Ketua DPRD Merangin Malu Anggota Kena Skandal VCS: Mencoreng Wakil Rakyat!

Ferdi Almunanda - detikNews
Jumat, 12 Nov 2021 13:17 WIB
ilustrasi smartphone
Ilustrasi ponsel (Foto: Unspslah)
Jambi -

Rekaman video call sex (VCS) oknum DPRD Merangin Jambi berinisial AT bersama seorang wanita viral di media sosial (medsos). VCS berdurasi 2 menit 25 detik itu diakui AT dibuat untuk menjebaknya terkait dengan pemerasan.

Hal itu disampaikan AT kepada pimpinan DPRD Merangin. AT telah dimintai keterangan pimpinan DPRD Merangin setelah rekaman VCS tersebut beredar.

"Begini, yang bersangkutan ini sudah kita panggil, di situ sudah kita tanyakan, dia (AT) telah mengakui itu benar dirinya. Akan tetapi yang bersangkutan sebut dirinya merasa dijebak untuk kemudian dilakukan pemerasan. Itu berdasarkan pengakuan oknum ini," kata Ketua DPRD Merangin Jambi Herman Efendi kepada detikcom, Jumat (12/11/2021).

AT mengaku mengenal wanita yang menjadi lawan VCS-nya itu dari media sosial yang kemudian berlanjut ke pesan messenger. Kala itu AT diajak dilakukan video call dan kemudian berlanjut hingga sampai ke VCS.

"Kalau pengakuannya oknum itu ya seperti itu, kenal lalu lanjut di messenger, sampai akhirnya diajak video call dan kemudian lanjut sampai ke video call yang tidak senonoh gitu. Habis melakukannya, lalu tiba-tiba video itu tersebar di medsos, yang sebarkannya itu adalah akun Facebook dari perempuan yang dikenalnya atas nama Neng Ayu," katanya.

Herman pun menduga pemerasan bermodus VCS dilakukan oleh sindikat. "Saya rasa pengakuan dari yang bersangkutan ini juga sudah jelas, sepertinya ini kayak sindikat begitu yang sengaja untuk cara pemerasan," ujar Herman.

Dugaan pemerasan terhadap AT diduga banyak dilakukan dengan menargetkan korban para pejabat. Namun Herman menyerahkan pengusutan kasus tersebut kepada kepolisian.

"Yang sebarkan video itu kan pertama kali dari akun atas nama Neng Ayu itu. Itu dari pengakuan yang bersangkutan. Jika benar kata yang bersangkutan diperas, saya rasa polisilah yang dapat menindaknya, dan juga polisilah yang dapat melacak siapa di balik akun yang menyebarkannya itu, dan motifnya apa," sebut Herman.

Herman menyebut tak ada kejanggalan dan aneh dalam pribadi AT selama menjadi anggota Dewan. Namun dia menilai skandal beredarnya rekaman VSC AT mencoreng citra DPRD Merangin.

"Yang bersangkutan ini kan baru terpilih sebagai anggota DPRD, ini baru periode pertamanya. Selama dia menjabat, saya tidak pernah melihat ada kejanggalan, normatif saja atas tingkah lakunya," katanya.

"Namun, dengan adanya video yang viral itu, terus terang kita juga merasa malu, karena sangat mencoreng. Sebagai wakil rakyat, seharusnya yang bersangkutan mencontohkan yang baik namun malah sebaliknya," tambah Herman.

Simak berita selengkapnya di halaman selanjutnya.

Lihat juga Video: Detik-detik Penangkapan Sopir Angkot yang Tabrak Mati Satpam

[Gambas:Video 20detik]



Sebagai pimpinan DPRD Merangin Jambi, Herman juga sudah melaporkan perbuatan oknum itu ke bagian Badan Kehormatan (BK) DPRD Merangin. AT akan dipanggil untuk memberikan klarifikasi.

Rekaman VCS Anggota DPRD Merangin Viral

Sebelumnya, rekaman VCS yang dilakukan oleh seorang oknum anggota DPRD Kabupaten Merangin berinisial AT bersama wanita viral di medsos. Video tak senonoh Dewan itu kini tersebar luas di dunia maya.

"Iya kejadian adanya video viral yang dilakukan oknum DPRD di Kabupaten Merangin atas hal yang tidak terpuji dengan melakukan VCS (video call sex) dengan seorang wanita itu adalah benar. Oknum itu juga sudah mengakui juga perbuatannya saat kita panggil untuk klarifikasi," kata Ketua DPRD Merangin Herman Efendi saat dihubungi detikcom.

Oknum berinisial AT dari Fraksi Partai Berkarya itu disebut melakukan perbuatan VCS bersama wanita itu pada 27 Oktober 2021. Oknum itu juga mengaku mengenal wanita tersebut dari salah satu akun media sosial Facebook hingga akhirnya melakukan VCS bersama

Herman juga menyampaikan permohonan maaf terhadap masyarakat atas video viral yang tidak senonoh yang dilakukan oknum DPRD Merangin itu. Herman berharap perbuatan ini tidak terulang kembali.

(jbr/idh)