dan ideologi yang dipakai adalah kebangsaan," imbuh HNW.

Karena tak kunjung terjadi kesepahaman, maka dibentuklah panitia 9 yang diketuai Soekarno. Panitia 9 dibentuk setelah sebelumnya, membubarkan panitia 8 yang juga mendudukkan Bung Karno sebagai Ketua.