HNW Minta Pandemi Tak Surutkan Spirit Kepahlawanan Pemuda Masa Kini

Alfi Kholisdinuka - detikNews
Rabu, 10 Nov 2021 16:50 WIB
Hidayat Nur Wahid
Foto: Dok. MPR
Jakarta -

Wakil Ketua MPR RI Hidayat Nur Wahid (HNW)mengajak generasi milenial tidak meninggalkan spirit kepahlawanan sekalipun sedang berada di dalam kondisi pandemi COVID-19. Menurutnya, satu abad yang lalu Indonesia juga pernah diserang pandemi bernama flu Spanyol.

HNW menuturkan berdasarkan data Burgerlijke Geneeskundige Dienst/BGD pada zaman kolonial, flu tersebut menewaskan lebih dari satu juta orang di Hindia Belanda. Dalam bayangan pandemi dan perjuangan lepas dari penjajahan Belanda, para pemuda masih memaksimalkan potensinya.

"Mereka menghimpun diri dalam wadah Persatuan Indonesia, menghadirkan Kongres Pemuda Indonesia dan Kongres Perempuan Indonesia. Kedua kongres itu merupakan pilar penting menuju kemerdekaan Indonesia yang kemudian digawangi oleh BPUPKI, Panitia Sembilan, dan PPKI," ujar HNW dalam keterangannya, Rabu (10/11/2021).

Dia mengungkapkan para pemuda dengan tokoh sentral Bung Tomo terus melanjutkan peran itu. Mereka termotivasi oleh Resolusi Jihad KH Hasyim Asyari (22/10/1945) yang menyemangati arek-arek Suroboyo untuk menyelamatkan Indonesia dari kembalinya penjajah Belanda. Peristiwa heroik tanggal 10 November 1945 itu pun oleh Presiden Soekarno melalui Keppres 316/1959 ditetapkan sebagai Hari Pahlawan.

"Mereka memberi keteladanan nyata, menjadi pahlawan bangsa dalam momen penuh tantangan. Yaitu, mempersiapkan, merebut dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia, justru saat mereka bertemu dengan kondisi pandemi Flu Spanyol dan penjajahan Belanda," jelasnya.

"Oleh karena itu, pandemi COVID-19 dan kekhawatiran terjadinya neo-kolonialisme, mestinya bisa menghadirkan spirit para pahlawan dari kalangan pemuda (generasi milenial) yang menyelamatkan Indonesia. Dan membawa Indonesia menuju kejayaannya pada momen 1 Abad Kemerdekaan di tahun 2045 nanti," imbuhnya saat memberikan sambutan pada Peringatan Hari Pahlawan dan Launching Lomba Pidato Biografi Tokoh Bangsa Tingkat Nasional Fraksi PKS DPR-RI, Selasa (9/11).

Lebih lanjut, Wakil Ketua Majelis Syura PKS ini mengapresiasi kegiatan tahunan dengan tema kepahlawanan yang diselenggarakan oleh PKS. Dia menilai apa yang dilakukan PKS seharusnya menjadi contoh yang perlu dilakukan oleh partai politik.

Menurutnya, Parpol tidak seharusnya hanya sekedar berkegiatan mencari kekuasaan dan berkompetisi melalui Pemilu. Namun juga serius melakukan peran edukasi dan advokasi dengan menghadirkan semangat kebangsaan yang merujuk pada aktivitas keteladanan dan kepahlawanan para tokoh bangsa.

"Bagi PKS kegiatan ini juga penting untuk membuktikan identitasnya yang menerima dan menjadi bagian dari keberagaman sesuai dengan semboyan Bhinneka Tunggal Ika. Dengan cara ini PKS menghadirkan 8 tokoh agar para Pemuda menginternalisasi keteladanan mereka dengan mengikuti lomba pidato biografi tokoh bangsa. Tokoh tersebut di antaranya, Ir. Soekarno, Mohamad Hatta, Jenderal Sudirman, KH. Ahmad Dahlan, KH. Hasyim Asyari, Cut Nyak Dien, RA Kartini, dan Rahmah El-Yunusiyyah," jekasnya.

Pemilihan para tokoh untuk dipelajari dan dipidatokan biografinya, kata dia, menunjukkan sebagai partai Islam, PKS mendorong semangat keislaman, juga semangat kebangsaan, cinta Indonesia dan perjuangan para Pahlawan, hingga penghormatan dan pemberdayaan perempuan.

"Sikap kepahlawanan bagi PKS adalah meneladani spirit para Pahlawan Bangsa. Dengan mengaktualisasi untuk menghadirkan kontribusi dan inspirasi bagi kemajuan kemanusiaan, memberi manfaat yang nyata pada kehidupan kemanusiaan, berbangsa dan bernegara, sekarang dan yang akan datang, terlepas dari sudah diakui atau belum diakui oleh negara," ungkapnya.

"Oleh karena itu PKS mengakui dan mengusulkan agar Rahmah El-Yunusiyyah yang memperjuangkan pendidikan dan lembaga Pendidikan khusus bagi Perempuan, sehingga menginspirasi Universitas Al Azhar di Kairo untuk mendirikan Fakultas khusus untuk Perempuan, agar Pemerintah menganugerahi gelar Pahlawan Nasional juga," pungkasnya.

(akd/ega)