Apresiasi Tinggi Polda Metro kepada Masyarakat Pahlawan Keamanan

Tim detikcom - detikNews
Rabu, 10 Nov 2021 20:20 WIB
Apresiasi Polda Metro kepada masyarakat di peringatan Hari Pahlawan
Apresiasi Polda Metro kepada masyarakat di peringatan Hari Pahlawan (Dok.Polda Metro Jaya)
Jakarta -

Polda Metro Jaya menyampaikan apresiasi kepada 3 orang masyarakat dalam peringatan Hari Pahlawan 10 November 2021. Polda Metro Jaya menjuluki ketiganya sebagai pahlawan ketertiban dan keamanan.

Apresiasi itu disampaikan dalam videotron di seluruh kawasan DKI Jakarta, Bekasi, Depok, hingga Tangerang. Ketiga sosok masyarakat (tak) biasa ini adalah korban pinjol ilegal, jambret, dan tawuran.

Sosok pertama ialah Ibu Ani, korban pinjaman online (pinjol) ilegal. Atas keberaniannya, melaporkan pinjol ilegal ini, Polda Metro Jaya akhirnya mengungkap para pelaku pinjol yang meresahkan warga.

Ani adalah salah satu dari sekian banyak korban pinjol. Ia bersama korban lainnya memberanikan diri melawan pinjol dengan melaporkannya ke Polda Metro Jaya hingga para pelaku tertangkap polisi.

"Akhirnya kita lapor ke polda dan jajaran kepolisian turun langsung, pokoknya gerceplah (gerak cepat). Emak-emak jangan takut, jangan kalah sama pinjol ilegal. Sekarang kalau diteror jangan pernah takut, Polda Metro Jaya sudah membuka layanan untuk kita emak-emak. Tapi, korban harus mau ikut kerja sama, jangan polisinya aja suruh kerja sama, korbannya ga ada yang lapor gimana bisa itu pinjol ilegal pada mati, kita yang harus matiin," seru Ani.

Apresiasi Polda Metro kepada masyarakat di peringatan Hari PahlawanSuwondo menjadi pahlawan bagi masyarakat karena melaporkan tawuran. (Dok. Polda Metro Jaya)

Sosok kedua ialah Bapak Defri, seorang pesepeda yang mengalami penjambretan saat berkendara di Casablanca, Jaksel. Defri langsung melaporkan kejadian ini kepada polisi.

"Siang itu juga saya laporlah ke polsek terdekat. Diterima dengan baik. Teman-teman saya yang melihat saya dijambret, juga viral kan di medsos. Saya dikabarkan malam itu juga tertangkap salah satu penjambret yang membawa motornya. Tadinya banyak penjambretan, karena banyak yang lapor akhirnya, sekarang lebih aman lagi," kata Devri.

Berikutnya adalah Suwando, warga di kawasan Pariaman, Jakarta Pusat, yang merasa terganggu oleh aksi tawuran yang tidak pernah terjadi sebelumnya di kawasan tempat tinggalnya tersebut.

"Seumur-umur pariaman baru tawuran. Alhamdulillah kita kontak sama pihak polsek, begitu kita kontak dan laporkan alhamdulillah segera tiba dan di selesaikan," ucap Suwondo.

Kabid Humas Polda Metro Jaya Brigjen Yusri Yunus mengatakan Ani, Defri, dan Suwondo adalah contoh ketauladanan masyarakat. Ketiganya memilih melapor polisi atas kejahatan yang menimpanya.

"Ani, Defri, dan Suwondo ialah contoh keteladanan warga, yang tidak tinggal diam melihat diri dan lingkungan yang menjadi tidak aman dan tertib akibat oknum-oknum pelaku kejahatan. Mereka memilih untuk melaporkan kejadian yang menimpa mereka, dengan memberikan berbagai keterangan, yang mempermudah kerja aparat untuk mengusut dan membongkar kasus yang mereka alami," ujar Yusri.

"Pinjol, jambret adalah kejahatan yang saat ini sedang marak terjadi. Dari kasus-kasus yang ada tersebut sebagian sudah terungkap, berkat kerja sama dari masyarakat yang memberikan laporan baik secara langsung maupun melalui media sosial," tambah Yusri.

Apresiasi Polda Metro kepada masyarakat di peringatan Hari PahlawanDefri disebut sebagai pahlawan karena melaporkan aksi jambret yang menimpanya. (Dok. Polda Metro Jaya)

Di momentum Hari Pahlawan ini, polisi justru mengapresiasi masyarakat yang menjadi pahlawan bagi masyarakat sendiri.

"Di Hari Pahlawan ini, kami ingin menyampaikan bahwa masyarakatlah yang telah menjadi pahlawan bagi masyarakat sendiri, dengan terus bergerak bersama dan melaporkan berbagai kejadian. Kami berharap akan terus hadir pahlawan-pahlawan lain, yang tidak ragu berkomunikasi dengan polisi, agar bersama menjadi pahlawan," imbuh Yusri.

Secara terpisah, pengamat sosial Universitas Indonesia, Devie Rahmawati, menyampaikan bahwa di Amerika Serikat, Australia, bahkan Nigeria, interaksi dan komunikasi intensif antara polisi dan publik, telah membantu peningkatan kamtibmas.

"Laporan dari publik akan membantu kepolisian dalam mencegah dan mengungkapkan kejahatan. Penelitian di Amerika Serikat terhadap lebih dari 1221 aparat, didapati bahwa lebih dari separuh mengaku, mereka menjadi lebih cepat mengungkapkan kejahatan. Upaya mengoptimalkan komunikasi terbuka dengan publik, dapat dilakukan dengan membuka saluran di berbagai media, termasuk media sosial," ujar Devie.

"Studi di Barat (2018) menyebutkan bahwa penggunaan media sosial telah membuat masyarakat merasa dekat dengan polisi, karena mereka dapat memperoleh banyak informasi dari gambar dan narasi yang dituliskan, sehingga secara tidak langsung mendapatkan informasi terkini tentang kondisi sosial dan juga merasa nyaman untuk menyampaikan kasus-kasus serupa yang mungkin dialami masyarakat, sehingga situasi keamanan dapat lebih optimal ditingkatkan," tambah Devie, yang merupakan pengajar dan peneliti tetap Program Vokasi UI.

(mea/fjp)