HNW Ajak Masyarakat Teladani Sikap Kerukunan Beragama Para Pahlawan

Inkana Putri - detikNews
Senin, 08 Nov 2021 17:55 WIB
Hidayat Nur Wahid (Jefrie Nandy Satria/detikcom)
Foto: Hidayat Nur Wahid (Jefrie Nandy Satria/detikcom)
Jakarta -

Wakil Ketua MPR Hidayat Nur Wahid (HNW) mengajak masyarakat untuk meneladani sikap kerukunan beragama para pahlawan bangsa. Mengingat sikap kerukunan mereka telah menghasilkan berbagai kesepakatan seperti Piagam Jakarta, Pancasila dan NKRI dalam semangat Bhinneka Tunggal Ika.

Terkait hal ini, HNW juga menginginkan agar antarumat beragama bergotong-royong memperkuat paham dan praktik kerukunan beragama. Terlebih hal tersebut kerap menjadi pilar dalam menyelesaikan berbagai permasalahan bangsa seperti perpecahbelahan warga, kemunduran nilai religiusitas, kemerosotan moral dan kerusakan lingkungan.

Menurut HNW, upaya untuk melindungi dan mempraktikkan nilai-nilai agama yang baik dan benar perlu dilakukan agar peristiwa seperti pemberontakan Partai Komunis Indonesia (PKI) tidak terulang. Pasalnya, pemberontakan tersebut menjadi puncak kejahatan terhadap bangsa dan negara, yang berawal dari olokan kalangan komunis terhadap nilai-nilai agama.

"Kita bisa mengambil pelajaran dari peristiwa pemberontakan yang dilakukan PKI. Karenanya umat beragama penting waspada dan menyatukan sikap, apabila ada pihak-pihak yang mulai menjadikan agama sebagai bahan olok-olok. Karena begitulah yang awalnya dilakukan oleh para atheis komunis sebelum terjadinya pemberontakan PKI. Olok-olok itu digunakan untuk mendesakralisasi agama dan melemahkan spirit umat beragama dari meyakini kebenaran ajaran agamanya," ujar HNW dalam keterangannya, Senin (8/11/2021).

Hal ini disampaikan dalam Seminar Nasional 'Sosialisasi Kerukunan Antar Umat Beragama dalam Bingkai Pancasila dan UUD 1945' yang digelar oleh MPR, Majelis Ulama Indonesia (MUI), Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ) dan Pusat Studi Islam dan Pancasila (PSIP) UMJ.

Dalam kesempatan tersebut, HNW juga mengingatkan soal pentingnya memupuk dan meningkatkan kerukunan antar umat beragama. Ia menyebut hal ini bisa dilakukan melalui pemahaman terhadap Pancasila dan UUD NRI.

"Ada banyak instrumen yang bisa kita gunakan, yang paling utama tentu pemahaman dan pengamalan yang baik dan benar terhadap Pancasila dan UUD NRI 1945. Sesuai kesepakatan para founding fathers, serta MPR lembaga tertinggi negara yang waktu itu, yang di dalamnya masih ada fraksi TNI/Polri, Utusan Daerah dan Golongan, termasuk dari PDKB dan anggota-anggota MPR dari kalangan non muslim. MPR waktu itu masih sebagai lembaga tertinggi Negara mengamandemen UUD 45 tapi tetap menempatkan agama dalam posisi yang sangat dipentingkan baik dalam Pancasila maupun dalam UUD NRI 1945 (Pasal 28 E,I, J, Pasal 29 ayat 1 dan ayat 2, serta Pasal 31 ayat 3 dan ayat 5)," jelasnya.

HNW menambahkan untuk memperkuat kerukunan umat beragama, hal ini dapat dimulai dengan memperkokoh kerukunan internal umat beragama. Salah satunya dengan tidak lagi mengungkit dan menyebarkan paham yang telah disepakati di internal agama. Pasalnya, hal tersebut dapat meresahkan dan memecah belah internal umat beragama. Padahal, kata HNW, kerukunan antar umat sulit dihadirkan jika di dalam internal tersebut tidak ada kerukunan atau toleransi.

Selain itu, menguatkan kerukunan antar umat beragama juga dapat dilakukan dengan menghadang ideologi yang membahayakan agama dan NKRI. Umat beragama juga dapat bersatu dan ikut menyelesaikan berbagai permasalahan bangsa, termasuk mengkritisi beberapa kebijakan yang mengabaikan peran agama.

"Misalnya, bagaimana umat beragama bersama-sama mengkoreksi Peta Jalan Kemendikbud Nasional 2020-2035 dari yang sama sekali tidak menyebut frasa Agama. Itu salah satu contoh bagaimana umat beragama, melalui ormas agama, membantu menyelesaikan masalah bangsa dan mengoreksi hal-hal yang tidak sesuai dengan Pancasila dan UUD NRI 1945," ujarnya.

Tak hanya itu, HNW mengatakan kondisi pandemi COVID-19 juga bisa menjadi sarana untuk memperkokoh umat beragama. Adapun hal telah dilakukan oleh sejumlah Ormas Islam dan partai politik Islam yang membantu umat beragama dalam melawan pandemi.

"Kami, tanpa mempertimbangkan latar belakang keagamaan, melakukan desinfeksi untuk sejumlah rumah ibadah dari berbagai agama seperti masjid, musala, gereja dan vihara. Dan dengan tidak membedakan latar agama, kami membantu vaksinasi gratis kepada warga dengan latar agama yang berbeda-beda. Alhamdulillah mereka menerima kehadiran dan pelayanan kami. Hal seperti ini, tentunya juga dilakukan oleh ormas agama lain, tidak hanya Islam," ujarnya.

HNW mengatakan upaya-upaya tersebut perlu dilakukan dan diwariskan kepada penerus bangsa, khususnya generasi muda. Mengingat merekalah yang akan mewarisi Indonesia Emas di tahun mendatang.

"Dan dengan semangat kerukunan umat beragama baik internal maupun antar umat beragama, maka kesepakatan kita sebagai warga bangsa bahwa kita menjadi satu nusa, satu bangsa dan satu bahasa Indonesia yang telah diwariskan oleh para pemuda dan pahlawan bangsa dari latar agama yang beragam, selalu dapat kita teladani, praktekkan dan wariskan kepada generasi milenial, generasi Z, dan generasi yang sekarang mengisi kampus-kampus, yang nanti akan mewarisi Indonesia Emas, saat peringatan 1 abad Indonesia Merdeka," pungkasnya.

Sebagai informasi, acara tersebut juga menghadirkan sejumlah narasumber antara lain, Ketua MUI Bidang Kerukunan Antar Umat Beragama KH Yusnar Yusuf, Rektor UMJ Dr. Ma'mun Murod Al-Barbasy, dan Ketua Umum Persekutuan Gereja-Gereja Indonesia (PGI) Pdt Gomar Gultom.

(fhs/ega)