Waket MPR Ajak Institusi Pendidikan Bentuk Generasi Muda yang Moderat

Inkana Izatifiqa R Putri - detikNews
Senin, 18 Okt 2021 22:58 WIB
Wakil Ketua MPR Ahmad Basarah
Foto: MPR
Jakarta -

Wakil Ketua MPR RI Ahmad Basarah menghadiri webinar 'Pancasila dan Penyemaian Spirit Moderasi Beragama di Kalangan Pelajar dan Mahasiswa di Indonesia' yang digelar Universitas Paramadina dan BPIP, Senin (18/10). Ia membahas soal kontribusi pemikiran almarhum Prof. Dr. Nurcholish Madjid dalam moderasi beragama di Indonesia. Menurutnya, pemikiran guru bangsa yang akrab dipanggil Cak Nur ini masih relevan dengan kondisi saat ini.

"Cak Nur adalah salah seorang guru bangsa. Beliau bukan hanya guru untuk kalangan Islam, tapi juga buat bangsa. Saya adalah aktivis mahasiswa dari kelompok nasionalis, tapi saya dan kawan-kawan Kelompok Cipayung lainnya (HMI, PMKRI, GMNI, PMII dan PMII) berguru pada almarhum Cak Nur semasa hidupnya," ujar Basarah dalam keterangannya, Senin (18/10/2021).

Dalam acara tersebut, Basarah mengapresiasi Universitas Paramadina yang telah konsisten menyemai pemikiran Cak Nur. Sebab, kata Basarah, generasi muda penting untuk menjaga moderasi agama dan kesukuan.

"Rektor dan seluruh civitas akademika Universitas Paramadina tentu punya kewajiban moral untuk membentuk generasi muda yang moderat, yang cocok dengan ke-Indonesiaan kita. Calon pemimpin masa depan harus terus menjaga moderasi agama dan moderasi kesukuan," katanya.

Ketua Fraksi PDI Perjuangan ini menambahkan teologi inklusif yang disemai Cak Nur melalui Yayasan Paramadina penting untuk dilestarikan. Terlebih, menurut Basarah, Cak Nur merupakan tokoh pembaruan pemikiran Islam di Indonesia yang populer dengan konsep 'Universalisme Islam'.

"Konsep Universalisme Islam yang selalu disuarakan Cak Nur itu sangat mengakomodasi kebhinekaan bangsa Indonesia. Di dalam konsep ini termuat seruan agar semua umat beragama, terutama umat Islam sebagai mayoritas di Indonesia, bersikap toleran, menjunjung perdamaian, menghargai keberagaman, serta mengedepankan kepentingan bangsa dan negara. Inilah moderasi beragama itu," ungkapnya.

Soal moderasi, Sekretaris Dewan Penasehat Baitul Muslimin Indonesia ini menjelaskan dalam bahasa Arab moderasi dikenal dengan kata 'wasath' atau 'wassathiyyah', yang berarti tengah-tengah, adil, dan berimbang. Dari kata tersebut, kata Basarah, moderasi beragama dipahami sebagai cara beragama seseorang yang memilih jalan tengah, tidak ekstrem atau tidak berlebihan saat menjalani ajaran agamanya.

Dalam titik tertentu, lanjut Basarah, moderasi pemikiran Cak Nur dapat dikatakan sejalan dengan moderasi pemikiran Ir. Soekarno, serta para pendiri bangsa lainnya. Hal ini terlihat dari jiwa besar para pendiri bangsa saat merumuskan Pancasila. Dalam hal ini, mereka bersedia merubah sila pertama dari yang awalnya berbunyi 'Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya' menjadi 'Ketuhanan Yang Maha Esa'.

"Jika frasa tujuh kata tersebut tetap dipertahankan, mereka yang bukan beragama Islam mempertanyakan, kenapa kami non muslim tidak mendapat tempat dalam dasar negara Pancasila dan Pembukaan UUD 1945 yang menjadi konstitusi kemerdekaan bangsa Indonesia? Mengapa kami tidak diberi tempat yang sama untuk untuk beribadah sesuai keyakinan kami? Maka, ketika para ulama yang ikut merumuskan Pancasila berlapang dada menghapus tujuh kata yang dipersoalkan itu demi menjaga keutuhan dan persatuan NKRI yang baru satu hari diproklamirkan, di situlah sikap moderat mereka dalam beragama sangat terlihat. Sikap moderat para alim ulama pendiri bangsa itu harus ditiru oleh generasi sekarang," katanya.

Untuk itu, Basarah berharap pemikiran Cak Nur tentang kesadaran kebhinekaan Indonesia dapat dilanjutkan oleh generasi muda. Berbeda dengan para pemuda yang terlibat dalam sumpah pemuda dan perlawanan penjajah, pemuda saat ini dapat berkontribusi dengan mempertahankan perjuangan tersebut dari ancaman disintegrasi dan deideologisasi Pancasila.

Di sisi lain, Rektor Universitas Paramadina, Prof. Dr. Didik J. Rachbini menyampaikan sejak mendirikan Universitas Paramadina, terdapat tiga pilar yang telah ditanamkan Cak Nur. Pilar ini meliputi, keislaman, keindonesiaan, dan kemodernan yang kini menjadi fondasi spiritual Universitas Paramadina.

"Sekarang ada 4.000 mahasiswa belajar di Universitas Paramadina. Kepada mereka sejak pertama kuliah sampai selesai selalu diperdengarkan keislaman yang sejuk, moderat, juga menghormati teman-teman mereka yang berbeda agama. Selama belajar di Paramadina, mereka harus mempraktekkan moderasi beragama yang semua itu sesuai dengan ideologi Pancasila," pungkasnya.

(akn/ega)