Media Internasional Soroti Suara Azan Jakarta: Ketakwaan atau Kebisingan?

Tim detikcom - detikNews
Kamis, 14 Okt 2021 11:02 WIB
Pengeras suara azan
Ilustrasi: Pengeras suara azan (via Deutsche Welle)

Melaporkan masalah azan bikin celaka

Pada 2012, Wakil Presiden ke-11 RI Boediono pernah menuai kecaman ketika dia menyarankan agar volume azan dibatasi. Lima tahun lalu, ada ratusan orang membakar belasan vihara di Tanjung Balai, Sumatera Utara, itu terjadi setelah warga bernama Meiliana mengkritik volume azan. Meiliana dipenjara 18 bulan pada 2018.

Mei lalu, gerombolan yang marah menggeruduk perumahan mewah di Jakarta setelah seorang penduduk meminta masjid lokal mengarahkan pengeras suaranya menjauh dari rumahnya. Polisi dan tentara mengamankan situasi, seorang pria meminta maaf via media sosial untuk memadamkan kemarahan.

AFP mengutip pandangan pengamat dari UIN Syarif Hidayatullah, Ali Munhanif. Warga Indonesia biasanya marah terhadap komplain soal pengeras suara masjid yang biasa dipakai untuk azan. Soalnya, mereka salah paham, mereka mengira pengumuman via speaker masjid adalah syarat keagamaan ketimbang ekspresi budaya.

Adapun Rina yang terganggu kesehatannya gara-gara speaker masjid memutuskan tidak menyuarakan keberatannya.

"Kasus seorang ibu yang dipenjara (Meiliana) menunjukkan kepada kami bahwa melaporkan hal itu tidak akan berguna kecuali membawa celaka," kata Rina. "Saya nggak punya pilihan kecuali hidup dengan itu, atau menjual rumah saya," pungkasnya.


(dnu/tor)