Ketua DPD Ajak Pengusaha Cermati Dinamika Politik dan Ekonomi Global

Angga Laraspati - detikNews
Rabu, 27 Okt 2021 18:01 WIB
Ketua DPD Ajak Pengusaha Cermati Dinamika Politik dan Ekonomi Global
Foto: Dok. DPD RI
Jakarta -

Ketua DPD RI AA LaNyalla Mahmud Mattalitti mengajak para pengusaha untuk membaca dan mencermati dinamika politik dan ekonomi global. Menurutnya, pengusaha tidak boleh kaget dengan pola perubahan besar dunia bisnis yang sangat cepat.

"Banyak pelaku usaha tidak siap dengan perubahan yang terjadi. Maka kalau mau survive, ada satu prinsip yang harus dijalankan yaitu adaptasi. Mulai hari ini, semua pengusaha harus mulai memikirkan roadmap adaptasi. Wajib selalu membaca dan mengikuti perkembangan pola bisnis dengan cermat. Harus bisa melihat mana yang hanya sekedar tren singkat, dan mana yang akan menjadi pola baru," kata LaNyalla dalam keterangan tertulis, Rabu (27/10/2021).

Hal itu disampaikan oleh LaNyalla saat menjadi pembicara kunci dalam Webinar Business Outlook 2022 'Peran Kadin dalam Menghadapi Dinamika Ekonomi dan Politik Global', hari ini. Acara itu merupakan rangkaian Pelantikan KADIN Bojonegoro 2021-2026.

Dijelaskan LaNyalla, sejak tahun 2015, jauh sebelum terjadi pandemi COVID-19, tren bisnis dan perekonomian global sebenarnya sudah berubah. Saat itu di Indonesia telah terjadi perubahan pola kerja, proses bisnis, etika kerja dan SOP dalam bekerja.

Perubahan demografi kelompok pekerja dan kemajuan teknologi menumbuhkan kelompok profesional baru yang disebut 'Digital Nomad', ada juga istilah Virtual Office, Angelic Investor, Start Up, Unicorn dan lain sebagainya yang lintas batas dan ruang karena perkembangan teknologi 5G.

"Istilah-istilah tersebut mungkin asing di telinga pebisnis model lama. Karena pebisnis lama atau investor di dunia fisik seperti saya masih berpedoman pada basis teritorial. Sehingga masih berkutat dengan istilah-istilah Tata Ruang dan Tata Wilayah, Kawasan Ekonomi Khusus, Kawasan 3T, ZEE, dan sejenisnya," ujar tutur LaNyalla.

Senator asal Jawa Timur itu mengatakan dengan berkembangnya Digital Nomad, akibatnya landscape geopolitik juga berubah atas tuntutan perubahan aktivitas ekonomi. Dari situlah tumbuh industri-industri baru yang valuasinya bisa lebih besar dari industri lama yang memiliki aset besar dan karyawan ribuan.

Hal tersebut juga diikuti lahirnya beberapa industri dengan small team, tetapi sangat dihargai. Seperti industri kreatif perfilman dan animasi, konsultan riset, social media dan big data analisis, auditor, public relation, writer hingga web designer.

"Fenomena ini akan terus berkembang dan mengalami percepatan akibat revolusi teknologi," sambungnya.

Selain mencermati perkembangan teknologi, LaNyalla juga mengingatkan soal bonus demografi di Indonesia yang puncaknya diprediksi pada tahun 2045, dengan penduduk usia produktif (berusia 15-64 tahun) lebih banyak dibandingkan penduduk dengan usia yang tidak produktif.