RJ Lino soal Kontrak QCC Diteken Sebelum Proses Selesai: Itu Seremonial

Zunita Putri - detikNews
Jumat, 05 Nov 2021 19:01 WIB

Hakim Cecar RJ Lino

Hakim ketua Rosmina pun langsung mengambil alih pertanyaan jaksa. Dia mencecar RJ Lino terkait kontrak seremonial yang disebut itu. Hakim bertanya apa beda kontrak asli dengan kontrak seremonial.

"Itu seremonial, tapi sudah ditandatangani kontraknya?" tanya hakim Rosmina.

"Kalau dibilang kontrak, kontrak itu kan mesti lengkap, ya," jawab Lino.

"Nah, apa namanya itu, bagaimana, saya tanya ya apa itu namanya itu yang ditandatangani?" tanya hakim Rosmina lagi.

"Semacam agreement," jawab Lino.

Rosmina pun bertanya isi dari kontrak seremonial itu. Menurut RJ Lino, itu hanya tanda tangan pada lembar terakhir, namun dia tidak menjelaskan rinci apa maksud lembar terakhir.

"Lembar terakhir apa?" cecar Rosmina.

"Saya nggak tahu. Saya sendiri nggak ngikutin, dan saya nggak mengetahui proses seperti apa. Yang saya hanya kasih pesan ke direktur teknik saat itu, ini kontrak seremonial dalam rangka publikasi," ucap Lino.

Hakim pun ragu terhadap pernyataan Lino. Dia terus mencecar Lino terkait pemahaman perjanjian kontrak.

"Tapi Saudara bisa memahami mana yang harus lebih dahulu? Sepakat dulu baru membuat perjanjian atau perjanjian kemudian proses kita jalani?" kata hakim Rosmina.

"Dari pengalaman saya, hal-hal itu seperti biasa, karena kontrak ketika kedua belah sepakat. Jadi kontrak baru berlaku sesuai aturan, di mana pun Anda berada. Itu baru berlaku kalau kedua belah pihak sepakat, apabila kedua pihak sepakat setelah selesaikan proses negosiasi," jawab Lino.

"Nah lalu buat apa tanda tangan kalau belum sepakat bendanya apa, jenisnya apa, nanti kita dikibuli. Jadi begitu ya pemahaman Terdakwa seperti itu ya," timpal hakim Rosmina.

Dalam dakwaan jaksa, mantan Dirut PT Pelindo itu disebut memerintahkan anak buahnya menandatangani kontrak pengadaan tiga unit QCC dengan perusahaan Wuxi Hua Dong Heavy Machinery Science and Technology Group Co Ltd (HDHM). Jaksa menyebut kontrak ditandatangani saat proses penunjukan HDHM belum selesai.

"Kemudian Terdakwa memerintahkan Ferialdy Noerlan untuk menandatangani kontrak pengadaan tiga unit QCC dengan HDHM, atas perintah Terdakwa tersebut, Ferialdy Noerlan meminta Wahyu Hardiyanto untuk mempersiapkan format penandatanganan kontrak dengan HDHM," kata jaksa KPK di Pengadilan Tipikor Jakarta, Jalan Bungur Besar Raya, Senin (9/8).

"Dan atas sepengetahuan dari Terdakwa, Ferialdy Noerlan bersama Weng Yaogen menandatangani lembar penandatanganan kontrak, padahal proses penunjukan HDHM oleh PT Pelindo II belum sepenuhnya selesai," lanjut jaksa.


(zap/mae)